Mengembalikan Substansi Ilmu melalui Iqra Bismirabbik’, Konsentrasi, dan Cahaya Ruh
Dalam lanskap pemikiran modern, sering kali kita menyaksikan adanya jurang pemisah antara ranah intelektual dan spiritual. Pemikiran ilmiah cenderung beroperasi di bawah payung rasionalitas murni, sering kali menepikan dimensi ketuhanan atau transendental. Padahal, jika kita ingin mencari solusi yang holistik dan berkelanjutan untuk tantangan zaman, kedua dimensi ini—akal dan hati—sejatinya harus berjalan beriringan. Inilah inti dari gagasan Ruhiologi, sebuah tawaran konseptual untuk menghadirkan Ijtihad Intelektual yang Berkesadaran Ketuhanan (Iskandar, 2025).
Mengapa Kita Butuh Ruhiologi?
Ruhiologi (ilmu tentang energi jiwa) adalah upaya untuk mengintegrasikan basis spiritual ke dalam proses berpikir dan pengambilan keputusan. Ini bukan sekadar tentang menjadi ‘orang baik’ saat berijtihad, melainkan tentang membangun kerangka kerja intelektual yang sejak awal mengakui adanya realitas metafisik dan nilai-nilai Ilahiah sebagai kompas utama (Iskandar, 2019; 2022,2025.
Dalam konteks keilmuan dan pembangunan, ijtihad intelektual menjadi sangat penting. Ia adalah usaha sungguh-sungguh menggunakan akal dan sumber daya pengetahuan untuk merumuskan solusi, kebijakan, atau teori baru. Namun, jika ijtihad ini kering dari kesadaran ketuhanan, ia berpotensi besar menghasilkan hal-hal berikut:
Eksploitasi atas Nama Rasionalitas: Keputusan yang menguntungkan secara ekonomi atau logis, tetapi merusak lingkungan, menindas kemanusiaan, atau mengabaikan keadilan sosial. Hilangnya Makna dan Tujuan: Ilmu pengetahuan dan teknologi yang canggih namun gagal memberikan kedamaian batin dan menjawab pertanyaan fundamental tentang makna hidup. Fragmentasi Kebenaran: Pemisahan mutlak antara kebenaran agama dan kebenaran ilmiah, yang berujung pada kebingungan publik dan konflik.
Gagasan Ruhiologi bukan berarti menafikan sains atau akal sehat. Justru sebaliknya, ia adalah seruan untuk menggunakan akal kita secara maksimal dan bertanggung jawab di bawah cahaya kesadaran tertinggi.
Apabila para intelektual mampu menghadirkan Ijtihad Intelektual Berkesadaran Ketuhanan dalam setiap bidang—mulai dari sains, teknologi, politik, hingga seni—maka kita akan menyaksikan lahirnya solusi-solusi yang tidak hanya efisien dan modern, tetapi juga berjiwa dan bermartabat. Inilah jalan untuk menutup jurang pemisah antara dunia fisik yang terukur dan dimensi spiritual yang memberi makna. Inilah cara kita kembali menjadi hamba dan khalifah yang seutuhnya.Di tengah arus modernitas yang menilai keberhasilan manusia dari skor IQ, portofolio karier, dan kecepatan memanfaatkan teknologi, muncul kebutuhan mendesak untuk sebuah paradigma intelektual yang mengutamakan kesadaran ketuhanan.
Ruhiologi—sebagai gagasan Prof. Iskandar—mengusulkan ijtihad intelektual berkesadaran berketuhanan: sebuah cara berpikir, meneliti, dan berkarya yang bermula dari wahyu pertama, Iqra’ bismi rabbik (قْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ), lalu dipraktikkan lewat konsentrasi dan kontemplasi yang menghidupkan dimensi terdalam manusia.
Wahyu pertama—“Bacalah! Dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan” (QS Al-‘Alaq 96:1)—menempatkan bacaan (iqra’) bukan sekadar akumulasi informasi, melainkan tindakan sadar yang melekat pada pengenalan Tuhan. Dari sini Ruhiologi menegaskan: ilmu tidak netral nilai; ilmu yang autentik harus bermula dari pengakuan transenden yang memberi arah etis dan spiritual pada pencarian pengetahuan.
