Prof. Iskandar, Guru Besar Psikologi Pendidikan UIN Sutha Jambi & Founder Ruhiologi
Ringkasan Eksekutif
Program Sekolah Rakyat yang kini mulai berjalan di berbagai daerah Indonesia, termasuk dua lokasi di Provinsi Jambi, membawa semangat baru dalam pemerataan akses pendidikan. Namun, dari perspektif Pendidikan Holistik berbasis Ruhiologi, kebijakan ini masih bersifat administratif dan reaktif, belum menyentuh esensi ruhani dan psikologis pendidikan sebagai proses penyadaran manusia seutuhnya.
Sebagaimana ditegaskan oleh Prof. Iskandar: “Pendidikan rakyat tidak boleh hanya menjadi proyek sosial, melainkan gerakan ruhani bangsa untuk menumbuhkan kembali cahaya kesadaran agar manusia dididik bukan hanya untuk hidup, tetapi untuk menghadirkan kehidupan yang bermakna.”
Paradigma Ruhiologi: RQ sebagai Pusat Kesadaran Kecerdasan
Menurut Kompas (15 Juli 2025), Sekolah Rakyat di Jambi bahkan mulai menggunakan papan tulis digital dan teknologi AI. Ini langkah baik, tetapi Prof. Iskandar menekankan bahwa teknologi hanyalah alat, bukan ruh pendidikan. Kurikulum harus memastikan integrasi lima kecerdasan utama: Dalam kerangka Psikologi Pendidikan, manusia memiliki banyak potensi intelektual dan emosional, tetapi seluruh potensi itu hanya berfungsi optimal bila terhubung dengan sumber kesadarannya Ruh.
Ruhiology Quotient (RQ) bukan sekadar tambahan dari IQ, EQ, SQ, dan AI-Q, tetapi inti kesadaran yang menggerakkan semuanya.
Jika IQ menggerakkan pikiran, EQ mengatur perasaan, SQ memberi arah makna, dan AI-Q menyesuaikan manusia dengan zaman digital, maka RQ-lah yang menghidupkan, menuntun, dan mengintegrasikan seluruh kecerdasan itu dalam satu kesadaran Ilahiah.
| Lapisan Kecerdasan | Fungsi | Relasi dengan RQ |
| IQ | Menganalisis, berpikir logis, dan rasional | Diarahkan oleh RQ agar ilmu melahirkan kebijaksanaan |
| EQ | Mengelola emosi dan membangun empati | Dihidupkan oleh RQ agar kasih sayang menjadi nilai spiritual |
| SQ | Mencari makna dan kesadaran transendental | Dihubungkan oleh RQ agar spiritualitas bersumber dari kesadaran ruhani, bukan ritual semata |
| AI-Q | Adaptasi etis terhadap teknologi | Diawasi oleh RQ agar teknologi tunduk kepada nilai-nilai kemanusiaan |
| RQ | Pusat kesadaran Ilahi dalam diri manusia | Menggerakkan, menyinergikan, dan mengarahkan seluruh kecerdasan menuju Tuhan dan kemanusiaan |
Dengan demikian, pendidikan berbasis Ruhiologi bukan sekadar transfer ilmu (teaching of knowledge), tetapi aktivasi cahaya kesadaran ketuhanan, suatu proses tajalli ruhani (pencerahan jiwa) yang menuntun peserta didik menjadi manusia sadar Tuhan (God-conscious human being).
Dimensi Konstitusional dan Filosofis
UUD 1945 dan Pancasila, khususnya Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa, menegaskan bahwa pendidikan Indonesia harus berakar pada kesadaran Ketuhanan. Namun, arah kebijakan Sekolah Rakyat hari ini masih reduktif — lebih dekat pada program sosial daripada visi filosofis pendidikan bangsa.
Sebagaimana dikritisi Okky Madasari (2025), penempatan program ini di bawah Kementerian Sosial menimbulkan kesan bahwa pendidikan rakyat adalah urusan kemiskinan, bukan kemanusiaan. Padahal, pendidikan adalah hak asasi dan jalan menuju kemerdekaan jiwa.
Ki Hadjar Dewantara (1949) telah menegaskan, “Pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.”
Maka, Sekolah Rakyat harus menjadi institusi pemerdekaan jiwa, bukan sekadar ruang belas kasihan negara.
Stigma Psikologis dan Tantangan Sosial
Dari perspektif Psikologi Sosial Pendidikan, Sekolah Rakyat menimbulkan dua stigma besar:
- Positif: Simbol keadilan sosial dan empati negara terhadap rakyat kecil.
- Negatif: Dianggap proyek politis tanpa jaminan mutu dan kejelasan masa depan.
Bandura (1997) mengingatkan bahwa label sosial berpengaruh terhadap self-efficacy. Jika anak-anak menginternalisasi label “sekolah untuk orang miskin”, mereka berisiko tumbuh dengan inferioritas psikologis. Oleh karena itu, branding dan komunikasi publik Sekolah Rakyat harus diarahkan pada narasi pemberdayaan — bukan belas kasihan.
