Prof. Iskandar Nazari Gagas Ruhiologi : Tawarkan Arah Baru Pendidikan Nasional

Di tengah krisis identitas pendidikan dan reduksi spiritualitas dalam proses belajar, Prof. Dr. Iskandar Nazari menyodorkan satu pendekatan yang tak biasa: Ruhiologi. Gagasan Guru Besar Psikologi Pendidikan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Prof. Iskandar menawarkan Ruhiologi sebagai “ruh baru” dalam sistem pendidikan nasional, pendekatan yang menyatukan dimensi akal, hati, dan ruh dalam satu tarikan napas pendidikan yang utuh.

“Selama ini, kita terlalu sibuk mengejar angka, nilai ujian, dan target kompetensi teknis. Tapi kita lupa: pendidikan seharusnya membentuk manusia yang memuliakan kemanusian manusia, bukan hanya mencetak tenaga kerja,” tegas Prof. Iskandar.

Ruhiologi atau Ruhiology Quotient (RQ), adalah konsep kecerdasan yang menempatkan ruh sebagai pusat segala potensi kemanusiaan, bukan sekadar pelengkap moralitas. Berbeda dari spiritualitas Barat yang sekuler, RQ berpijak pada nilai-nilai Qurani dan pengalaman kejiwaan yang transenden. “Ruh adalah energi GodLight yang menghidupkan akal, hati, dan nalar manusia agar terarah menuju nilai-nilai ilahi. Tanpa ruh, kecerdasan mudah disalahgunakan. Dengan ruh, kecerdasan menjadi amanah,” jelasnya.

Dengan nada reflektif dan solusi yang tegas, Prof. Iskandar menyampaikan bahwa pendidikan hari ini tengah menghadapi fragmentasi nilai, krisis karakter, dan kekeringan ruhani. Maka, perlu arah baru yang tak hanya mengejar skor akademik, tapi juga menyentuh fitrah ilahiah peserta didik. Di sinilah Ruhiologi hadir, bukan sekadar pendekatan spiritualistik, melainkan sintesis antara psikologi pendidikan, nilai-nilai Islam, dan epistemologi ruhani warisan kenabian.

“Dalam Ruhiologi, keberhasilan pembelajaran bukan hanya soal lulus ujian, tapi soal bagaimana peserta didik mengenal dirinya, terhubung dengan Tuhannya, dan bermanfaat untuk sesama,” lanjut Prof. Iskandar. Momentum Hari Pendidikan Nasional tahun ini menjadi panggung yang tepat bagi introspeksi nasional. Gagasan Ruhiologi mendorong agar kebijakan pendidikan Indonesia segera berpindah dari pendekatan teknokratis menuju pendekatan holistik dan transformatif. 

“Pendidikan sejati bukan hanya melahirkan SDM unggul, tapi insan paripurna, yang jernih berpikir, bening hatinya, dan luhur tindakannya,” pungkas Prof. Iskandar. “Tanpa ruh, pendidikan kehilangan jiwa. Ruhiologi adalah ikhtiar menghidupkannya kembali.” “Bukan sekadar cerdas, pendidikan harus membuat manusia sadar akan amanah dirinya, memuliakan kemanusian manusia melalui sentuhan energi jiwa GodLight suatu keniscayaan” “Pendidikan bukan hanya soal otak dan tangan, tapi juga soal hati dan ruh.” “Ketika dimensi ruhani diabaikan, pendidikan akan kehilangan jiwa.” “Ruhiologi adalah ikhtiar membumikan nilai-nilai langit dalam ruang kelas.”

