Prof. Iskandar _Founder Ruhiologi
Sekolah boleh sederhana, tetapi jiwa anak tidak boleh kosong.
Di ruang kelas TK, sering kali kita sibuk memastikan anak duduk rapi, mengikuti aturan, dan menyelesaikan kegiatan. Namun jarang kita bertanya: apakah hati mereka merasa aman? Apakah jiwa mereka sedang tumbuh, atau justru mulai belajar menekan perasaan?
Anak usia dini tidak datang ke sekolah membawa ambisi. Mereka datang membawa fitrah jiwa yang bersih, hati yang jujur, dan rasa ingin tahu yang tulus. Rasulullah SAW menegaskan:
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya, sebelum mereka pandai membaca atau berhitung, mereka sudah membawa potensi kebaikan. Tugas pendidikan bukan mengisi jiwa anak dengan beban, tetapi menjaga fitrah itu agar tetap hidup.
Ketika Pendidikan Terlalu Cepat Dewasa
Problem pendidikan hari ini bukan hanya pada kurikulum atau fasilitas, tetapi pada cara kita memandang anak. Anak-anak sering diperlakukan seolah miniatur orang dewasa: dituntut patuh, cepat paham, dan tenang setiap saat. Ketika mereka menangis, marah, atau sulit diatur, respons yang muncul sering berupa teguran, label, bahkan hukuman.
Padahal, pada usia dini, perilaku bukanlah pembangkangan, melainkan bahasa jiwa. Anak belum mampu mengelola emosi, belum bisa merumuskan perasaan, dan belum tahu cara meminta tolong selain lewat tangisan atau reaksi spontan.
Di sinilah pendidikan bisa melukai fitrah bukan karena niat buruk, tetapi karena kehilangan sentuhan cinta dan keteladanan.
Keteladanan: Bahasa yang Paling Dipahami Anak
Islam tidak membangun pendidikan di atas ceramah panjang, tetapi di atas contoh hidup. Allah berfirman:
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Anak TK tidak belajar terutama dari apa yang guru ucapkan, tetapi dari cara guru bersikap. Nada suara, ekspresi wajah, kesabaran, dan kejujuran guru menjadi kurikulum tersembunyi yang paling berpengaruh.
Guru yang tenang akan melahirkan anak yang merasa aman.
Guru yang lembut akan mengajarkan empati tanpa perlu kata-kata.
Guru yang mencintai akan menumbuhkan kepercayaan diri anak.
Inilah esensi mendidik dengan keteladanan.
Cinta Bukan Memanjakan, Tetapi Menenangkan Jiwa
Cinta dalam pendidikan sering disalahpahami sebagai memanjakan atau membiarkan. Dalam perspektif Ruhiologi, cinta adalah kehadiran penuh, kesabaran, dan keberpihakan pada pertumbuhan jiwa anak.
Rasulullah SAW bersabda:
“Bukanlah kelembutan itu ada pada sesuatu melainkan ia menghiasinya.”
(HR. Muslim)
Cinta tidak membuat kelas menjadi kacau. Justru sebaliknya, cinta menciptakan keteraturan yang lahir dari rasa aman, bukan dari ketakutan.
Restorasi Ruhiologi: Mengembalikan Ruh ke Pusat Pendidikan
Di sinilah Restorasi Ruhiologi menjadi relevan. Ruhiologi memandang pendidikan sebagai proses menyentuh akal, emosi, dan ruh secara seimbang. Anak bukan hanya makhluk kognitif, tetapi makhluk ruhani yang membutuhkan kasih sayang, makna, dan keteladanan.
Restorasi Ruhiologi mengajak guru TK untuk kembali pada peran mulianya:
bukan sekadar pengajar aktivitas, tetapi penjaga fitrah.
Dalam pendekatan ini:
Disiplin dibangun lewat keteladanan, bukan ancaman
Nilai agama ditanamkan lewat suasana, bukan paksaan
Akhlak tumbuh dari cinta, bukan dari ketakutan
Allah mengingatkan:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)
Anak-anak pun demikian. Mereka belajar sesuai tahap jiwanya, bukan target orang dewasa.
Ajakan: Menjadi Guru yang Menjaga Cahaya
Guru TK Islami sesungguhnya sedang memegang fondasi peradaban. Apa yang ditanam hari ini akan tumbuh puluhan tahun ke depan. Jika yang ditanam adalah keteladanan dan cinta, maka yang tumbuh adalah manusia yang utuh cerdas akalnya, lembut hatinya, dan hidup nuraninya.
Mari kita luruskan kembali niat mendidik:
bukan sekadar menyelesaikan program,
tetapi menjaga amanah Allah,
bukan hanya membentuk perilaku,
tetapi merawat fitrah.
Karena anak yang dibesarkan dengan cinta dan keteladanan tidak hanya siap sekolah ia siap menjadi manusia.





