Fenomena Berhala Baru di Era Digital: Ketika Teknologi Menjadi Tuhan: “ Perspektif Ruhiologi”

Oleh: Prof. Iskandar, S.Ag., M.Pd., M.S.I., M.H., Ph.D
Guru Besar Psikologi Pendidikan & Founder Ruhiologi

Dulu manusia sujud di depan patung batu, kini manusia menunduk di depan layar kaca. Dulu penyembahan berhala dilakukan di kuil; kini “ritual digital” dilakukan di kamar, di kasur, bahkan di ruang kelas.
Peradaban berubah, tapi hawa nafsu untuk menyembah selain Tuhan tetap sama hanya berganti wujud. Dulu disebut jahiliyah batu, kini disebut jahiliyah digital.
Era Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI) memang membuka babak baru kemanusiaan: serba mudah, cepat, cerdas, dan terkoneksi. Namun di sisi lain, manusia kehilangan ruh kebertuhanan. Kita mulai memperlakukan teknologi bukan lagi sebagai alat, tapi sebagai tuan, bahkan berhala baru.
“Dan mereka menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan (sembahan), agar mereka mencintainya seperti mencintai Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)
Ayat ini seperti menembus zaman — dari penyembahan berhala batu menuju penyembahan berhala algoritma.

Fenomena Berhala Baru: Teknologi Menggantikan Tuhan
Fenomena ini tidak lagi hipotetis; ia sudah nyata di tengah masyarakat kita:
1. Kecanduan Gadget Sejak Dini
Anak-anak kini lebih akrab dengan layar daripada kitab suci.
Data Kementerian Kominfo (2023) menunjukkan bahwa lebih dari 79% anak usia 9–17 tahun di Indonesia telah memiliki ponsel pribadi, sebagian besar tanpa pendampingan orang tua.
Psikolog anak, Santi, & Putri (2024) menemukan bahwa penggunaan gawai lebih dari 4 jam per hari berpengaruh signifikan terhadap gangguan tidur, agresivitas, dan penurunan empati sosial pada anak.
Kita bisa menyaksikannya sendiri: ruang keluarga yang dulu penuh obrolan kini senyap, masing-masing sibuk dengan dunianya di layar kecil.
2. Fenomena Judi Online dan “Kuil Digital”
Judi online kini bukan sekadar masalah ekonomi, tapi spiritual.
Riset Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK, 2024) mencatat lebih dari 4 juta rekening terindikasi transaksi judi online.
Ironisnya, banyak pelakunya dari kalangan pelajar dan mahasiswa.
Mereka mencari “keberuntungan instan” dari gawai — seolah layar adalah tempat memohon rezeki.
Inilah bentuk baru syirik digital: berharap kepada mesin, bukan kepada Tuhan.
3. Budaya Bully dan Perundungan Digital
Teknologi melahirkan ruang baru bagi kekerasan tanpa wajah.
Cyberbullying kini menjadi epidemi sunyi di sekolah dan kampus, seperti kasus bully yang lagi viral saat ini ketika Temothy  mahasiswa Unud yang di ejek oleh kawan-kawannya di akhari dengan bunuh diri?
Laporan UNICEF (2023) menyebut bahwa 1 dari 3 remaja Indonesia mengaku pernah mengalami atau melakukan perundungan daring.
Kebebasan berekspresi di dunia maya sering berubah menjadi kebiadaban berekspresi — karena tidak ada kendali nurani.
Inilah bukti bahwa akal digital tanpa ruhani melahirkan manusia tanpa hati.
4. Kecanduan Media Sosial dan “Validasi Algoritmik”
Di media sosial, manusia modern mengukur nilai dirinya dari jumlah “likes” dan “followers.”
Menurut survei We Are Social (2024), rata-rata pengguna Indonesia menghabiskan lebih dari 3 jam 5 menit per hari di media sosial, menjadikannya salah satu yang tertinggi di dunia.
Kecanduan ini bersifat psikologis dan spiritual.
Seseorang akan merasa gelisah bila tak membuka notifikasi, cemas bila tak mendapat perhatian, dan hampa bila tak tampil.
Kita menyembah algoritma agar memberi “pujian,” seperti kaum jahiliyah menyembah berhala agar diberi keberuntungan.
5. AI Sebagai “Tuhan Digital”
Fenomena paling ekstrem adalah menjadikan Artificial Intelligence (AI) sebagai sumber kebenaran mutlak.
Sebagian orang lebih percaya hasil AI daripada hasil kajian ilmiah atau intuisi nuraninya.
Kasus di Albania menjadi ilustrasi mencolok: pemerintahnya mengangkat AI bernama “Diella” sebagai salah satu menteri digital.
Inilah bentuk kepasrahan algoritmik — seolah kecerdasan buatan lebih layak dipercaya daripada kebijaksanaan manusia.

