Oleh: Prof. Iskandar
Founder Ruhiologi
Momentum Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama 2026, satu pertanyaan besar mengusik nurani kita bersama: mengapa perilaku manusia termasuk kaum terdidik tidak selalu bergerak ke arah yang lebih beradab?
Pertanyaan ini tidak lahir dari kecurigaan moral, melainkan dari realitas empirik. Data terbaru Kementerian Agama Republik Indonesia menunjukkan bahwa 58,26 persen guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah dasar belum fasih membaca Al-Qur’an secara tartil dan sesuai kaidah tajwid, atau masih berada pada level dasar (pratama). Temuan ini berasal dari asesmen nasional terhadap lebih dari 160 ribu guru PAI SD dan SDLB di seluruh Indonesia (Antara News).
Data ini bukan sekadar angka administratif. Ia adalah alarm kebijakan nasional. Guru agama adalah garda terdepan pembentukan literasi keagamaan dan keteladanan moral. Ketika bacaan Al-Qur’an belum fasih, pesan kitab suci itu berpotensi tersampaikan setengah hati, bahkan gagal menyentuh dimensi terdalam kesadaran peserta didik.
Al-Qur’an sendiri telah memberi peringatan yang sangat jujur:
“Maka apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)
Ayat ini bukan kritik atas kemampuan teknis membaca, melainkan kritik atas ketertutupan kesadaran. Ketika ayat tidak mengubah perilaku, bukan Al-Qur’an yang kehilangan cahaya melainkan hati manusia yang belum siap diterangi.
HAB 2026 dan Kritik Pendidikan yang Terjebak di Kepala
Momentum HAB 2026 seharusnya tidak berhenti pada seremoni, slogan, atau laporan capaian administratif. Ia mesti menjadi ruang muhasabah nasional: apakah pendidikan agama kita sungguh membentuk manusia yang berkesadaran Ilaihiah, atau hanya mencetak kompetensi kognitif?
Selama ini, dunia pendidikan termasuk pendidikan agama terlalu lama terjebak pada fakultas akal semata. Keberhasilan diukur melalui skor, peringkat, indeks prestasi, dan capaian kurikulum. Bahkan ketika konsep IQ, EQ, SQ, hingga kecerdasan buatan (AI) diperkenalkan, ia sering berhenti sebagai istilah populer, bukan transformasi kesadaran.
Akibatnya, lahirlah generasi yang cerdas secara intelektual (IQ), cukup adaptif secara emosional (EQ), religius secara simbolik (SQ), dan mahir teknologi (AI), namun gagap nurani.
Fenomena guru agama yang belum fasih membaca Al-Qur’an kerap dipahami sebagai problem teknis. Padahal, persoalan yang lebih dalam adalah kekosongan jiwa. Kurikulum boleh berganti, metode boleh dimodernisasi, tetapi tanpa sentuhan kesadaran ruhani, pendidikan berisiko melahirkan manusia pintar yang kering makna.
Rasulullah SAW menjadi antitesis dari pendidikan yang terjebak di kepala. Aisyah r.a. menegaskan bahwa akhlak beliau adalah Al-Qur’an. Artinya, ayat tidak berhenti di lisan, tetapi menjelma menjadi laku hidup.
Krisis Abad 21 dan Tanggung Jawab Keagamaan
Pemikir Muslim terkemuka, Prof. Seyyed Hossein Nasr, sejak lama mengingatkan bahwa peradaban modern mengalami krisis multidimensi: krisis identitas manusia, krisis spiritualitas, dan krisis lingkungan. Ketiganya berakar pada satu sumber yang sama: terputusnya relasi manusia dengan Yang Transenden.
Indonesia memberi contoh konkret. Kerusakan lingkungan bukan semata akibat kurangnya teknologi, tetapi buah dari keserakahan dan hilangnya rasa cukup: deforestasi masif, tambang yang merusak ekosistem, pencemaran sungai dan laut, serta alih fungsi lahan tanpa nurani.
Al-Qur’an memberi diagnosis yang tajam:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rūm: 41)
Ini bukan sekadar ayat ekologi, tetapi kritik moral. Alam rusak karena jiwa manusia rusak. Dan pendidikan agama memiliki peran strategis untuk memulihkan jiwa itu.
Kurikulum Cinta: Dari Hafalan ke Penyadaran Nurani
Di titik inilah dibutuhkan gebrakan kurikulum. Bukan sekadar penambahan materi atau revisi administrasi, melainkan pergeseran orientasi pendidikan ke arah cinta dan kesadaran.
Selama ini, pendidikan agama terlalu menekankan hafalan dan kognisi. Ayat diperlakukan sebagai teks yang harus diingat, bukan pesan yang harus menggerakkan nurani. Akibatnya, agama hadir sebagai mata pelajaran, bukan pengalaman batin.
Inilah kegagalan kurikulum nilai: nilai diajarkan, tetapi tidak diinternalisasikan.
Kurikulum Cinta mengembalikan inti pendidikan agama pada ruh kasih, amanah, dan tanggung jawab ilahiah. Cinta kepada Tuhan yang melahirkan kejujuran. Cinta kepada sesama yang melahirkan empati. Cinta kepada alam yang melahirkan penjagaan.
Dalam konteks ini, Ruhiologi sebagaimana dikembangkan oleh Prof. Iskandar menawarkan pendekatan yang relevan dan kontekstual. Ruhiologi tidak meniadakan IQ, EQ, SQ, atau AI, tetapi menyelaraskannya dalam satu poros: Ruhiology Quotient (RQ) kecerdasan kesadaran ruhani yang hidup dan bertanggung jawab.
RQ bukan hafalan nilai, melainkan internalisasi nilai.
Bukan simbol religius, melainkan kesadaran etis.
Bukan sekadar tahu ayat, tetapi berubah oleh ayat.
Melalui Ruhiologi, kurikulum cinta menjadi operasional: ayat dihadirkan sebagai cermin diri, ibadah sebagai ruang pemulihan nurani, dan pendidikan sebagai proses pemanusiaan manusia.
Memasuki HAB 2026, pertanyaan kita seharusnya bukan lagi: berapa banyak ayat yang dibaca, tetapi nilai apa yang berubah hari ini.
Al-Qur’an tidak diturunkan untuk rak buku, lomba hafalan, atau statistik religius, melainkan untuk membimbing hidup dan peradaban.
Jika HAB hanya dirayakan tanpa hijrah kesadaran, maka krisis identitas, spiritualitas, dan lingkungan akan terus berulang.
Dan pada titik itu, pertanyaan nurani kembali menghantui kita: ayat sudah dibaca, tetapi mengapa dunia belum berubah?
Jawabannya sederhana, tetapi menuntut keberanian: yang perlu dihijrahkan bukan ayatnya, melainkan kesadaran kita.





