Prof. Iskandar Nazari, Guru Besar Psikologi Pendidikan UIN Sutha Jambi _Founder Ruhiologi _CEO Samudra Inspirasi Ruhiologi ‘SIR’
Pendahuluan
Abad 21 menghadirkan paradoks besar dalam dunia pendidikan. Di satu sisi, teknologi digital, kecerdasan buatan, dan big data membuka peluang baru bagi manusia. Namun di sisi lain, lahir krisis moral, kegersangan spiritual, dan dehumanisasi yang membuat generasi modern kehilangan arah. Pendidikan cenderung menekankan aspek kognitif, tetapi abai terhadap dimensi ruhani (Gardner, 1983; Noddings, 2003; Nasr, 2007).
Dalam konteks inilah, Ruhiologi hadir sebagai paradigma baru. Ia menempatkan ruh sebagai pusat kesadaran dan menawarkan Ruhiology Quotient (RQ): integrasi kecerdasan intelektual (IQ), emosional (EQ), spiritual (SQ), dan kecerdasan adaptif terhadap teknologi (AI-Q) dalam satu frekuensi ketuhanan (Iskandar, 2025).
Landasan Qur’ani Ruhiologi
Ruh sebagai Hak Veto Tuhan
Allah berfirman: “Dan mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku. Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit’.” (QS. Al-Isrā’ [17]:85)
Ayat ini menegaskan bahwa ruh adalah domain eksklusif Allah. Pengetahuan manusia tentang ruh sangat sedikit, namun cukup sebagai pintu kontemplasi menuju ma‘rifatullah.
Ruh dan Syukur dalam QS. As-Sajdah [32]:9
Allah berfirman: “Kemudian Dia menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan ke dalamnya dari ruh-Nya, dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati. Tetapi sedikit sekali kamu bersyukur.” (QS. As-Sajdah [32]:9)
Ayat ini menegaskan tiga prinsip utama Ruhiologi:
1. Ruh sebagai tiupan Ilahi; Ruh bukan sekadar energi biologis, melainkan nafkh (tiupan) dari Allah. Inilah dimensi ilahi dalam diri manusia yang menjadikannya makhluk mulia.
2. Instrumen spiritual: pendengaran, penglihatan, dan hati; Allah memberikan sarana agar ruh dapat mengenal-Nya: telinga untuk mendengar kebenaran, mata untuk melihat tanda-tanda-Nya, dan hati untuk merenung. Tetapi instrumen ini sering disalahgunakan hanya untuk mengejar dunia.
3. Krisis syukur manusia; Frasa “qalīlan mā tasykurūn” (sedikit sekali kamu bersyukur) adalah teguran keras bagi manusia yang lalai menjaga ruh. Tidak bersyukur berarti membiarkan telinga dipenuhi kebisingan dunia, mata tertutup cahaya ilahi, dan hati keras dari cahaya Tuhan.
Dalam perspektif Ruhiologi, krisis spiritual modern lahir karena manusia gagal mensyukuri potensi ruhani. Pendidikan lebih banyak menekankan kecerdasan intelektual (IQ) tanpa menyentuh dimensi ruhani (RQ). Padahal, syukur sejati menuntut pemeliharaan ruh sebagai amanah ilahi.
Prinsip Utama Ruhiologi
1. Iqra’ Bismi Rabbik: Dasar dan Pintu Masuk
Pintu masuk utama Ruhiologi adalah wahyu pertama: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq [96]:1)
Kata kunci bukan sekadar iqra’ (bacalah), melainkan bismi rabbik—dengan kesadaran ketuhanan. Membaca realitas diri, semesta, dan ilmu pengetahuan harus berlandaskan ruh, bukan sekadar logika atau emosi.
2. Konsentrasi dan Kontemplasi
• Konsentrasi → menjaga fokus pikiran agar bebas dari distraksi, membuka pintu hadirnya kesadaran ruhani.
• Kontemplasi → tafakkur dan tadabbur yang menyingkap makna terdalam, sebagaimana perintah Allah untuk berpikir tentang tanda-tanda-Nya (QS. Ali Imran [3]:190–191).
