Krisis Spiritual Abad 21: Dunia yang Kehilangan Jiwa
Abad 21 adalah era paradoks. Kemajuan teknologi membuat dunia semakin cepat, canggih, dan terkoneksi. Namun di balik layar ponsel pintar dan big data, manusia justru semakin rapuh. Data WHO (2023) mencatat lebih dari 300 juta orang mengalami depresi, menjadikannya salah satu penyebab utama disabilitas global. World Happiness Report (Helliwell et al., 2024) menunjukkan bahwa meski pendapatan meningkat, tingkat kebahagiaan subjektif stagnan atau bahkan menurun.
Fenomena ini diperkuat oleh “epidemi kesepian” (loneliness epidemic) yang diumumkan di Amerika Serikat dan Eropa, di mana anak muda justru merasa paling kesepian meski hidup di dunia yang paling terhubung sepanjang sejarah (Murthy, 2023). Akibatnya, dunia modern tampak berisik secara luar, tetapi sunyi secara dalam.
Inilah yang pernah ditangkap Nietzsche dalam kalimat ikoniknya: “Tuhan telah mati. Tuhan tetap mati. Dan kitalah yang membunuh-Nya.” (Nietzsche, 2001). Namun, Seyyed Hossein Nasr (2007) mengingatkan bahwa problem utama bukanlah Tuhan yang mati, melainkan kesadaran manusia yang hilang. Manusia modern terjebak dalam forgetfulness of the Divine (kelalaian Ilahi) dan mengganti wahyu dengan sekularisme, sains empiris, dan materialisme.
Fenomena: Dunia yang “Membunuh Tuhan”
Ada beberapa fenomena nyata yang menandai krisis spiritual global:
- Sekularisasi Nilai: Agama dipinggirkan ke ruang privat, sementara ruang publik diisi logika ekonomi dan politik tanpa etika transendental.
- Kultus Teknologi: Algoritma media sosial menjadi “agama baru” yang menentukan makna, arah, bahkan relasi sosial manusia.
- Krisis Identitas: Generasi muda lebih mengenali influencer ketimbang nabi dan ulama, lebih percaya motivator ketimbang kitab suci.
- Kekeringan Spiritual: Ritual ibadah banyak dilakukan formalistis, tanpa kontemplasi, sehingga tidak melahirkan transformasi moral.
Jika fenomena ini dibiarkan, manusia hanya akan semakin tenggelam dalam nihilisme—sebuah kondisi yang digambarkan Viktor Frankl (1985) sebagai existential vacuum (kehampaan eksistensial). Frankl menegaskan bahwa manusia modern bukan semata-mata sakit tubuh atau pikiran, melainkan sakit makna.
Ruhiologi: Membaca Dunia dengan “Iqra’ Bismi Rabbik”
Jawaban Ruhiologi terhadap krisis ini adalah kembali ke wahyu pertama: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq [96]:1). Ayat ini mengajarkan bahwa membaca realitas bukan hanya dengan otak (IQ), tetapi dengan hati dan kesadaran Ilahi. Inilah yang disebut Ruhiologi sebagai Iqra’ transendental: membaca dengan mata yang jernih, telinga yang selektif, dan hati yang khusyuk.
Di sinilah lahir konsep Kecerdasan Ruhiologi (RQ), yaitu kemampuan manusia memelihara Ruh sebagai tiupan Ilahi (QS. As-Sajdah [32]:9). RQ menyeimbangkan IQ (rasionalitas), EQ (emosi), dan SQ (spiritualitas) yang sering kali kehilangan arah tanpa fondasi Ilahi (Nazari, 2025).
Pendekatan Konsentrasi & Kontemplasi meraih God Spot, dan God Light
Dalam psikologi kontemporer, mindfulness dipuji sebagai cara mengurangi stres dan kecemasan. Namun Ruhiologi melampaui mindfulness sekuler dengan menawarkan konsentrasi dan kontemplasi ruhani:
- Konsentrasi: Fokus ruhani yang menjaga manusia dari distraksi digital.
