Paradoks Pendidikan Abad 21: “Sekolah Penuh Layar, Tapi Redup Cahaya”

Oleh: Prof. Iskandar, S.Ag., M.Pd., M.S.I., M.H., Ph.D.
Guru Besar Psikologi Pendidikan & Founder Ruhiologi

Analisis Ruhiologis atas Krisis Ruhani di Tengah Digitalisasi Tanpa Humanisasi

Program digitalisasi sekolah di Indonesia memasuki babak baru dengan distribusi 50.000 layar interaktif pintar oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI pada tahun 2025. Inisiatif ini diklaim sebagai tonggak transformasi digital nasional (Kemdikdasmen RI, 2025; ANTARA News, 2025). Namun, di balik keberhasilan tersebut muncul paradoks besar: semakin banyak layar, semakin sedikit cahaya ruhani. Layar mampu menampilkan data dan animasi, tetapi tidak dapat menyalakan makna. Sejalan dengan pandangan Seyyed Hossein Nasr, akar krisis modern bukanlah pada kemunduran teknologi, melainkan hilangnya pusat spiritual manusia — the spiritual crisis of modern man (Nasr, 2007). Tanpa panduan nilai ruhani, pendidikan digital berisiko melahirkan generasi yang cerdas secara teknologi namun miskin secara eksistensial.

Krisis pendidikan modern tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga ontologis dan spiritual. Ketika ilmu pengetahuan dipisahkan dari sumber sakralnya, maka ia kehilangan makna moral dan ilahiah (Nasr, 2007; Handoko, 2023). Hal ini tampak dalam tiga bentuk utama: pertama, krisis nilai dan karakter, di mana sekolah menghasilkan pengguna perangkat pintar (smart device users) tetapi bukan manusia bijak (wise human beings); kedua, krisis makna dan tujuan, ketika teknologi memperluas ruang belajar tetapi menutup ruang batin; dan ketiga, krisis kendali teknologi, di mana digitalisasi dijadikan tujuan, bukan alat untuk kemanusiaan (Xing & Marwala, 2017). Fenomena ini menggambarkan pendidikan yang semakin maju secara teknologis, namun kehilangan arah ruhani dan moral.

Berbagai kebijakan pendidikan karakter telah digulirkan di banyak negara, namun krisis moral dan sosial justru meningkat. Sidik, Nurihsan, dan Suresman (2024) mencatat bahwa pendidikan karakter masih menghadapi defisit keteladanan, di mana sekolah gagal menyediakan figur panutan yang autentik. Penelitian Layli, Albarra, dan Qomariah (2023) menunjukkan bahwa generasi digital kehilangan empati sosial akibat paparan media berlebih yang melemahkan sensitivitas dan kesantunan. Sementara itu, Pamuji (2024) menilai pendidikan karakter saat ini bersifat normatif dan belum menyentuh kesadaran ruhani yang menjadi fondasi pengendalian diri. Fenomena meningkatnya kelelahan akademik dan existential anxiety di kalangan siswa, sebagaimana dilaporkan Rahman (2023), memperkuat indikasi bahwa pendidikan modern gagal menumbuhkan makna hidup.

Kegagalan membentuk karakter yang utuh bukan hanya akibat lemahnya kurikulum, tetapi karena belum terbentuknya ekosistem ruhani yang menyeluruh. Ekosistem ini seharusnya menghubungkan dimensi kognitif, afektif, dan spiritual dalam satu kesatuan praksis pendidikan. Pendekatan Ruhiologi menjelaskan bahwa pendidikan sejati tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan kesadaran ruhani melalui pengalaman batin dan relasi spiritual (Iskandar, 2025). Tanpa lingkungan yang menghidupkan nilai ketuhanan dan kasih sayang, pendidikan akan kehilangan daya penyembuhnya terhadap krisis karakter yang kini semakin kompleks.