 

Prof. Iskandar Nazari Guru Besar Psikologi Pendidikan, UIN STS Jambi Founder Ruhiologi (red)

Sumber: https://rangkumnews.com/04/05/2025/prof-iskandar-nazari-gagas-ruhiologi-tawarkan-arah-baru-pendidikan-nasional/

  • Admin

    Prof. Iskandar Nazari, penemu dan pengembang teori Ruhiology Quotient (RQ), serta pendiri PT.Samudra Inspirasi Ruhiologi. Situs ini menjadi pusat informasi, riset, dan inspirasi seputar Ruhiology, sebuah pendekatan holistik yang memadukan dimensi ruh, intelektual, dan emosional untuk pengembangan diri dan organisasi. Melalui publikasi ilmiah, program pelatihan, dan berbagai sumber daya edukatif, website ini mengajak Anda menjelajahi kedalaman potensi manusia menuju kehidupan yang bermakna dan berdaya.

    Related Posts

    OPEN PRE-ORDER BUKU RUHIOLOGI PARADIGMA BARU PENDIDIKAN HOLISTIK ABAD 21

    🎁 Bonus Pre-Order: Free Webinar Ruhiology Quotient 💰 Harga Spesial: Rp125.000 📅 PO s.d. 17 Oktober 2025 🛒 Pemesanan melalui:  https://samudraruhiologi.com/produk/ruhiologi-paradigma-baru-pendidikan/ https://forms.gle/ib5DLmAjsakWtagC9  Sudah banyak buku tentang pendidikan akal manusia. Namun…

    Pemprov Jambi untuk Teori “Ruhiologi” Prof. Iskandar: Menambal Kekosongan Pendidikan Karakter

      Jambi, Indonesia — Di tengah maraknya isu *krisis karakter* dan perilaku menyimpang di masyarakat, Pemerintah Provinsi Jambi mengambil langkah proaktif dengan mendukung penuh program uji coba (piloting) *Teori Kecerdasan…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Mari Bersama Menyelami Makna Ruhiologi

    Runtuhnya Menara Gading: Patologi Kekerasan Seksual di Dunia Pendidikan dan Urgensi Terapi Holistik Berbasis Kecerdasan Ruhiologi

    • By Admin
    • April 17, 2026
    • 8 views
    Runtuhnya Menara Gading: Patologi Kekerasan Seksual di Dunia Pendidikan dan Urgensi Terapi Holistik Berbasis Kecerdasan Ruhiologi

    Menavigasi Era VUCA dan Jebakan “Jahiliyah Digital”: Mengapa Generasi Z Membutuhkan Ruhiologi?

    • By Admin
    • April 16, 2026
    • 11 views
    Menavigasi Era VUCA dan Jebakan “Jahiliyah Digital”: Mengapa Generasi Z Membutuhkan Ruhiologi?

    Ruhiology Quotient (RQ) sebagai Panglima Inteligensi (IQ, EQ, SQ & AI): Navigasi Transendental dalam Menghadapi Kompleksitas Era Digital

    • By Admin
    • April 9, 2026
    • 44 views
    Ruhiology Quotient (RQ) sebagai Panglima Inteligensi (IQ, EQ, SQ & AI): Navigasi Transendental dalam Menghadapi Kompleksitas Era Digital

    Arsitektur Ketahanan Mental di Atas Sajadah: Analisis Ruhiologi dan Psikofisiologi Paket Psychic Healing Sepertiga Malam

    • By Admin
    • April 8, 2026
    • 21 views
    Arsitektur Ketahanan Mental di Atas Sajadah: Analisis Ruhiologi dan Psikofisiologi Paket Psychic Healing Sepertiga Malam

    Sajadah Healing: Arsitektur Ruhiologi dan Salat Khusyuk dalam Mitigasi Burnout Digital Generasi Z

    • By Admin
    • April 3, 2026
    • 65 views
    Sajadah Healing: Arsitektur Ruhiologi dan Salat Khusyuk dalam Mitigasi Burnout Digital Generasi Z

    Transformasi Epistemologi Kedokteran Berkesadaran Ketuhanan “Perspektif Ruhiologi Transintergtasi Ilmu”

    • By Admin
    • April 2, 2026
    • 98 views
    Transformasi Epistemologi Kedokteran Berkesadaran Ketuhanan “Perspektif Ruhiologi Transintergtasi Ilmu”