- Kontemplasi (tafakkur): Perjalanan batin untuk membuka tabir makna, menemukan Allah dalam ciptaan-Nya.
Neurosains spiritual (Newberg & D’Aquili, 2001) menemukan adanya God Spot, area otak yang aktif saat manusia berdoa atau bermeditasi. Dari sinilah lahir pengalaman kedekatan dengan Tuhan. Ketika dihidupkan melalui salat khusyuk dan syukur sejati, God Spot memancarkan God Light—cahaya Ilahi yang menyinari hati.
Inilah esensi Ruhiologi: membimbing manusia agar indra (telinga, mata, hati) tidak menjadi pintu masuk distraksi, tetapi saluran cahaya.
Dialog Nietzsche, Nasr, dan Ruhiologi
- Tentang Krisis Makna
- Nietzsche: Dunia tanpa Tuhan = dunia tanpa nilai.
- Nasr: Dunia modern miskin hikmah karena melupakan Tuhan (Nasr, 2007).
- Ruhiologi: Dunia hanya kembali bernilai dengan Iqra’ transendental dan RQ (Iskandar, 2025).
- Tentang Manusia
- Nietzsche: Übermensch = manusia yang mencipta moral sendiri.
- Nasr: Solusi = kembali ke kearifan tradisi Ilahi.
- Ruhiologi: Akhlak Mulia= manusia mulia yang menjaga Ruh Ilahi dan memancarkan God Light.
- Tentang Jalan Keluar
- Nietzsche: Menggantikan Tuhan dengan seni dan will to power.
- Nasr: Mengembalikan keseimbangan antara ilmu, hikmah, dan wahyu.
- Ruhiologi: Menghidupkan salat khusyuk, syukur ruhani, dan pendidikan berbasis RQ.
Analisis Ruhiologis: Tuhan Tidak Mati, Kesadaran Kita yang Mati
Nietzsche benar bahwa modernitas melahirkan nihilisme, tetapi salah menyimpulkan bahwa Tuhan mati. Tuhan tetap hidup. Yang mati hanyalah kesadaran manusia untuk mengenali-Nya.
Ruhiologi mengingatkan bahwa jawaban krisis abad 21 bukanlah melarikan diri pada teknologi atau ideologi baru, melainkan menghidupkan kembali kesadaran ruhani. Dengan Iqra’ bismi rabbik, konsentrasi dan kontemplasi, serta aktivasi God Spot dan God Light, manusia dapat keluar dari kehampaan menuju kebeningan.
Prof. Iskandar nazari, S.Ag.,M.Pd.,M.S.I.,M.H.,Ph.D _Guru Besar Psikologi Pendidikan UIN Sutha Jambi _Founder Ruhiologi _CEO Samudra Inspirasi Ruhiologi ‘SIR’
Referensi
Frankl, V. E. (1985). Man’s Search for Meaning. New York: Washington Square Press.
Helliwell, J. F., Layard, R., Sachs, J., & De Neve, J. E. (2024). World Happiness Report 2024. New York: SDSN.
Iskandar, (2025) Ruhiologi Paradigma Baru Pendidikan Holsitik Abad 21. Muaro jambi. Samudra Inspirasi Ruhiologi
Murthy, V. (2023). Our Epidemic of Loneliness and Isolation. U.S. Surgeon General’s Advisory. Washington, DC: U.S. Department of Health and Human Services.
Nasr, S. H. (2007). The Garden of Truth: The Vision and Promise of Sufism, Islam’s Mystical Tradition. HarperOne.
Nazari, I. (2025). Ruhiologi sebagai Paradigma Baru Pendidikan Holistik. Jambi: Samudra Inspirasi Ruhiologi.
Newberg, A., & D’Aquili, E. (2001). Why God Won’t Go Away: Brain Science and the Biology of Belief. Ballantine Books.
Nietzsche, F. (2001). The Gay Science (J. Nauckhoff, Trans.). Cambridge: Cambridge UP. (Original work published 1882).
World Health Organization. (2023). Depression and Other Common Mental Disorders: Global Health Estimates. Geneva: WHO.