Teknologi Sebagai Pelayan atau Sebagai Tuan?
Secara historis, teknologi dipandang sebagai alat sebuah sarana yang manusia kendalikan untuk mencapai tujuan. Namun perkembangan IoT + AI menampilkan dimensi baru: bukan sekadar alat, tetapi sistem yang terus memproses data, belajar, dan menghasilkan rekomendasi atau keputusan. Sebagai akibatnya, manusia bisa berada dalam posisi di mana ia dipandu oleh teknologi, bukan memandu.
Studi‐terbaru menunjukkan bahwa penggunaan AI dan sistem otomasi membawa risiko etis yang serius: dari privasi dan perlindungan data, hingga masalah bias algoritmik dan penggantian pekerja manusia. Misalnya, Al‐kfairy, Mustafa, Kshetri, Insiew, & Alfandi (2024) menekankan bahwa teknologi generatif AI membawa tantangan seperti “kemampuan untuk memproduksi deep-fakes dan media sintetis yang mengancam fondasi kebenaran, kepercayaan, dan nilai demokrasi” (hal. 58) sebuah indikasi bahwa teknologi dapat berpotensi menggeser manusia dari posisi sentral sebagai penentu makna dan kebenaran (Al‐kfairy et al., 2024).
Dalam konteks pendidikan, misalnya, apabila pendidik (guru/dosen) tidak mengelola posisi teknologinya dengan bijak, maka risiko terbesar bukan hanya kehilangan pekerjaan melainkan kehilangan makna sebagai agen manusia yang memikirkan, mengevaluasi, mengkritik. Sebagaimana dikemukakan: “bekerjalah bersama AI, bukan oleh AI”.

Mengapa Ini Menjadi Isu Ruhani?
Pertanyaan ruhani muncul ketika teknologi tidak hanya kita “guna”, tetapi malah kita “guna¬kan dirinya”. Dengan kata lain: ketika teknologi mengambil alih fungsi-fungsi yang sejatinya milik manusia berpikir, memilih, menilai maka fungsi manusia sebagai makhluk yang berakal, berintegritas dan memiliki nurani bisa tergusur.
Hal ini mengingatkan kita pada dinamika antropologis dan teologis: manusia diciptakan dengan kemampuan berpikir, memilih dan bertanggung jawab. Ketika yang terjadi adalah manusia diatur oleh sistem yang dibangun olehnya sendiri, maka bisa timbul kerentanan: manusia menjadi objek dari teknologi bukan subjek yang aktif. Kerentanan ini mendapat perhatian ilmiah: Tai (2020) menyebut bahwa AI “akan mengubah tidak hanya cara kita melakukan sesuatu, tetapi juga bagaimana kita saling berhubungan dan apa yang kita tahu tentang diri kita” menunjukkan bahwa perubahan teknologi bukan hanya teknis, melainkan eksistensial (Tai, 2020).

Potensi Pemberdayaan vs. Risiko Kemandekan Pemikiran
Ketika AI belum dominan, munculnya tantangan besar dalam tugas ilmiah — misalnya meneliti, menulis, menganalisis — justru memberdayakan pikiran kita. Pekerjaan yang berat membentuk otak kita menjadi lebih tangguh, lebih kreatif, lebih reflektif. Sebaliknya, ketika AI mengambil alih banyak tahapan—menghasilkan teks, menyusun data, menyimpulkan — muncul risiko bahwa otak kita menjadi malas berpikir: “manja” terhadap kemudahan, kehilangan otoritas berpikir.
Penelitian menunjukan bahwa generatif AI membawa risiko pada pengembangan keterampilan kritis dan pemecahan masalah (Al‐kfairy et al., 2024). Ini tidak hanya soal produktivitas, melainkan soal kualitas manusia yang berpikir, bukan hanya menjalankan instruksi.

