
Prof. Iskandar Nazari _Founder Ruhiologi
Mengapa ada orang yang menyambut Ramadhan dengan bayangan “haus dan lapar”, sementara bagi yang lain ia adalah pesta ruhani yang paling dirindukan?
Sering kali kita memasuki bulan suci dengan “frekuensi” batin yang masih berantakan. Fokus kita terjebak pada persiapan fisik, belanjaan, atau rasa takut akan lelahnya berpuasa. Akibatnya, Ramadhan hanya lewat sebagai ritual mekanis tanpa sempat menyentuh dan mengubah struktur batin. Jiwa tetap terasa gersang di tengah samudera rahmat karena navigasi hati kita belum diarahkan pada kegembiraan spiritual.
“Katakanlah (Muhammad), ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.'” (QS. Yunus: 58)
Dalam perspektif Ruhiologi, Ramadhan adalah momentum aktivasi ‘God Light’ secara masif. Solusinya adalah melakukan “Sinkronisasi Kegembiraan” sejak sekarang. Masuki bulan ini dengan frekuensi cinta, bukan beban. Gunakan RQ (Ruhiologi Quotient) Anda untuk menyadari bahwa rasa lapar saat puasa adalah cara batin “mengosongkan ruang” agar bisa diisi penuh oleh Cahaya Tuhan. Saat hati gembira, sel-sel tubuh akan ikut bergetar dalam frekuensi syukur yang membuat ibadah terasa ringan dan nikmat.
Mari bersihkan navigasi batin hari ini. Tersenyumlah dan katakan pada diri sendiri: “Selamat datang Ramadhan 1447H bulan cahaya; Mohon maaf lahir & bathin, aku menyambutmu dengan ruh yang rindu.” Sudahkah Anda menyetel frekuensi batin Anda pada gelombang kegembiraan hari ini?
#Ruhiologi #RamadhanMubarak #KegembiraanRuhani #RQ #SamudraInspirasi #GodSpot #GidLight








