“Mari Aktivasi Nilai Iqra’ Bismirabbik dalam setiap Nafas Kesadaran Tindaklaku Kehidupan”
Oleh: Prof. Iskandar _Guru Besar Psikologi Pendidikan _Founder Ruhiologi _CEO (SIR) Samudra Inspirasi Ruhiologi.
Peristiwa pengeroyokan guru oleh murid di SMK Jambi hanyalah sebuah puncak gunung es dari krisis peradaban yang jauh lebih mengerikan. Di bawah permukaan, dunia pendidikan kita sedang mengalami “keguguran ruhani”. Ketika tangan yang seharusnya menyalami justru memukul, kita tidak sedang sekadar menghadapi masalah disiplin, melainkan sebuah disorientasi eksistensial yang akut.
Sains yang “Yatim Piatu”: Kehampaan di Balik Kecanggihan
Masalah utama pendidikan hari ini adalah sekularisme ruhani. Kita memuja sains dan teknologi seolah mereka adalah entitas yang berdiri sendiri, lepas dari napas Kitab Suci. Kita telah memisahkan ayat-ayat kauniyah (alam semesta) dari ayat-ayat qauliyah (firman Tuhan).
Akibatnya, lahirlah fenomena “Loss Informasi”. Di era banjir data, murid-murid kita pintar secara intelektual namun buta secara spiritual. Mereka menguasai perangkat digital namun kehilangan kompas moral. Teknologi tanpa bimbingan Wahyu hanya akan menjadi alat pemuas ego dan agresivitas. Inilah hasil dari pendidikan yang hanya melatih raga dan logika, namun membiarkan ruh kelaparan.
Paradigma Ruhiologi: Aktivasi Iqra’ Bismirabbik
Pendidikan holistik berbasis Ruhiologi menawarkan jalan pulang. Tugas utama pendidikan bukanlah sekadar membuat murid “tahu”, melainkan membuka kesadaran tertinggi melalui aktivasi “Iqra’ Bismirabbik” (Bacalah dengan nama Tuhanmu).
Tanpa “Bismirabbik”, proses belajar hanyalah pengumpulan data mati. Namun dengan aktivasi ini, setiap rumus kimia, baris kode pemrograman, hingga teori mesin di SMK, berubah menjadi jalan untuk mengenal pencipta. Pendidikan harus menjadi proses kontemplasi dan konsentrasi yang mendalam, bukan sekadar hafalan yang dangkal.
Menemukan God Spot dan Pancaran God Light
Melalui pendekatan konsentrasi_ kontemplatif, pendidikan seharusnya mampu menyentuh “God Spot” dalam diri manusia sebuah titik kesadaran di mana seorang hamba merasakan kehadiran Tuhan yang sangat dekat.
Ketika titik ini aktif, lahirlah energi ketaatan yang tulus. Dari ketaatan inilah Akhlak memancar secara alami. Akhlak bukan lagi soal kepatuhan karena takut sanksi sekolah, melainkan pancaran dari “God Light” (Cahaya Tuhan) yang membimbing setiap langkah, tutur kata, dan tindakan manusia. Seorang murid yang memiliki God Light di hatinya tidak akan mungkin mengangkat tangan untuk menyakiti gurunya, karena ia melihat gurunya sebagai pembawa cahaya ilmu ilahi.
Tajdid: Mendidik Sesuai Zaman, Menjaga Warisan
Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. berpesan: “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya.” Di era teknologi ini, pesan tersebut menuntut kita untuk melakukan Tajdid (Pembaruan) pendidikan setiap seratus tahun.
Namun, mendidik sesuai zaman bukan berarti membiarkan anak-anak hanyut dalam arus teknologi yang nihil adab. Tajdid sejati adalah mengawinkan kembali kecanggihan zaman dengan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Kita butuh generasi yang tangannya ahli mengoperasikan teknologi masa depan, namun hatinya tetap tertunduk khusyuk di hadapan kebenaran abadi.
Mengembalikan Sekolah sebagai Bengkel Jiwa
Tragedi di Jambi Alarm untuk pendidikan Nasional sebagai teguran keras bagi para stakeholder pendidikan. Berhenti memperlakukan sekolah seperti pabrik tenaga kerja yang dingin. Kembalikan sekolah sebagai “Baitul Arwah” (Rumah bagi Jiwa-jiwa).
Mari kita jemput fajar pendidikan baru. Hanya dengan menyentuh kesadaran tertinggi dan menghidupkan kembali “Ruh” dalam setiap sendi pengajaran, kita dapat melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga mulia secara hakiki. Karena tanpa cahaya Tuhan, sains hanya akan membawa kita pada kehancuran yang sangat canggih.




