Prof. Iskandar, S.Ag., M.Pd., M.S.I., M.H., Ph.D
(Guru Besar Psikologi Pendidikan _Founder Ruhiologi _CEO Samudra Inspirasi Ruhiologi)
JAMBI – Dunia pendidikan Indonesia kembali tersentak oleh horor nyata yang mempertontonkan runtuhnya adab secara brutal. Insiden di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, yang melibatkan guru bernama AS dan puluhan siswanya, bukan lagi sekadar berita kriminal biasa. Ini adalah “Kiamat Adab” di mana ruang kelas berubah menjadi arena laga, dan lisan berubah menjadi belati.
Berdasarkan laporan media arus utama (Tribun Jambi, DetikSumbagsel), ketegangan ini memuncak ketika sang guru dikeroyok oleh massa siswa hingga ia terpaksa membawa celurit ke sekolah sebagai bentuk pembelaan diri. Namun, di balik aksi fisik tersebut, tersimpan pemicu yang jauh lebih dalam: dugaan penghinaan verbal terkait status ekonomi siswa (“miskin”).
Melalui kacamata Ruhiologi, fenomena ini adalah manifestasi dari “Kematian Resonansi Jiwa” dalam pendidikan kita.
1. Tragedi “Besi” Menggantikan “Hati”
Dalam kajian Ruhiologi, seorang pendidik adalah pemegang amanah ruhani yang memiliki Wibawa Transendental. Kekuatan seorang guru seharusnya terletak pada “Nur” atau cahaya batin yang membuat murid tunduk karena rasa hormat, bukan karena takut secara fisik.
Ketika seorang guru di Jambi merasa perlu membawa celurit instrumen besi yang dingin dan mematikan ke lingkungan sekolah, itu adalah pernyataan resmi bahwa “Pedang Ruhani”nya telah patah. Saat hati tidak lagi sanggup menyentuh hati, maka besi dipaksa berbicara. Ini adalah titik nadir di mana kewibawaan spiritual telah digantikan oleh intimidasi material.
2. Lisan Beracun: Polusi yang Mematikan Ruh
Fakta bahwa konflik ini dipicu oleh ucapan yang merendahkan martabat murid adalah bentuk “Polusi Ruhani” yang fatal. Dalam Ruhiologi, kata-kata adalah manifestasi dari getaran jiwa.
Serangan pada Esensi: Ucapan “miskin” yang keluar dari lisan seorang guru bukan sekadar hinaan sosial, melainkan serangan langsung pada martabat ruhani sang murid.
Ledakan Nafsu Kolektif: Serangan verbal ini membangkitkan Nafsu Ammarah (jiwa yang reaktif) secara masif. Murid-murid yang kehilangan arah ruhani seketika berubah menjadi “serigala” yang mengeroyok gurunya. Terjadi kondisi Soul Loss (kehilangan kendali jiwa), di mana kedua belah pihak tidak lagi sadar akan hakikat kemanusiaannya.
3. Fenomena Gunung Es: Pendidikan yang “Anemis” Spiritual
Viralnya video pengeroyokan di Jambi hanyalah puncak dari gunung es yang jauh lebih besar. Di bawah permukaan, sistem pendidikan kita sedang menderita “Anemia Spiritual”:
Pabrik Nilai, Bukan Taman Jiwa: Sekolah terlalu fokus pada angka dan akreditasi, namun membiarkan batin guru dan murid kerontang tanpa asupan Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa).
Relasi Transaksional: Hubungan guru-murid telah terdegradasi menjadi sekadar hubungan buruh dan konsumen. Tidak ada lagi koneksi “Ruh ke Ruh” yang saling mendoakan dan menjaga.
4. Solusi: Restorasi Ruhiologi dalam Pendidikan
Kita tidak bisa lagi hanya bicara soal sanksi administratif, mediasi polisi, atau pemecatan. Masalah Jambi adalah alarm bahwa pendidikan kita sedang sakit secara eksistensial.
Samudra Inspirasi Ruhiologi mendesak adanya Restorasi Kesadaran Ruhani. Pendidikan harus dikembalikan pada hakikatnya sebagai proses “memuliakan Kemanusiaan Manusia”. Guru harus kembali menjadi sumber cahaya yang telah selesai dengan egonya sendiri, sehingga lisan mereka menjadi penyejuk, bukan penghancur.
Tanpa restorasi ini, sekolah-sekolah kita hanya akan melahirkan robot-robot pintar yang memiliki kecerdasan intelektual namun memiliki “mati” secara nurani.
Referensi Fakta:
Laporan Khusus: “Pengeroyokan Guru di SMKN 3 Tanjab Timur,” Tribun Jambi, Januari 2026.
Berita Nasional: “Guru Jambi Bawa Celurit demi Bela Diri,” DetikSumbagsel, Januari 2026.
Pantauan Mediasi: Laporan Humas Polres Tanjung Jabung Timur terkait konflik pendidik dan siswa.