Dalam kerangka Ruhiologi, pembentukan karakter ruhani harus berdiri di atas tiga pilar fundamental (Iskandar, 2025). Pertama, kesadaran ruhani sebagai fondasi, yaitu pendidikan yang memulihkan kembali hubungan manusia dengan Allah sebagai sumber ilmu. Kedua, relasi edukatif yang spiritual, di mana guru bertindak sebagai murabbi ruhani yang menyalakan kesadaran murid, bukan sekadar penyampai materi. Ketiga, kultur sekolah yang menyembuhkan (healing culture), yaitu menciptakan suasana belajar yang menumbuhkan kedamaian batin dan keseimbangan emosional. Selama ekosistem ini belum dibangun secara sistemik, upaya memperbaiki krisis karakter hanya akan bersifat kosmetik dan temporer.

Kemajuan digital hanyalah alat (wasilah), bukan tujuan. Dalam pandangan Ruhiologi, teknologi harus dituntun oleh ruh agar tidak kehilangan arah moral (Iskandar, 2025). Al-Qur’an mengingatkan: “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri” (QS. Al-Hasyr: 19). Ayat ini menegaskan bahwa kehilangan hubungan dengan Tuhan menyebabkan manusia kehilangan kendali diri. Oleh karena itu, kecerdasan digital (Digital Quotient / DQ) perlu dikendalikan oleh Kecerdasan Ruhani (Ruhiology Quotient / RQ) agar melahirkan insan yang cakap teknologi sekaligus berakhlak dan berkeadaban.

Jika hardware adalah alat dan software adalah sistem, maka pendidikan abad ke-21 membutuhkan soulware ruh yang menghidupkan keduanya. Dalam konteks Indonesia, pengembangan soulware pendidikan dapat diwujudkan melalui empat strategi Ruhiologis: (1) menyeimbangkan kurikulum digital dan ruhani; (2) menjadikan guru sebagai pendidik ruhani; (3) mengembangkan sistem evaluasi karakter ruhani; dan (4) membangun kebijakan pendidikan holistik yang menghubungkan keluarga, sekolah, dan masyarakat (Iskandar, 2025). Keempat strategi ini dirancang untuk mengubah pendidikan dari sekadar transmisi pengetahuan menjadi proses pembentukan jiwa yang utuh.

Sebagaimana ditegaskan Nasr (2007) dan diperkuat oleh paradigma Ruhiologi (Iskandar, 2025), akar krisis pendidikan bukan pada kurangnya teknologi, tetapi hilangnya kesadaran ketuhanan dalam diri manusia. Digitalisasi tanpa spiritualisasi hanya akan melahirkan generasi yang pandai menyalakan layar, tetapi gagal menyalakan hati. Pendidikan sejati harus menyeimbangkan transformasi digital dengan transformasi ruhani agar sekolah menjadi ruang penyinaran nilai, bukan sekadar tempat pemutaran data. Maka, sekolah yang sejati bukan yang penuh layar, melainkan yang penuh cahaya  cahaya nilai, akhlak, dan kesadaran Ilahi.

Daftar Pustaka

ANTARA News. (2025, 20 Oktober). Indonesia distributes 288,000 panels to boost school digitalization.

Handoko, S. B. (2023). Modernism and Crisis: Seyyed Hossein Nasr’s Idea on Spiritual Intelligence and Social Virtue Education. TEOSOFIA: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam, 12(2), 101–118.

Iskandar, I. (2025). Ruhiologi sebagai Paradigma Baru Pendidikan Holistik Abad 21. Jambi: Samudra Inspirasi Ruhiologi.

Kemdikdasmen RI. (2025). Program Layar Interaktif untuk 50 Ribu Sekolah: Transformasi Digital Pendidikan Nasional. Jakarta.

Layli, F., Albarra, G., & Qomariah, N. (2023). Local wisdom-based character education for facing globalization strategic issues in the digital era in primary school students. Indonesian Journal of Classroom Action Research, 1(1).

Nasr, S. H. (2007). Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man. London: Routledge.

