Prof. Iskandar – Founder Ruhiologi
Gagasan Ruhiologi sudah dipresentasikan pada pengukuhan Guru Besar Prof. Iskandar (Bidang Ilmu Psikologi Pendidikan) pada 14 Mei 2025 di UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi dan gagasan ini telah diterbitkan dalam bentuk buku “RUHIOLOGI Paradigma Baru Pendidikan Holistik Abad 21”, yang di refleksi kata pengantar 12 Rektor dari berbagai Perguruan Tinggi Indonesia dan 50 testimoni Profesor berbagai bidang keilmuan dari perguruan tinggi se-Indonesia. Dengan fokus melihat era disrupsi Abad ke-21 sering dirayakan sebagai era kecerdasan. Teknologi berkembang pesat, kecerdasan buatan meniru nalar manusia, dan pendidikan berlomba menghasilkan individu yang adaptif, cepat, dan kompetitif. Namun di balik kemajuan itu, tersimpan paradoks yang sulit diabaikan: manusia semakin pintar, tetapi semakin lelah; semakin terhubung, tetapi semakin kehilangan makna.
Sekolah dan universitas berhasil mencetak lulusan kompeten, tetapi sering gagal menumbuhkan manusia yang utuh manusia yang sadar diri, beretika, dan bertanggung jawab secara kemanusiaan. Krisis ini bukan sekadar problem pedagogis, melainkan krisis orientasi kesadaran. Di sinilah Ruhiologi menemukan relevansinya.
Ruhiologi bukan wacana spiritual normatif, apalagi romantisme keagamaan. Ia hadir sebagai kerangka analisis kesadaran manusia yang berupaya merestorasi arah pendidikan agar kembali berpihak pada manusia bukan semata pada sistem, angka, dan mesin.
Mengapa Ruhiologi Diperlukan?
Ruhiologi lahir dari kegelisahan epistemologis. Pendidikan modern cenderung mereduksi manusia menjadi makhluk kognitif dan fungsional. Keberhasilan diukur melalui skor, indeks, dan performa. Dimensi batin, nilai, dan nurani dipinggirkan sebagai urusan privat, bukan wilayah keilmuan.
Padahal Al-Qur’an sejak awal menegaskan bahwa inti kemanusiaan tidak berhenti pada jasad dan akal, melainkan bertumpu pada ruh:
“Kemudian Dia menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan ke dalamnya ruh ciptaan-Nya, dan Dia menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan, dan hati; tetapi sedikit sekali kamu bersyukur.” (QS. As-Sajdah [32]: 9)
Ayat ini memberi urutan yang jelas: ruh → kesadaran → fungsi indera → makna hidup. Ketika pendidikan melupakan ruh sebagai pusat orientasi, yang lahir adalah manusia terampil tetapi mudah kehilangan arah produktif tetapi rapuh secara eksistensial.
Batas Ilmu dan Posisi Ruhiologi
Ruhiologi tidak bermaksud mendefinisikan hakikat ruh secara ontologis. Al-Qur’an secara tegas menetapkan batas epistemologis manusia:
“Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan kamu tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit.”
(QS. Al-Isra’ [17]: 85)
Ayat ini bukan penolakan terhadap ilmu, melainkan penegasan batas otoritas pengetahuan. Manusia tidak diberi wewenang menjelaskan hakikat ruh, tetapi diberi ruang untuk mengamati dampak, fungsi, dan implikasinya dalam kehidupan nyata.
Di sinilah posisi Ruhiologi menjadi jelas: bukan ilmu tentang apa itu ruh, tetapi ilmu tentang bagaimana kesadaran ruhani bekerja dalam kehidupan manusia.
Dengan batas ini, Ruhiologi tetap berada dalam koridor ilmiah, terhindar dari spekulasi metafisik, dan konsisten dengan etika keilmuan Qur’ani.
