Analisis Perspektif Ruhiologi terhadap Ledakan Perceraian Muda 2025
Oleh: Prof. Iskandar Nazari, S.Ag., M.Pd., M.S.I., M.H., Ph.D.
Guru Besar Psikologi Pendidikan & Founder Ruhiologi
Ledakan Perceraian di Usia Muda
Kota Jambi sedang menghadapi krisis sunyi di balik angka. Data Pengadilan Agama Kota Jambi mencatat 1.370 perkara perceraian sepanjang 2025, dengan 1.144 di antaranya merupakan gugatan cerai dari pihak istri (PA Jambi, 2025). Artinya, lebih dari 1.000 perempuan resmi berstatus janda baru dalam satu tahun terakhir, sebuah lonjakan yang mencerminkan gejala sosial serius.
Mayoritas kasus datang dari kelompok usia muda 20–30 tahun, dengan usia pernikahan rata-rata di bawah lima tahun. Faktor penyebab terbanyak: masalah ekonomi, pinjaman online, perselingkuhan, dan judi daring. Namun, jika ditelisik lebih dalam, akar persoalan bukan hanya sosial atau ekonomi melainkan krisis ruhani dan hilangnya kesadaran spiritual dalam berkeluarga.
Pernikahan dalam Perspektif Ruhiologi
Dalam pandangan Ruhiologi, pernikahan bukan sekadar penyatuan dua jasad, tetapi penyatuan dua ruh yang bersumpah di hadapan Allah untuk menapaki jalan Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah.
Ia bukan kontrak sosial, melainkan perjanjian sakral (mitsaqan ghalizha), sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an: “…Dan mereka (istri-istri itu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat (mitsaqan ghalizha).” (QS. An-Nisa’ [4]: 21)
Sayangnya, ketika ruh itu absen, pernikahan kehilangan makna ibadah. Rumah tangga menjadi arena tuntutan, bukan ruang pertumbuhan. Ego menggantikan kasih, dan komunikasi berubah menjadi kompetisi emosi.
Inilah yang disebut dalam Ruhiologi sebagai “kehampaan ruhani dalam hubungan insani” hubungan yang hidup secara fisik, tapi mati secara spiritual.
Cinta yang Kehilangan Ruh
Rasulullah SAW menegaskan: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini menegaskan bahwa kualitas rumah tangga diukur dari kematangan ruhani, bukan lamanya hubungan. Namun, banyak pasangan muda hari ini menikah karena cinta emosional, bukan karena kesadaran spiritual. Mereka belum menumbuhkan God Consciousness (kesadaran Ilahi) dalam relasi. Akibatnya, ketika konflik datang, cinta berubah menjadi luka karena tidak ada energi ruhani yang menopangnya.
Dalam terminologi Ruhiologi, krisis ini adalah tanda lemahnya RQ (Ruhiology Quotient) yaitu kemampuan memahami makna spiritual di balik setiap hubungan dan ujian kehidupan.
Pesan Ruhiologis: Restorasi Ruhani Keluarga
Al-Qur’an mengingatkan: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum [30]: 21)
Ayat ini menjadi peta bagi keluarga Ruhiologis: sakinah (ketenangan), mawaddah (cinta sejati), dan rahmah (kasih sayang) adalah tiga ruh yang menjiwai keluarga. Jika salah satunya hilang, rumah tangga kehilangan God Light — cahaya ilahi yang menuntun akal dan hati.
Pendidikan pra-nikah seharusnya bukan sekadar pelajaran administratif, melainkan latihan konsentrasi dan kontemplasi ruhani, sebagaimana prinsip Iqra’ bismirabbik — membaca kehidupan dengan kesadaran kepada Tuhan. Dari sinilah muncul God Spot dalam jiwa, yang memancarkan God Light untuk membimbing setiap keputusan dan perilaku keluarga.
Kunci Ruhiologi
“Bila ruh terdidik, cinta menjadi ibadah; bila ruh hilang, cinta menjadi beban.”
Membangun keluarga berarti membangun rumah bagi ruh tempat tumbuhnya sabar, syukur, empati, dan kasih dalam cahaya Ilahi. Krisis perceraian muda adalah alarm batin bangsa: bahwa restorasi keluarga harus dimulai dari restorasi ruhani. “Rumah tangga bukan tempat bernaung dari hujan dunia, tapi tempat menumbuhkan taman ruhani menuju surga.”
Referensi
Pengadilan Agama Kota Jambi. (2025). Laporan Statistik Perkara Tahun 2025. Jambi: PA Kota Jambi.
Al-Qur’an: QS. An-Nisa’ [4]: 21; QS. Ar-Rum [30]: 21.
Hadis Riwayat Tirmidzi tentang akhlak terhadap keluarga.
Iskandar. (2025). Ruhiologi: Paradigma Baru Pendidikan Holistik Abad 21. Jambi: Samudra Inspirasi.





