Prof. Iskandar, S.Ag.,M.Pd.,M.S.I.,M.H.,Ph.D
Guru Besar Psikologi Pendidikan UIN Sutha Jambi,_ Founder Ruhiologi
Jambi — Ramai diberitakan, tayangan sebuah program televisi yang menyorot kehidupan pesantren memantik kritik tajam dari berbagai kalangan. Tayangan itu dianggap tidak adil, bahkan cenderung menstigma pesantren sebagai lembaga yang tertinggal dan bermasalah.
Padahal, di balik dinding-dinding sederhana pondok pesantren, tersembunyi ruh keilmuan, keikhlasan, dan peradaban spiritual bangsa Indonesia.
Dalam perspektif Ruhiologi, liputan yang mengabaikan nilai ruhani dan konteks historis pesantren adalah bentuk “hilangnya ruh etik dalam jurnalisme”.
Sebab, setiap narasi media sejatinya bukan hanya produk informasi, tetapi juga produk kesadaran.
Ketika kesadaran itu kering dari nilai ruhani dan empati, berita yang lahir pun menjadi kering dari kebenaran sejati.
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’ [17]: 36)
Ayat ini menjadi peringatan moral bagi jurnalis dan media untuk tidak tergesa menilai dan menyiarkan sesuatu tanpa tabayyun dan empati ruhani.
Pesantren: Pusat Pendidikan Ruhani dan Peradaban
Pesantren telah terbukti menjadi benteng moral bangsa sejak masa penjajahan hingga kini.
Dari pesantren lahir ulama, guru bangsa, pejuang kemerdekaan, dan pemimpin berjiwa sosial.
Filosofi pendidikannya berakar pada spiritualitas (tazkiyah an-nafs) dan adab (akhlaq al-karimah), bukan sekadar transfer ilmu.
Dalam bahasa Ruhiologi, pesantren adalah institusi pendidikan ruhani yang menghidupkan kesadaran ruh (Ruhiology Quotient) — yaitu kecerdasan memahami makna hidup, tanggung jawab, dan keikhlasan dalam pengabdian.
Inilah yang membedakannya dari model pendidikan materialistik yang menekankan aspek kognitif tanpa kesadaran ruhani.
“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”(QS. Al-Mujadilah [58]: 11)
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Nilai inilah yang hidup di pesantren: mencari ilmu bukan demi dunia, tapi demi Allah. Belajar bukan sekadar mengasah akal, tapi mendidik ruh untuk tunduk dan berbakti.
Jurnalisme Tanpa Ruh adalah Jurnalisme yang Buta Nilai
Liputan yang menyorot pesantren secara sepihak mencerminkan defisit kesadaran etik dan ruhani dalam media modern.
Dalam perspektif Ruhiologi, kesalahan utama bukan hanya pada konten yang tidak berimbang, tetapi pada cara pandang yang kehilangan ruh empati dan tanggung jawab moral.
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti (tabayyun)…” (QS. Al-Hujurat [49]: 6)
Ayat ini menegaskan etika utama jurnalisme Qur’ani: verifikasi dan kehati-hatian moral.
“Ruh jurnalisme adalah kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan. Ketika media meminggirkan nilai itu, ia kehilangan fungsinya sebagai cermin nurani bangsa,” ujar Prof. Iskandar.
Media seharusnya tidak menjadi “pengadil yang gegabah”, melainkan “pencerah yang beradab”.
Liputan tentang pesantren mesti melihatnya sebagai ekosistem nilai bukan hanya institusi sosial, tapi pusat pendidikan karakter ruhani yang paling otentik di negeri ini.
Restorasi Ruhani dalam Narasi Pesantren
Ruh Pesantren adalah ruh yang membimbing, bukan menghukum.
Ia menanamkan sabar, ikhlas, tawadhu, dan cinta ilmu. Dalam konteks Ruhiologi, pesantren justru menjadi model pendidikan holistik yang menyatukan akal (mind), hati (heart), dan jiwa (soul) serta (spirit) ruh.
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Pendidikan ruhani seperti ini melahirkan Intelektual Berkesadaran Ketuhanan dan tanggung jawab kemanusiaan. Jika pendidikan modern sibuk mencetak manusia pintar, pesantren sibuk mencetak manusia yang berkesadaran dan beradab.
Maka setiap liputan tentang pesantren semestinya memiliki kesadaran ruhani, bukan hanya “sense of news”, tapi “sense of soul & spirit”: melihat cinta di balik kedisiplinan, memahami hikmah di balik kesederhanaan, dan menghormati ruh perjuangan para kiai dan santri.
Pesan Ruhiologis untuk Media dan Publik
Dalam menghadapi arus disinformasi dan framing dangkal, Ruhiologi mengajak media dan publik untuk mengembalikan jurnalisme kepada nilai ruhani dan adab.
- Kembalikan jurnalisme pada ruh kebenaran dan empati.
- Hormati lembaga pesantren sebagai pusat nilai dan kebajikan spiritual bangsa.
- Tanamkan literasi ruhani di ruang publik, bukan sekadar literasi digital.
Menghormati pesantren berarti menghormati perjuangan ruhani para ulama dan guru bangsa yang telah menyalakan cahaya ilmu di tengah gelap zaman.
Pesantren, Cahaya Masa Depan
Menjelang Hari Santri Nasional, momentum ini hendaknya dijadikan sarana untuk memulihkan citra pesantren sebagai pilar peradaban berkesadaran ruhani bangsa.
Pesantren bukan bayangan masa lalu, melainkan cahaya masa depan tempat di mana Ruhiologi dan kemanusiaan bertemu dalam keikhlasan yang hidup.
#Ruhiologi #ProfIskandar #PesantrenUntukBangsa #RestorasiRuhani #HariSantriNasional #LiterasiRuhani #MediaBeradab #JurnalismeEtis #PendidikanBerjiwa