Pamuji, S. (2024). Urgensi pendidikan karakter dalam mengatasi krisis moral di kalangan siswa. Journal of Pedagogi, 1(1).

Rahman, M. (2023). Seyyed Hossein Nasr’s Views of Modern Science: An Evaluation. Philosophy and Progress, LXXIII–LXXIV, 43–60.

Sidik, P., Nurihsan, J., & Suresman, E. (2024). Character education and the crisis of national role models. Jurnal Pendidikan Karakter, 15(2).

Xing, B., & Marwala, T. (2017). Implications of the Fourth Industrial Age on Higher Education. arXiv preprint arXiv:1703.09643.

Admin

Prof. Iskandar Nazari, penemu dan pengembang teori Ruhiology Quotient (RQ), serta pendiri PT.Samudra Inspirasi Ruhiologi. Situs ini menjadi pusat informasi, riset, dan inspirasi seputar Ruhiology, sebuah pendekatan holistik yang memadukan dimensi ruh, intelektual, dan emosional untuk pengembangan diri dan organisasi. Melalui publikasi ilmiah, program pelatihan, dan berbagai sumber daya edukatif, website ini mengajak Anda menjelajahi kedalaman potensi manusia menuju kehidupan yang bermakna dan berdaya.

Related Posts

Esensi Sholat sebagai Pilar Transformasi Karakter

Sholat yang “Pulang” ke Rumah-Nya: Membedah Ruhiologi dalam Sujud Kita (Refleksi Pemikiran Prof. KH. Imam Suprayogo) Tokoh Pendidikan Nasional. Pernahkah kita bertanya, mengapa bangsa dengan jumlah mushalla dan masjid terbanyak…

“Kafir dan Mukmin: Berhentilah Menunjuk Orang Lain, Lihatlah ke Dalam Diri”

Prof. KH. Imam Suprayogo  (Tokoh Pendidikan Nasional) Tahukah Anda perang apa yang paling dahsyat di muka bumi ini? Bukan agresi Rusia ke Ukraina, bukan pula konflik berkepanjangan di Palestina. Perang…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mari Bersama Menyelami Makna Ruhiologi

Digital Mikraj: Saat Sinyal Wi-Fi Lebih Dicari daripada Sinyal Arasy”

  • By Admin
  • Januari 16, 2026
  • 1 views
Digital Mikraj: Saat Sinyal Wi-Fi Lebih Dicari daripada Sinyal Arasy”

Esensi Sholat sebagai Pilar Transformasi Karakter

  • By Admin
  • Januari 15, 2026
  • 53 views
Esensi Sholat sebagai Pilar Transformasi Karakter

“Kafir dan Mukmin: Berhentilah Menunjuk Orang Lain, Lihatlah ke Dalam Diri”

  • By Admin
  • Januari 15, 2026
  • 5 views
“Kafir dan Mukmin: Berhentilah Menunjuk Orang Lain, Lihatlah ke Dalam Diri”

Tragedi SMK di Jambi: Ketika Teknologi “Melangit” tapi Adab “Melesat” ke Bumi”

  • By Admin
  • Januari 15, 2026
  • 22 views
Tragedi SMK di Jambi: Ketika Teknologi “Melangit” tapi Adab “Melesat” ke Bumi”

Skandal “Ceceran Darah” di Jambi: Saat Guru Menghunus Celurit dan Murid Menjadi Serigala, Masihkah Ada “Ruh” di Sekolah Kita?

  • By Admin
  • Januari 15, 2026
  • 54 views
Skandal “Ceceran Darah” di Jambi: Saat Guru Menghunus Celurit dan Murid Menjadi Serigala, Masihkah Ada “Ruh” di Sekolah Kita?

RUHIOLOGI “Telaah Epistemologis, Qur’ani, dan Tantangan Pendidikan Holistik Abad ke-21

  • By Admin
  • Januari 13, 2026
  • 10 views
RUHIOLOGI “Telaah Epistemologis, Qur’ani, dan Tantangan Pendidikan Holistik Abad ke-21