Banyak Makna Ruh dalam Al-Qur’an
Untuk menghindari kebingungan konseptual, Ruhiologi menegaskan bahwa istilah ruh dalam Al-Qur’an memiliki banyak makna kontekstual:
- Ruh sebagai prinsip kehidupan dan kesadaran manusia
“Kemudian Dia menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan ke dalamnya ruh ciptaan-Nya…” (QS. As-Sajdah [32]: 9)
- Ruh sebagai wahyu atau Al-Qur’an
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh dari urusan Kami…” (QS. Asy-Syura [42]: 52)
- Ruh sebagai Malaikat Jibril (Ruh al-Qudus)
“Ruhul Amin turun membawanya.” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 193)
- Ruh sebagai penguatan atau pertolongan Ilahi
“Allah menguatkan mereka dengan ruh dari sisi-Nya.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 22)
Ruhiologi secara konsisten membatasi fokusnya pada makna pertama: ruh sebagai prinsip kesadaran manusia (lathifah rabbaniyyah). Pembatasan ini adalah fondasi epistemologis Ruhiologi agar tetap terukur, akademik, dan dapat dikaji secara empiris melalui gejala kesadaran, perilaku, dan orientasi nilai.
Ruh Manusia sebagai Subjek Ruhiologi
Berdasarkan QS. 32:9 dan QS. 15:29, ruh manusia dapat dipahami sebagai: Prinsip kehidupan (life principle); Sumber kesadaran moral dan makna serta Pusat orientasi nilai dan tanggung jawab etis. Al-Qur’an secara eksplisit mengaitkan ruh dengan: pendengaran (sam‘), penglihatan (abṣār), dan hati (af’idah). Ini menunjukkan bahwa ruh tidak bekerja di ruang metafisika kosong, melainkan termaterialisasi dalam kesadaran, keputusan, dan perilaku manusia. Di sinilah Ruhiologi menemukan wilayah ilmiahnya.
Ruhiologi sebagai Jalan Tengah Ilmiah
Dengan fondasi ayat-ayat Al-Qur’an yang jelas dan batas epistemik yang tegas, Ruhiologi menempati posisi jalan tengah: tidak jatuh pada spiritualisme kabur, tidak terjebak reduksionisme materialistik, dan tidak melampaui batas yang telah ditetapkan wahyu.
Ruhiologi adalah ikhtiar ilmiah yang rendah hati, mengakui keterbatasan pengetahuan manusia tentang ruh, sambil bertanggung jawab mengelola dampaknya dalam kehidupan nyata.
Dalam konteks inilah, Ruhiologi layak dibaca sebagai: ilmu tentang bagaimana manusia hidup dengan ruh, bukan tentang bagaimana ruh itu sendiri didefinisikan secara mutlak.
Fondasi Antropologis Ruhiologi
Ruhiologi memandang manusia sebagai makhluk bertingkat secara kesadaran. Tradisi Qur’ani dan keilmuan Islam mengenal struktur batin manusia: nafs, qalbu, ‘aql, dan ruh.
- Nafs menggerakkan dorongan dan insting.
- Qalbu adalah pusat rasa, nilai, dan kepekaan moral ia bisa hidup, sakit, atau mati.
- ‘Aql berfungsi sebagai instrumen nalar dan analisis.
- Ruh adalah pusat orientasi terdalam, sumber kesadaran transenden.
Krisis pendidikan modern bukan terletak pada lemahnya ‘aql, tetapi pada tidak terhubungnya ‘aql dengan qalbu dan ruh. Akibatnya, lahirlah manusia cerdas tetapi sinis, kritis tetapi kehilangan arah, dan unggul secara teknis tetapi hampa secara makna.
Kerja Empiris Ruhiologi
Dari kerangka ini, Ruhiologi mengembangkan konsep Ruhiology Quotient (RQ). RQ bukan tes psikometri sempit dan bukan pula klaim kecerdasan baru yang berdiri sendiri. Ia adalah kapasitas meta-regulatif: kemampuan mengarahkan seluruh potensi kecerdasan agar tetap selaras dengan nilai kemanusiaan.

Jika: IQ mengelola nalar, EQ mengelola emosi, SQ mengelola makna, AI mengelola teknologi, maka RQ mengelola orientasi kesadaran ke mana semua potensi itu diarahkan dan untuk apa ia digunakan. RQ memastikan kecerdasan tidak berjalan liar, tidak tunduk pada ego, dan tidak terjebak pada efisiensi tanpa etika.
Secara empiris, RQ dapat diamati melalui: pola pengambilan keputusan berbasis nilai, konsistensi etika dalam tekanan, kemampuan refleksi diri, dan ketahanan makna (meaning resilience).
Di sinilah Ruhiologi bekerja secara ilmiah: mengamati gejala, pola, dan implikasi kesadaran ruhani dalam kehidupan nyata manusia.
Model Konseptual RQ (Ruhiology Quotient) yang Tidak Kabur
Untuk menjawab kritik “RQ hanya jargon integratif”, Ruhiologi memposisikan RQ sebagai: Higher-order ethical–spiritual regulatory capacity.
