Oleh: Prof. Iskandar, S.Ag., M.Pd., M.S.I., M.H., Ph.D.
Guru Besar Psikologi Pendidikan & Founder Ruhiologi
Santri dan Tantangan Zaman Digital
Hari Santri Nasional bukan sekadar momentum mengenang peran historis kaum santri dalam perjuangan kemerdekaan. Ia adalah panggilan spiritual bagi generasi masa kini untuk menghidupkan kembali ruh keilmuan dan akhlak di tengah dunia yang semakin dikuasai oleh mesin.
Kita sedang hidup dalam zaman di mana Artificial Intelligence (AI) menjadi bagian dari hampir seluruh aspek kehidupan mulai dari pendidikan, ekonomi, hingga ibadah. Namun di tengah kecanggihan itu, dunia menghadapi paradoks: semakin banyak pengetahuan, tetapi semakin sedikit kesadaran; semakin tinggi kecerdasan, tetapi semakin tipis kebijaksanaan.
UNESCO (2023) menyebut fenomena ini sebagai crisis of human essence krisis kemanusiaan yang muncul ketika teknologi kehilangan arah moral dan spiritual. Dalam konteks inilah, santri hadir sebagai penjaga ruh peradaban, yang memadukan dzikir dan fikir, iman dan ilmu, serta teknologi dan etika.
“Santri adalah manusia yang ruhnya terdidik, ilmunya berakar pada wahyu, dan langkahnya menapaki bumi dengan cahaya langit.” Prof. Iskandar, Ruhiologi 2025
Santri: Penjaga Ruh di Tengah Dunia yang Mekanis
Secara historis, pesantren bukan hanya lembaga pendidikan agama, tetapi juga pusat pembentukan karakter ruhani. Dalam tradisi pesantren, ilmu bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan tazkiyatun nafs penyucian jiwa melalui proses belajar.
Dalam pandangan Al-Ghazali (dalam Nasr, 2007), ilmu yang tidak disertai kesadaran ruhani akan kehilangan berkahnya (barakah al-‘ilm). Di sinilah posisi santri menjadi penting: menjaga agar ilmu tetap memiliki ruh, agar kemajuan tidak menjadi kehancuran batin.
Di era mesin cerdas, santri bukan ditantang untuk menolak teknologi, tetapi menjinakkan teknologi agar tetap manusiawi. AI bisa meniru pikiran, tapi tidak bisa meniru kesadaran; bisa memproses data, tapi tidak bisa memahami makna.
AI dan Krisis Ruhani Global
Kecerdasan buatan telah membawa kemajuan luar biasa. Namun, banyak ilmuwan mulai mengingatkan dampak psikologis dan moral dari ketergantungan manusia pada mesin. Riset oleh Kahfi et al. (2024) menunjukkan bahwa penggunaan AI di pendidikan Islam memang meningkatkan efisiensi belajar, tetapi berpotensi mengikis nilai spiritual jika tidak diimbangi dengan pengawasan ruhani.
“The integration of AI in Islamic education improves efficiency, but spiritual integrity must be preserved through moral and value-based education” (Kahfi et al., 2024).
Fenomena ini selaras dengan refleksi filsafat Islam klasik: akal tanpa ruh akan kehilangan arah. Ruhiologi menegaskan bahwa manusia sejati bukanlah makhluk yang berpikir semata, tetapi yang menyadari dirinya sebagai emanasi Ruh Ilahi.
RQ (Ruhiology Quotient): Kecerdasan Ruhani sebagai Pembimbing AI
Kecerdasan Ruhiologi (RQ) merupakan paradigma baru yang menempatkan ruh sebagai pusat kesadaran dan sumber nilai. RQ bukan hanya kesalehan, tetapi kesadaran akan hakikat diri yang bersumber dari Allah.
Dalam kerangka RQ, keseimbangan manusia terdiri atas empat dimensi:
- IQ (Intellectual Quotient): kemampuan berpikir logis dan analitis;
- EQ (Emotional Quotient): kemampuan mengelola emosi dan empati;
- SQ (Spiritual Quotient): kesadaran terhadap makna dan tujuan hidup;
- RQ (Ruhiology Quotient): kesadaran ruhani yang menyatukan manusia dengan sumber nilai Ilahi.
Pesantren, sejatinya, telah mengajarkan RQ jauh sebelum istilah itu dikenal. Tradisi dzikir, tafakkur, muhasabah, dan khidmah adalah bentuk konkret pembinaan kecerdasan ruhani yang kini perlu dihidupkan kembali di tengah dunia AI.
“AI mungkin bisa berpikir cepat, tetapi hanya manusia ber-RQ tinggi yang mampu berpikir benar.” Refleksi Ruhiologi
Santri Digital dan Literasi Ruhani
Santri abad ke-21 dituntut menjadi santri digital bukan sekadar pengguna teknologi, tetapi pengendali makna. Penelitian Makhluf et al. (2023) menemukan bahwa literasi digital di pesantren cukup tinggi, namun belum sepenuhnya diimbangi dengan kesadaran etis dan spiritual.
Karenanya, pendidikan pesantren perlu memperluas kurikulumnya:
- Integrasi AI dalam pembelajaran kitab dan tafsir. Santri bisa belajar melalui platform AI, tetapi tetap dipandu oleh guru sebagai murabbi ruhani.
