Fenomena Sekolah Hari Ini: Potret Buram Pendidikan Nasional dan Daerah Jambi
Pendidikan Indonesia sedang menghadapi krisis nilai dan kehilangan ruh. Fenomena mogok belajar, demonstrasi siswa, dan laporan orang tua terhadap guru kini bukan lagi berita langka tetapi seolah menjadi potret keseharian di banyak sekolah.
Beberapa waktu terakhir, masyarakat Jambi juga dikejutkan dengan serangkaian aksi siswa di sejumlah sekolah yang melakukan mogok belajar dan menuntut kepala sekolah mereka dicopot, karena dianggap tidak adil, otoriter, atau menegur dengan keras siswa yang melanggar disiplin.
Ironisnya, kasus-kasus seperti ini justru mendapatkan dukungan dari sebagian orang tua, yang bahkan ikut melaporkan pihak sekolah ke kepolisian.
Fenomena ini menunjukkan adanya pembalikan nilai dalam dunia pendidikan — di mana pelanggaran tidak lagi dianggap kesalahan, dan disiplin guru ditafsirkan sebagai kekerasan.
Hal serupa juga terjadi di salah satu SMA di Banten, yang viral secara nasional: ratusan siswa mogok dan menuntut kepala sekolah dicopot karena menampar siswa yang kedapatan merokok di sekolah. Orang tua siswa tersebut bahkan ikut melapor ke Polsek, menuduh kepala sekolah melakukan kekerasan.
Semua peristiwa ini menggambarkan pendidikan kita sedang kehilangan kesakralannya, ketika guru tak lagi dihormati, dan adab tak lagi menjadi ruh dalam belajar.
“Ketika siswa membela kesalahan dan orang tua memperkuat pembenaran itu, maka pendidikan sudah kehilangan ruhnya.
Ini bukan hanya krisis akhlak, tapi krisis kesadaran ruhani,” Prof. Iskandar, Founder Ruhiologi

Pembekalan Kecerdasan Ruhiologi: Menemukan Kembali Ruh Pendidikan
Berangkat dari keprihatinan inilah, STKIP & STIT Al Azhar Diniyyah Jambi menggelar Pelatihan Pendalaman Konsep Kecerdasan Ruhiologi (RQ) bagi mahasiswa PPL (Praktik Pengalaman Lapangan), Rabu, 15 Oktober 2024.
Kegiatan ini menghadirkan langsung Founder Ruhiologi, Prof. Iskandar, S.Ag., M.Pd., M.S.I., M.H., Ph.D., dan diikuti puluhan mahasiswa serta dosen di Aula kampus dengan penuh antusiasme.
Dalam sesi pembekalan, Prof. Iskandar mengajak peserta untuk merefleksikan ulang hakikat pendidikan. Menurutnya, pendidikan modern terlalu dikuasai oleh fakultas akal (rasionalitas) dan melupakan dimensi ruh dan qalb (kesadaran batin Ilahiah).
Akibatnya, muncul generasi yang cerdas otaknya tapi lemah hatinya, kritis berpikir tapi kering kasih, berani bersuara tapi miskin adab.
“Kita sedang membangun pendidikan yang hebat secara sistem, tapi kehilangan orientasi Ilahi.
Akal diberdayakan, tapi ruh dibiarkan mati,”
ujar Prof. Iskandar dengan nada reflektif.
Kecerdasan Ruhiologi (RQ): Integrasi Akal, Hati, dan Ruh

Dalam paradigma Ruhiologi, manusia memiliki kecerdasan tertinggi bernama Ruhiology Quotient (RQ) — potensi ruhani yang mengintegrasikan semua kecerdasan lain seperti IQ (Intelektual), EQ (Emosional), SQ (Spiritual), dan AI-Q (Artificial Intelligence Quotient).
RQ menuntun manusia untuk berpikir, berperilaku, dan mengambil keputusan dengan kesadaran Ilahi, bukan semata-mata dorongan logika atau emosi.
Landasan Qur’ani dari konsep ini diambil dari QS. Al-‘Alaq: 1 — “Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq”, yang berarti bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.
Ayat ini, menurut Prof. Iskandar, menegaskan bahwa setiap proses belajar harus dimulai dengan kesadaran ruhani membaca realitas bukan hanya dengan mata dan akal, tapi juga dengan cahaya ruh.
“Ketika guru menegur tanpa ruh kasih, ia bisa jatuh dalam amarah.
Tapi ketika murid melawan tanpa kesadaran Ilahi, ia kehilangan adab.
Ruhiologi hadir untuk menghidupkan kembali kesadaran itu,”
tegas Prof. Iskandar.
Refleksi Mahasiswa: Menjadi Guru yang Menyalakan Ruh
Para mahasiswa PPL yang mengikuti kegiatan ini mengaku memperoleh pencerahan baru tentang makna menjadi guru sejati.
Mengajar, kata mereka, bukan sekadar menyampaikan materi, melainkan membangkitkan kesadaran ruhani peserta didik.
“Kami baru memahami bahwa guru sejati bukan hanya pengajar, tapi penyalur cahaya.
Ia tidak hanya mengajar dengan metode, tapi dengan ruh kasih dan keteladanan,”
ujar salah satu mahasiswa peserta.
Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi calon guru Diniyyah Al Azhar Jambi untuk mengintegrasikan nilai-nilai Qur’ani, etika, dan kesadaran Ilahi dalam praktik mengajar mereka di sekolah.
Membangun Kembali Ruh Pendidikan Indonesia
Fenomena mogok siswa, protes orang tua, dan menurunnya wibawa guru adalah gejala hilangnya RQ dalam sistem pendidikan nasional.
Kita telah terlalu lama menuhankan rasionalitas, sementara dimensi ruhani dibiarkan kering.
Padahal, pendidikan sejati harus membentuk manusia yang berilmu dan beradab, cerdas dan berjiwa.
Melalui pendekatan Kecerdasan Ruhiologi (RQ), Prof. Iskandar menyerukan perlunya restorasi pendidikan yang menumbuhkan kesadaran Ilahi sebagai pusat pembentukan karakter.
Guru bukan lagi hanya pengajar akademik, tetapi murabbi ruhani yang menyalakan cinta, adab, dan cahaya ketuhanan dalam diri murid.
“Jika pendidikan tidak lagi menghadirkan Tuhan dalam kesadaran murid, maka ia hanya akan mencetak generasi yang pintar tanpa arah.
Saatnya kita menghidupkan kembali ruh pendidikan — melalui Ruhiologi,”
pungkas Prof. Iskandar.







MasyaaAllah Prof, kalau Ruhiologi ini sudah ada dlm diri kita, betapa damai kehidupan
Mulai belajar memahami konsep ruhiologi
Potensi Ruhiologi sejatinya sudah ada pada setiap diri, tinggal kita mengaktivasinya dan terus latihan untuk istiqamah sehingga menemukan ketenangan dan dedamaian bathin
MasyaAllah prof..
Saat Ruhiologi mampu diimplementasikan kedlam khidupan nyata, Itulah makna kebahagiaan yg sesungguhnya.
Ruhiologi hadir untuk sentuhan terdalam membangun kesadaran ilahiah