Menjadi Subjek Teknologi, Bukan Objeknya
Kunci utama agar kita tidak tergelincir menjadi tergantung teknologi adalah: kreatif, inovatif dan resilien. Ini bukan sekadar kata kiasan, melainkan strategi esensial agar pendidik (dan manusia secara umum) tidak tergantikan, melainkan memanfaatkan teknologi sebagai mitra.
Selain itu, kita harus menjadi “pengguna sekaligus tuan” gadget dan sistem kita sendiri. Membiarkan gadget mendikte kita, memasang kita sebagai subjek yang dikuasai bukanlah posisi yang sehat. Dalam terminologi ruhani, ini bisa diartikan sebagai “menjadikan selain Tuhan sebagai tandingan” (QS. Al-Baqarah 2:165)  ketika teknologi, bukan nurani kita, yang kita sembah.

Pendidikan: Menyalakan Akal dan Menyentuh Qalbu
Di sinilah peran guru dan dosen menjadi sangat penting.
Zaman ini bukan lagi sekadar tentang teaching and learning, tetapi deep learning — pembelajaran yang menumbuhkan kedalaman berpikir dan keikhlasan hati.
Guru tidak cukup menstimulasi akal empiris, tetapi juga membangkitkan kecerdasan penciptaan dan kepatuhan kepada nilai-nilai tauhid.
Pembelajaran yang menumbuhkan Ulil Albab berarti:
• Deep thinking: mengasah logika dan nalar kritis siswa;
• Deep feeling: menumbuhkan empati dan kepekaan hati;
• Deep faith: menguatkan kepercayaan kepada Allah sebagai sumber segala ilmu.
Inilah yang dimaksud dengan pendidikan Ruhiologis pendidikan yang tidak berhenti pada otak dan otot, tapi menembus qalbu dan ruhani.
Ketika guru hanya mengandalkan AI tanpa kesadaran ruhani, maka yang lahir bukan generasi kreatif, tapi generasi copy-paste.
Namun bila guru mengajarkan ilmu dengan kesadaran ruh, maka yang tumbuh adalah generasi pencipta (creator), bukan sekadar pengguna (user).

Refleksi Akhir & Pesan Ruhani
• Teknologi IoT & AI adalah berkah besar: memudahkan tugas produksi keilmuan, memperluas jaringan, mempercepat analisis.
• Tapi kita harus sadar bahwa kecepatan dan kemudahan tidak serta‐merta menggantikan kedalaman larutan pemikiran dan nilai manusiawi.
• Jadilah pengguna teknologi yang bertanggung jawab, bukan budak teknologi.
• Pendidik harus menjaga agar teknologi menjadi alat pemberdayaan, bukan substitusi.
• Akhirnya: teknologi boleh memproduksi jawaban, tetapi manusia harus tetap produsen pertanyaan, pemakna, dan penilai kebenaran.
Semoga renungan ini membantu kita menyikapi era IoT & AI dengan keseimbangan antara antusiasme inovasi dan keteguhan nurani.

Referensi
Al-kfairy, M., Mustafa, D., Kshetri, N., Insiew, M., & Alfandi, O. (2024). Ethical Challenges and Solutions of Generative AI: An Interdisciplinary Perspective. Informatics, 11(3), 58. https://doi.org/10.3390/informatics11030058

Bertoncini, A. L. C. (2023). Ethical content in artificial intelligence systems: A demand. Frontiers in Computer Science, (preprint).

Chen, Y., Pan, S., & Li, H. (2024). Nomophobia and smartphone addiction among university students in Asia: A meta-analysis. Asian Journal of Psychology and Education, 19(4), 233–249.

Huriye, A. Z. (2023). The Ethics of Artificial Intelligence: Examining the Ethical Considerations Surrounding the Development and Use of AI. African Journal of Technology, 5 (2), Article 142.