Catatan Kritis: Hindari Sindrom Proyek Mercusuar
Sebagaimana disorot di Jambi Link oleh Prof. Mukhtar, Tenaga Ahli Gubernur Jambi (08-10-25). Pendidikan sejatinya bukan sekedar proses transfer ilmu, tetapi upaya memerdekan manusia dari ketergantungan dan kemisikinan. Sekolah Rakyat, jika dikelol dengan baik, dapat menjadi simbol keadilan sosial di bumi Jambi.
Perubahan banyak kebijkan di Indonesia gagal karena tidak memiliki ruh filosofis yang konsisten. Gonta-ganti kurikulum, sekolah berbasis Internasional (SBI), merdeka belajar, program berbasis proyek, dan jargon inovatif tanpa dasar psikologis hanya menjadikan rakyat kelinci percobaan kebijakan.
Prof. Iskandar menegaskan: “Pendidikan sejati bukan proyek kebijakan, melainkan perjalanan ruhani kolektif bangsa untuk menemukan kembali cahaya dirinya.”
Karena itu, keberhasilan Sekolah Rakyat harus diukur bukan dari jumlah sekolah berdiri, melainkan dari kualitas kesadaran manusia yang tumbuh di dalamnya — sadar diri, sadar sosial, dan sadar Ilahi.
Kurikulum Integratif: Dari IQ ke RQ
Kurikulum Sekolah Rakyat seharusnya tidak hanya berisi literasi dasar dan keterampilan vokasional, tetapi harus menjadi kurikulum kesadaran.
- IQ: Melatih berpikir kritis, logika, dan literasi sains.
- EQ: Menumbuhkan empati, kerja sama, dan komunikasi.
- SQ: Menyadarkan makna hidup dan nilai spiritualitas.
- AI-Q: Mengajarkan etika digital dan kemandirian teknologi.
- RQ (Inti): Menghubungkan seluruh pembelajaran pada Tuhan, nilai moral, dan kesadaran diri terdalam.
RQ menjadi poros filosofis yang memastikan bahwa semua pembelajaran kembali pada fitrah kemanusiaan dan keilahian — sebagaimana firman Allah dalam Surah As-Sajdah ayat 9: “Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalamnya ruh-Nya…” Ayat ini menjadi fondasi Ruhiologi: pendidikan sejati harus menyalakan ruh, bukan hanya mengisi akal.
Standar Mutu, Kesetaraan, dan Blueprint Psikologis
Agar Sekolah Rakyat tidak menjadi sekolah pinggiran, pemerintah harus menjamin:
- Rekognisi akademik nasional: lulusan diakui dijamamin masuk ke di perguruan tinggi Unggulan dan dunia kerja (BUMN).
- Kurikulum berbasis nilai dan kesadaran, bukan sekadar keterampilan.
- Keseimbangan psikologis: sistem belajar yang memanusiakan, bukan memaksa.
- Pelatihan guru berbasis RQ: agar pendidik menjadi murabbi ruhani bukan sekadar pengajar administratif.
Penutup: Sekolah Rakyat Sebagai Sekolah Peradaban Berkesadaran
Sekolah Rakyat bukanlah proyek sosial, melainkan proyek peradaban Intelektual Berkesadaran Ketuhanan. Jika ruh pendidikan mati, bangsa ini akan kehilangan arah secerdas apa pun sistemnya.”
Maka, keberhasilan Sekolah Rakyat tidak diukur dari jumlah sekolah yang dibangun, melainkan dari tingkat kesadaran ruhani yang tumbuh di dalamnya: sadar diri, sadar sosial, dan sadar Ilahi yang mana negara ini berdasarkan kepada Ketuahanan YME.
Bila pendidikan mampu menghidupkan RQ sebagai pusat kecerdasan manusia, maka Indonesia akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas akalnya, tetapi juga berjiwa terang dan beradab tinggi.
Referensi
Al Qur’an Al Karim dan Terjemahannya.
Bandura, Albert. 1997. Self-efficacy – The Exercise of Control, New York: W.H. Freeman and Company.
Iskandar (2025). Ruhiologi: Paradigma Baru Pendidikan Holistik. Muaro Jambi: Samudra Inspirasi Ruhiologi
Mukhtar, M. (2025). Analisis Kebijakan Sekolah Rakyat di Provinsi Jambi. Tenaga Gubernur Jambi. https://jambilink.id/post/5812/sekolah-rakyat-untuk-siapa-antara-kemiskinan-dan-partisipasi-pendidikan-di-provinsi-jambi
Kompas (2025). “Wajah Baru Sekolah Rakyat di Jambi: Papan Tulis Digital dan AI Jadi Andalan.”
Tilaar, H.A.R. (2015). Kebijakan Pendidikan Nasional dan Tantangan Globalisasi.
Okky Madasari (2025). “Kritik Sekolah Rakyat yang Dinaungi Kemensos.” Fajar.co.id.