- Pelatihan literasi digital berbasis nilai. Setiap aktivitas daring disertai refleksi: “Apakah postinganku membawa cahaya atau kegelapan?”
- Etika penulisan dan riset AI. Santri diajarkan menulis dan menggunakan AI dengan niat ibadah dan tanggung jawab moral.
Taufikin et al. (2024) menunjukkan bahwa santri yang menggabungkan literasi digital dan kreativitas Islami mengalami peningkatan kepercayaan diri dan semangat belajar, tanpa kehilangan nilai keislaman.
Strategi Integrasi Ruhiologi dalam Pendidikan AI
Untuk menjaga keseimbangan antara ilmu dan ruh, dibutuhkan strategi integratif:
- Kurikulum berbasis RQ. Setiap pembelajaran teknologi disertai nilai-nilai ruhani dan ayat Al-Qur’an yang relevan (misalnya QS. Al-‘Alaq: 1 “Iqra’ bismi rabbika”).
- AI sebagai mitra zikir dan tafakkur. Gunakan AI untuk menemukan hikmah, bukan sekadar jawaban.
- Guru sebagai penjaga ruh. Di era AI, peran guru bukan sekadar penyampai informasi, tetapi pembimbing kesadaran.
- Riset AI beretika. AI dikembangkan bukan untuk menggantikan manusia, tetapi untuk memuliakan kemanusiaan.
Musthofa et al. (2024) menegaskan bahwa integrasi spiritual values dalam teknologi mampu menjaga keseimbangan karakter siswa.
Refleksi Ruhiologis Hari Santri
Hari Santri harus dibaca bukan hanya sebagai perayaan sejarah, tetapi sebagai momen restorasi ruhani.
Santri hari ini tidak lagi membawa bambu runcing, melainkan pena, kode, dan algoritma; namun perjuangannya tetap sama menjaga cahaya Ilahi agar tidak padam di tengah zaman digital.
“Jika dulu santri berperang melawan penjajahan fisik, maka kini santri berjuang melawan penjajahan batin dari gadget, algoritma, dan hawa nafsu digital.” Prof. Iskandar, Ruhiologi 2025
Santri yang ber-RQ tinggi akan menjadi insan kamil digital yang memadukan iman, ilmu, dan inovasi. Mereka tidak takut terhadap kemajuan, karena mereka tahu siapa yang memberi ilmu itu: Allah Al-‘Alim.
Menuju Peradaban Ber-Ruh
Dunia akan segera dipenuhi robot, algoritma, dan kecerdasan buatan. Namun masa depan tidak ditentukan oleh mesin, melainkan oleh manusia yang menyadari ruhnya.
Pesantren memiliki modal terbesar untuk melahirkan generasi seperti itu generasi yang berpikir dengan akal, berperasaan dengan hati, dan bertindak dengan ruh.
Maka, ketika santri menyapa AI, ia tidak sedang takut pada mesin, melainkan mengajarkan kepada mesin tentang makna menjadi manusia.
“Ilmu tanpa ruh adalah data tanpa arah. Santri adalah ruh bagi ilmu, dan ruh bagi peradaban.” Prof. Iskandar, Ruhiologi 2025
Referensi
Iskandar, I. (2022). Pendidikan ruhani berbasis kecerdasan ruhiologi: Perspektif pencapaian tujuan pendidikan nasional. El-Ghiroh: Jurnal Studi Keislaman, 20(1), 1–13. https://doi.org/10.37092/el-ghiroh.v20i01.366
Iskandar. (2025). Ruhiologi Paradigma Baru Pendidikan Holistik Abad 21. Muaro Jambi. Samaudra Inspirasi Ruhiologi
Kahfi, N. S., Reyza, F. A., Arrosikha, M., Nasrullah, M., & Histimuna, N. A. (2024). Artificial Intelligence in Islamic Religious Education: Balancing learning efficiency and safeguarding spiritual integrity in Indonesian higher education. INJECT: Interdisciplinary Journal of Communication, 10(1), 43–58. https://doi.org/10.18326/inject.v10i1.4325
Makhluf, A. Z., Khoerunnisa, N., Rondiyah, S. N., & Mu’aimanah, U. (2023). Digital readiness in Islamic education: A case study of Pesantren Assalafiyyah Mlangi Sleman, Indonesia. Journal of Islamic Education Management Research, 12(4), 311–329. https://doi.org/10.14421/jiemr.2023.12-04
Musthofa, M., Muna, N., & Farid, A. (2024). The impact of AI on the spiritual values and character of students. Proceedings of International Conference on Islamic Boarding School, 2(1), 77–88. https://doi.org/10.61159/icop.v2i1.619
Nasr, S. H. (2007). The Islamic Intellectual Tradition in the Modern World. London: Routledge.
Taufikin, T., Nurhayati, S., Badawi, H., Falah, A., & Sholihuddin, M. (2024). Integrating creative digital content in pesantren: Improving santri’s digital literacy and Islamic learning. Edukasia Islamika, 12(2), 101–116. https://doi.org/10.21043/edukasiaislamika.v12i2.987
UNESCO. (2023). Global Education Monitoring Report 2023: Technology in Education. Paris: UNESCO Publishing. https://unesdoc.unesco.org





