Prof. Iskandar _Founder Ruhiologi
Selama beberapa dekade terakhir, pendidikan modern dibangun di atas berbagai pendekatan kecerdasan. IQ (Intelligence Quotient) yang digagas oleh (Alferd Binnet 1905) menekankan kemampuan kognitif dan logika. EQ (Emotional Quotient) yang digagas oleh (Prof. Daniel Goleman 1995) hadir untuk melengkapi dengan kecakapan mengelola emosi dan relasi. SQ (Spiritual Quotient) yang digagas oleh Danah Zohar & Ian Marshal 2000, kemudian diperkenalkan sebagai upaya memasukkan dimensi makna dan nilai. Kini, di era digital, AI (Artificial Intelligence) yang di gagas oleh John McCarthy 1955 yang sampai saat ini pendekatan kecerdasan ini menjadi bagian penting sebagai tolok ukur baru kecanggihan pendidikan.
Namun problem mendasarnya bukan terletak pada keberadaan pendekatan-pendekatan ini, melainkan pada cara pendidikan menempatkannya secara terpisah dan hierarkis, tanpa pusat yang menata keseluruhan.
IQ sering melahirkan manusia cerdas tetapi dingin.
EQ membantu relasi, tetapi kerap berhenti pada keterampilan sosial.
SQ diajarkan, tetapi sering tereduksi menjadi simbol dan ritual.
AI mempercepat proses, tetapi tidak memahami makna.
Akibatnya, pendidikan menghasilkan individu yang pintar berpikir, terampil berinteraksi, fasih menggunakan teknologi, bahkan fasih berbicara nilai namun rapuh secara nurani ketika harus mengambil sikap moral.
Di sinilah letak krisis yang jarang disadari: tidak satu pun dari kecerdasan tersebut berfungsi sebagai pusat kesadaran batin yang menata akal, emosi, spiritualitas, dan teknologi secara utuh.
RQ: Menata Kembali Seluruh Kecerdasan
Prof. Iskandar tahun 2025 menggagas konsep Ruhiologi yang tidak menolak IQ, EQ, SQ, maupun AI. Justru sebaliknya, Ruhiologi memandang semuanya penting tetapi memerlukan penuntun. Di sinilah konsep Ruhiology Quotient (RQ) bekerja.
RQ bukan kecerdasan tambahan, melainkan kecerdasan penata.
Ia menjaga agar IQ tidak terlepas dari nurani.
Ia menuntun EQ agar tidak sekadar manipulatif secara emosional.
Ia membumikan SQ agar tidak berhenti pada simbolisme.
Ia mengarahkan AI agar tetap berada di bawah kendali nilai kemanusiaan.
RQ bekerja pada wilayah terdalam manusia: kesadaran fitrah, kejujuran batin, dan orientasi transenden. Ia memastikan bahwa seluruh kecerdasan lain bergerak menuju kemaslahatan, bukan sekadar efektivitas.
Tanpa RQ, pendidikan mudah tergelincir menjadi sangat rasional tetapi kehilangan kebijaksanaan; sangat digital tetapi miskin hikmah; sangat cepat tetapi salah arah.
Smart School Tanpa RQ: Sekolah Cepat yang Kehilangan Kompas
Ketika smart school dibangun hanya dengan logika IQ, didukung EQ operasional, dihiasi SQ simbolik, dan dipercepat AI, tetapi tanpa RQ, maka yang lahir adalah sistem yang efisien namun tak bermoral.
Guru menjadi cerdas secara teknis, tetapi kelelahan secara batin.
Peserta didik menjadi adaptif secara digital, tetapi rapuh secara makna.
Sekolah menjadi unggul secara peringkat, tetapi miskin keteladanan.
Inilah yang membuat banyak kebijakan pendidikan tampak berhasil di atas kertas, tetapi gagal menyentuh jiwa manusia yang hidup di dalamnya.
Menutup Lingkaran: Dari Kecerdasan Terpisah ke Kesadaran Utuh
Ruhiologi mengajak pendidikan Indonesia untuk menutup lingkaran yang terputus ini. Bukan dengan mundur dari teknologi, bukan dengan menolak kecerdasan modern, tetapi dengan mengembalikan ruh sebagai pusat orientasi.
RQ menata kembali seluruh kecerdasan agar bekerja selaras dengan fitrah manusia. Ketika ruh kembali memimpin, akal menjadi bijaksana, emosi menjadi jujur, spiritualitas menjadi hidup, dan teknologi kembali menjadi alat bukan tuan.
Di titik inilah smart school menemukan maknanya yang sejati: bukan sekadar sekolah yang cerdas secara sistem, tetapi sekolah yang arif dalam menjaga kemanusiaan.