Artinya: RQ bukan kecerdasan baru yang berdiri sendiri, melainkan kapasitas pengarah dan penimbang dan perekat bagi kecerdasan lain. Adapun Struktur Konseptual RQ
Secara teoritik, RQ dapat dipahami sebagai:
Moderator: RQ menentukan apakah IQ, EQ, dan SQ digunakan secara etis atau destruktif.
Regulator nilai:
RQ menjaga agar kecerdasan tidak lepas dari orientasi ilahiah dan kemanusiaan.
Kompas batin:
RQ bekerja ketika manusia harus memilih antara yang menguntungkan dan yang benar.
Ini selaras dengan QS. 32:9: Allah mengaitkan ruh dengan pendengaran, penglihatan, dan hati bukan dengan pengetahuan teknis semata.
RQ dan Perbedaannya dengan Spiritual Intelligence (SQ)
Perbedaan ini penting agar Ruhiologi tidak jatuh pada relabeling.
- SQ berfokus pada: pengalaman spiritual, pencarian makna personal, kesadaran transenden individual.
- RQ berfokus pada: tanggung jawab ruhani dalam keputusan nyata, integrasi nilai ilahiah ke dalam tindakan sosial, konsistensi etis dalam struktur pendidikan dan kepemimpinan.
Dengan kata lain: SQ menjawab “apa makna hidup saya”, RQ menjawab “bagaimana makna itu membimbing tindakan saya terhubung dengan Kesadaran Ilahiah”.
Kelelahan Batin: Bukan Selalu Patologi
Fenomena burnout dan kelelahan eksistensial sering dipahami sebagai gangguan psikologis individual. Ruhiologi membaca lebih dalam: kelelahan batin sering kali merupakan gejala transisi kesadaran.
Ketika qalbu menjadi lebih peka terhadap nilai, ketidakjujuran dan ketidakadilan terasa melelahkan. Lingkungan lama menjadi sempit. Dalam Al-Qur’an, kondisi ini digambarkan melalui konsep hijrah bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi pergeseran orientasi hidup. Tidak semua kelelahan adalah kelemahan; sebagian adalah tanda pertumbuhan kesadaran.
Ruhiologi dan Tantangan AI
Di era kecerdasan buatan, pendidikan menghadapi tantangan baru. AI mampu meniru nalar, mempercepat analisis, bahkan mensimulasikan empati. Namun AI tidak memiliki qalbu, tidak memiliki ruh, dan tidak memiliki kesadaran nilai.
Tanpa fondasi Ruhiologi, pendidikan berisiko melahirkan generasi yang: cerdas tetapi manipulatif, efisien tetapi tidak berbelas kasih, dan inovatif tetapi kehilangan makna hidup.
Ruhiologi tidak menolak teknologi. Ia menawarkan filter etis dan kesadaran orientatif agar teknologi tetap berada di bawah kendali manusia, bukan sebaliknya.
Implikasi Nyata bagi Pendidikan
Ruhiologi tidak menuntut mata pelajaran baru. Ia bekerja sebagai etos pedagogis: guru sebagai figur kesadaran, kepemimpinan sekolah berbasis nilai, evaluasi yang menimbang pertumbuhan manusia, bukan sekadar skor.
Pendidikan yang mengabaikan dimensi ini mungkin berhasil secara administratif, tetapi gagal secara kemanusiaan.
Menjaga Manusia Tetap Sadar
Di tengah dunia yang semakin canggih, tantangan terbesar pendidikan bukan lagi mencetak manusia pintar, melainkan menjaga manusia tetap sadar sadar akan nilai, tanggung jawab, dan makna hidup.
Restorasi Ruhiologi bukan nostalgia spiritual, melainkan kebutuhan epistemologis dan etis. Ia menjembatani psikologi, pendidikan, dan spiritualitas tanpa melanggar batas ilmu, tanpa kehilangan kedalaman iman.
Jika abad ke-21 adalah abad kecerdasan mesin, maka pendidikan masa depan harus menjadi benteng kesadaran manusia. Ruhiologi hadir untuk memastikan bahwa di tengah algoritma dan data, manusia tidak kehilangan ruhnya.
Referensi Utama: Hasil Ringkasan dari Buku RUHIOLOGI Paradigma Baru Pendidikan Holistik Abad 21 (2025), karya Prof. Iskandar.