3. God Spot: Pusat Spiritualitas Otak
Neurosains menemukan area otak yang aktif ketika manusia berdoa, berzikir, atau bermeditasi, dikenal sebagai God Spot (d’Aquili & Newberg, 1999). Dalam perspektif Ruhiologi, God Spot adalah perangkat biologis yang Allah ciptakan agar manusia mampu terhubung dengan-Nya.
4. God Light: Pancaran Cahaya Ruhani
Ketika ruh tersambung dengan kesadaran ilahiah, lahirlah God Light—cahaya hidayah yang memancar dalam ucapan, pikiran, dan tindakan. “Allah adalah cahaya langit dan bumi…” (QS. An-Nur [24]:35).
Ruhiologi sebagai Spirit Tajdīd Pendidikan Abad 21
Dari ayat-ayat di atas, Ruhiologi mengusung tiga spirit tajdīd bagi peradaban pendidikan:
1. Mengembalikan ruh sebagai pusat kesadaran → pendidikan tidak boleh mengabaikan dimensi ruhani sebagai inti kemanusiaan.
2. Menjadikan syukur sebagai fondasi pedagogi → syukur bukan sekadar retorika, melainkan praktik menjaga telinga, mata, dan hati agar tetap terhubung dengan Allah.
3. Membangun kesadaran ketuhanan melalui iqra’ → pembelajaran berbasis konsentrasi, kontemplasi, God Spot, dan God Light, agar ilmu menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah.
Penutup
Ruhiologi adalah spirit tajdīd peradaban pendidikan abad 21. Dengan menempatkan ruh sebagai hak veto Tuhan (QS. Al-Isrā’ [17]:85), tiupan Ilahi yang memberi kehidupan (QS. As-Sajdah [32]:9), dan iqra’ bismi rabbik sebagai pintu masuk kesadaran, Ruhiologi membangun fondasi pendidikan yang berorientasi ketuhanan.
Paradigma ini menyatukan dan membanthinkan IQ, EQ, SQ, dan AI-Q dalam Ruhiology Quotient (RQ). Hasilnya adalah generasi yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga tercerahkan secara ruhani—memancarkan god light sebagai cahaya peradaban baru.
Daftar Referensi
Al-Qur’an al-Karim. (2020). Mushaf Al-Qur’an dan Terjemahannya. Kementerian Agama Republik Indonesia.
Azra, A. (2019). Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan Milenium III. Jakarta: Kencana.
d’Aquili, E. G., & Newberg, A. B. (1999). The Mystical Mind: Probing the Biology of Religious Experience. Minneapolis: Fortress Press.
Gardner, H. (1983). Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences. New York: Basic Books.
Iskandar, I., Aletmi, A., & Sastradika, D. (2019). Pendidikan Holistik Berbasis Kecerdasan Ruhiologi di Era Revolusi Industri 4.0. Tarbawi : Jurnal Ilmu Pendidikan, 15(2), 223–231. https://doi.org/10.32939/tarbawi.v15i02.467
Iskandar. (2021). Kecerdasan Ruhiologi dalam Dimensi Perilaku Spritual Keberagamaan (Studi terhadap Geneologi dan Kontinuitas Eksistensi Jami’yyatul Islamiah Kerinci).
Iskandar, I. (2022). Pendidikan Ruhani Berbasis Kecerdasan Ruhiologi. El-Ghiroh: Jurnal Studi Keislaman, 20(01), 1-13.
Iskandar, Aletmi, M. T. (2022). Ruhiology Quotient ( RQ ) a Bid Concept of National Education Faces the Industrial Revolution Era 4 . 0. https://doi.org/10.4108/eai.20-10-2021.2316359
Iskandar (2025). Ruhiologi: Paradigma Baru Pendidikan Holistik Abad 21:Samudra Inspirasi Ruhiologi.
Noddings, N. (2003). Caring: A Feminine Approach to Ethics and Moral Education. Berkeley: University of California Press.
Seyyed Hossein Nasr, (2007). Islamic Spirituality: Foundations. London: Routledge.





