Pendidikan kedokteran di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) memikul tanggung jawab unik: melahirkan dokter yang tak hanya cerdas secara ilmiah, tetapi juga berakhlak mulia. Sayangnya, proses perkuliahan seringkali terjebak pada penguasaan rasionalitas dan kecerdasan intelektual (IQ), mengabaikan dimensi ruhani yang seharusnya menjadi fondasi. Akibatnya, kita berisiko menciptakan dokter yang mahir dalam diagnosis, tapi kehilangan sentuhan empati dan esensi kemanusiaan.
Ketika Rasionalitas Mendominasi, Ruhani Terpinggirkan
Kurikulum kedokteran yang berfokus pada ilmu-ilmu eksakta—anatomi, fisiologi, farmakologi—melatih mahasiswa untuk berpikir logis dan analitis. Mereka dididik untuk mengandalkan data dan bukti, sebuah pendekatan yang krusial namun seringkali mengabaikan aspek spiritual.
Kecerdasan emosional (EQ) dan spiritual (SQ) menjadi terpinggirkan, menciptakan “kesenjangan yang serius”. Mahasiswa mungkin mahir mengidentifikasi penyakit, tetapi kurang peka terhadap penderitaan pasien. Ini berpotensi melahirkan dokter yang efisien, tetapi hampa dari makna pengabdian, rentan terhadap kelelahan emosional, dan kehilangan motivasi ruhani.
Solusi Holistik: Mentransintegrasikan Kecerdasan Ruhiologi (RQ) sebagai Perekat
Untuk mengatasi masalah ini, pendidikan kedokteran di PTKIN harus mengadopsi paradigma *transintegrasi ilmu* berlandaskan “Iqra’ Bismirabbik” Ini bukan sekadar menambahkan mata kuliah agama, melainkan menyatukan ilmu medis dengan nilai-nilai ruhani. Di sinilah peran penting *Kecerdasan Ruhiologi (RQ)* sebagai perekat, yang mampu menyatukan IQ, EQ, SQ, dan bahkan *AI-Q (Akhlakul Karimah & Ibadah-based Quotient)*.
RQ adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan keberadaan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam praktik kedokteran. Ini bukan sekadar kecerdasan spiritual biasa, melainkan kecerdasan yang secara aktif menuntun setiap tindakan dan keputusan.
Pendidikan kedokteran harus menjadi perjalanan introspeksi dan kontemplasi. Kegiatan seperti “bedah kasus”tidak hanya membahas diagnosis medis, tetapi juga menjadi sarana untuk merenungkan makna etika, spiritualitas pasien, dan peran dokter sebagai khalifah di bumi. Melalui pendekatan ini, mahasiswa didorong untuk menyadari bahwa setiap pasien adalah manifestasi dari keagungan Tuhan, dan merawat mereka adalah bentuk ibadah.
Menstimulasi Godspot dan Godlight
Pendekatan transintegrasi ini bertujuan untuk menstimulasi “Godspot” dan “Godlight” dalam diri setiap individu. Godspot adalah pusat spiritual di otak yang terkait dengan pengalaman keagamaan dan kesadaran ruhani. Godlight adalah cahaya ilahi yang menerangi akal dan hati, menuntun individu untuk bertindak dengan penuh kasih, tulus, dan ikhlas.
Ketika proses pembelajaran menggabungkan aspek intelektual dan spiritual, kita tidak hanya mencetak dokter yang pintar, melainkan juga dokter yang “berkesadaran Ketuhanan”. Mereka memahami bahwa profesi ini adalah sebuah panggilan suci, dan setiap sentuhan, setiap kata, dan setiap keputusan klinis adalah wujud dari pengabdian yang tulus.
Dengan mengadopsi Kecerdasan Ruhiologi (RQ) sebagai fondasi, PTKIN dapat melahirkan dokter yang tidak hanya menguasai ilmu kedokteran, tetapi juga memiliki hati yang lembut, jiwa yang teguh, dan iman yang kuat. Mereka adalah dokter yang tidak hanya mengobati penyakit fisik, tetapi juga menyembuhkan hati dan jiwa, menjadi perpanjangan tangan rahmat Tuhan di muka bumi.





