
Prof. Iskandar Nazari | Guru Besar Psikologi Pendidikan UIN STS Jambi | Founder Ruhiologi
Saat ini, kita tengah mengarungi apa yang disebut sebagai era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity) (Derlan, 2024). Di masa ini, perubahan terjadi dengan kecepatan yang tak terduga, dipengaruhi oleh faktor-faktor yang sulit dikontrol, dan realitas pun sering kali menjadi sangat subjektif, terutama bagi Generasi Z yang kesehariannya serba instan, teknologi telah menjelma menjadi sesuatu yang wajib digunakan dan tidak bisa dipisahkan dari denyut nadi kehidupan mereka (Nufus, 2024). Sayangnya, pusaran kemajuan yang cepat ini turut membawa krisis eksistensial yang mengkhawatirkan.
Kita tengah menyaksikan fenomena yang oleh Prof. Iskandar (2025) disebut sebagai “Berhala Baru” atau “Jahiliyah Digital”. Jika di masa lampau manusia menyembah patung batu, manusia modern kini menunduk dan sujud di depan layar gawainya4. Di era Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT), manusia tidak lagi menjadikan teknologi sekadar sebagai alat, melainkan layaknya “tuan” yang mengatur kehidupan45. Kecanduan layar kaca membuat manusia modern mengukur harga dirinya semata-mata dari jumlah likes dan followers, menciptakan kepasrahan pada “validasi algoritmik” yang perlahan mematikan fungsi nurani (Iskandar, 2025).
Ketika kepekaan hati meredup, dunia maya dengan mudah berubah menjadi ruang yang mengerikan. Sebuah riset mengungkap maraknya “Komunitas Marah-Marah” di platform media sosial X, yang beralih fungsi menjadi toxic space (ruang beracun) tempat melampiaskan ujaran kebencian, serangan personal, dan cyberbullying (Nugroho, 2025). Bahkan di ranah yang diklaim religius seperti TikTok, muncul ancaman komodifikasi spiritualitas; nilai-nilai agama sering kali dibungkus secara dangkal demi memenuhi hasrat algoritma popularitas dan menciptakan spiritualitas yang instan (Nurlaili, Suriyana, & Hariry, 2025).
Untuk melawan arus ini, kita membutuhkan strategi kognitif dan spiritual sekaligus. Dr. Illah Saillah menyarankan konsep “VUCA versus VUCA” untuk membentengi diri, yaitu dengan menumbuhkan Vision (visi hidup yang mandiri), Understanding (pemahaman mendalam), Clarity (kejernihan pemikiran dalam memecahkan masalah), dan Awareness (kewaspadaan terhadap perubahan) (Universitas Esa Unggul, 2017). Strategi ini harus diperkuat dengan kompetensi literasi digital, yakni kemampuan untuk tidak hanya membaca, tetapi juga mengevaluasi kebenaran informasi secara kritis di dunia maya (Falakh, 2021).
Namun, pendekatan intelektual tersebut harus disempurnakan dengan fondasi batin melalui pendekatan Ruhiologi. Dunia pendidikan dan pengembangan diri dewasa ini tidak bisa lagi berhenti pada sekadar stimulasi otak, melainkan harus bertransformasi menuju konsep deep learning (Iskandar, 2025). Pembelajaran ini bertujuan untuk melahirkan Ulil Albab yang paripurna melalui keseimbangan deep thinking (mengasah logika dan nalar), deep feeling (menumbuhkan empati dan kepekaan qalbu), dan deep faith (menguatkan keyakinan pada Sang Pencipta). Dengan menanamkan kecerdasan Ruhiologi ini, generasi muda tidak akan tenggelam menjadi objek dari kecerdasan buatan. Teknologi boleh saja memproduksi jawaban dengan cepat, tetapi manusia-lah yang harus tetap memegang kendali sebagai produsen pemakna, penilai kebenaran, dan penanya yang kritis (Iskandar, 2025).
Daftar Referensi
Derlan, A. M. (2024). Mengenal VUCA: Pengertian, Sejarah dan Cara Menghadapinya. Jakarta Daily Indonesia.
Falakh, M. F. (2021). Kompetensi Literasi Digital untuk Menghadapi VUCA Era. Kompasiana.com.
Iskandar. (2025). Fenomena Berhala Baru di Era Digital: Ketika Teknologi Menjadi Tuhan: “Perspektif Ruhiologi”. Samudraruhiologi.com.
Iskandar. (2025). Ruhiologi Paradigma Baru Pendidikan Holistik Abad 21. Jambi: Samudra Inspirasi Ruhiologi.
Nufus, T. Z. (2024). Era VUCA: Pengertian dan Strategi Gen-Z dalam Menghadapi Era VUCA. Kompasiana.com.
Nugroho, A. (2025). Mahasiswa UGM Teliti Fenomena Munculnya Komunitas Suka Marah-Marah di Medsos. Universitas Gadjah Mada.
Nurlaili, S., Suriyana, E., & Hariry, S. (2025). Spiritualitas di Era Digital: Studi Literatur tentang Kesejahteraan Psikologis dan Konsumsi Konten Religius di Aplikasi TikTok. JPIM: Jurnal Penelitian Ilmiah Multidisipliner, 1(3), 1088-1097.
Universitas Esa Unggul. (2017). VUCA Versus VUCA, Bekal Kamu Saat Lulus Nanti. Esaunggul.ac.id.