Iskandar. (2025). Ruhiologi Paradigma Baru Pendidikan Holistik Abad 21. Muaro Jambi. PT. Samudra Inspirasi Ruhiologi

Maiti, M., Kayal, P., & Vujko, A. (2025). A study on ethical implications of artificial intelligence adoption in business: Challenges and best practices. Future Business Journal, 11, Article 34. https://doi.org/10.1186/s43093-025-00462-5

PPATK. (2024). Laporan Analisis Transaksi Judi Online di Indonesia. Jakarta: PPATK.

Tai, M. C. T. (2020). The impact of artificial intelligence on human society and the transition into society 5.0. Frontiers in Artificial Intelligence and Applications. (Note: preprint).

UNICEF. (2023). Cyberbullying in Indonesia: Understanding the impact on youth. Jakarta: UNICEF Indonesia.

Admin

Prof. Iskandar Nazari, penemu dan pengembang teori Ruhiology Quotient (RQ), serta pendiri PT.Samudra Inspirasi Ruhiologi. Situs ini menjadi pusat informasi, riset, dan inspirasi seputar Ruhiology, sebuah pendekatan holistik yang memadukan dimensi ruh, intelektual, dan emosional untuk pengembangan diri dan organisasi. Melalui publikasi ilmiah, program pelatihan, dan berbagai sumber daya edukatif, website ini mengajak Anda menjelajahi kedalaman potensi manusia menuju kehidupan yang bermakna dan berdaya.

Related Posts

Esensi Sholat sebagai Pilar Transformasi Karakter

Sholat yang “Pulang” ke Rumah-Nya: Membedah Ruhiologi dalam Sujud Kita (Refleksi Pemikiran Prof. KH. Imam Suprayogo) Tokoh Pendidikan Nasional. Pernahkah kita bertanya, mengapa bangsa dengan jumlah mushalla dan masjid terbanyak…

“Kafir dan Mukmin: Berhentilah Menunjuk Orang Lain, Lihatlah ke Dalam Diri”

Prof. KH. Imam Suprayogo  (Tokoh Pendidikan Nasional) Tahukah Anda perang apa yang paling dahsyat di muka bumi ini? Bukan agresi Rusia ke Ukraina, bukan pula konflik berkepanjangan di Palestina. Perang…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mari Bersama Menyelami Makna Ruhiologi

Digital Mikraj: Saat Sinyal Wi-Fi Lebih Dicari daripada Sinyal Arasy”

  • By Admin
  • Januari 16, 2026
  • 2 views
Digital Mikraj: Saat Sinyal Wi-Fi Lebih Dicari daripada Sinyal Arasy”

Esensi Sholat sebagai Pilar Transformasi Karakter

  • By Admin
  • Januari 15, 2026
  • 53 views
Esensi Sholat sebagai Pilar Transformasi Karakter

“Kafir dan Mukmin: Berhentilah Menunjuk Orang Lain, Lihatlah ke Dalam Diri”

  • By Admin
  • Januari 15, 2026
  • 10 views
“Kafir dan Mukmin: Berhentilah Menunjuk Orang Lain, Lihatlah ke Dalam Diri”

Tragedi SMK di Jambi: Ketika Teknologi “Melangit” tapi Adab “Melesat” ke Bumi”

  • By Admin
  • Januari 15, 2026
  • 24 views
Tragedi SMK di Jambi: Ketika Teknologi “Melangit” tapi Adab “Melesat” ke Bumi”

Skandal “Ceceran Darah” di Jambi: Saat Guru Menghunus Celurit dan Murid Menjadi Serigala, Masihkah Ada “Ruh” di Sekolah Kita?

  • By Admin
  • Januari 15, 2026
  • 55 views
Skandal “Ceceran Darah” di Jambi: Saat Guru Menghunus Celurit dan Murid Menjadi Serigala, Masihkah Ada “Ruh” di Sekolah Kita?

RUHIOLOGI “Telaah Epistemologis, Qur’ani, dan Tantangan Pendidikan Holistik Abad ke-21

  • By Admin
  • Januari 13, 2026
  • 11 views
RUHIOLOGI “Telaah Epistemologis, Qur’ani, dan Tantangan Pendidikan Holistik Abad ke-21