Problem Manusia Modern: Kecerdasan Terfragmentasi
Diskursus modern tradisional membagi kecerdasan menjadi beberapa domain: IQ (kognitif), EQ (emosional), SQ (spiritual), dan kini muncul terminologi baru seperti AI-Q (kemampuan berkolaborasi dengan AI). IQ punya sejarah panjang dalam pengukuran kemampuan kognitif (Binet & Simon). EQ yang dipopulerkan Goleman menekankan pentingnya pengelolaan emosi bagi keberhasilan hidup (Goleman, 1995), sedangkan SQ—yang dikembangkan oleh penulis seperti Zohar & Marshall—menawarkan kerangka untuk kapasitas makna, nilai, dan tujuan (Zohar & Marshall, 2000). Baru-baru ini, literatur tentang AI-Q mencoba mengukur seberapa efektif seseorang dapat berkolaborasi dan ‘menginteligensikan’ dirinya bersama alat-alat AI (Ganuthula & Balaraman, 2025; Qin, 2024).
Masalahnya: ketika kecerdasan diukur secara terfragmentasi tanpa satu poros nilai yang kuat, hasilnya adalah tenaga ahli yang mampu memecahkan masalah teknis namun kehilangan arah etis, makna hidup, dan kedalaman ruhani. Ruhiologi mengklaim bahwa ada bidang yang belum tersentuh—yaitu kualitas kehadiran batin (conscious presence) dalam setiap praktik intelektual—yang jika diabaikan membuat ilmu menjadi sekadar skill.
Ruhiologi menempatkan praktik konsentrasi (fokus perhatian) dan kontemplasi (renungan mendalam) sebagai teknik metodologis yang krusial. Neurosains modern menunjukkan bahwa meditasi perhatian terarah memodulasi jaringan saraf terkait kontrol eksekutif, salience, dan jaringan default-mode—inti dari kapasitas konsentrasi dan refleksi mendalam (Ganesan et al., 2022). Praktik-praktik ini bukan sekadar teknik mental: dalam bingkai Ruhiologi, mereka sarana untuk membuka ruang bagi cahaya wahyu yang memurnikan niat, sehingga intelektual tidak hanya cerdas tetapi juga berkesadaran ketuhanan.
God-Spot, God-Light: Antara Temuan Neurosains dan Pengalaman Mistis
Bidang neurotheology—yang dipelopori oleh peneliti seperti Andrew Newberg—mencari relasi antara pengalaman religius dan aktivitas otak. Klaim populer tentang “God-spot” (area otak yang terkait pengalaman religius) harus dibaca hati-hati: hasil penelitian menunjukkan pola aktivasi dan penurunan aktivitas di beberapa area otak selama pengalaman religius dan meditasi, namun tidak menunjuk satu titik tunggal sebagai ‘pintu Tuhan’. Newberg sendiri menekankan bahwa apakah pengalaman religius memunculkan rasa ketuhanan dari otak, atau otak ‘menerima’ wahyu, tetap menjadi pertanyaan filosofis dan teologis yang terbuka (Newberg & d’Aquili, 2001).
Istilah God-light lebih sering muncul dalam literatur mistik dan pengalaman spiritual—menggambarkan sensasi hadirnya cahaya batin yang mengubah orientasi hidup seseorang. Ruhiologi memasukkan istilah-istilah ini sebagai pengalaman nyata yang dapat dimodalkan melalui praktik konsentrasi dan kontemplasi; namun ia menegaskan, seperti Al-Isrā’ 17:85, bahwa hakikat ruh tetap di ranah Tuhan dan keterbatasan pengetahuan manusia harus diakui.
Ijtihad Intelektual: Menyatukan Metode dan Makna
Ruhiologi mengusulkan ijtihad intelektual: bukan ijtihad semata dalam ranah hukum, melainkan metode berpikir kreatif yang berakar pada wahyu, teruji secara rasional, dan teruji secara spiritual. Ciri ijtihad ini: (1) niat yang jelas (niat mencari ridha Allah), (2) metodologi yang bermutu (kritis, empiris bila sesuai), (3) praktik pembentukan batin (konsentrasi/kontemplasi), dan (4) tanggung jawab etis terhadap dampak sosial. Dengan demikian, intelektual berkesadaran ketuhanan bukanlah manusia yang mengabaikan pengetahuan modern—melainkan mereka yang mengintegrasikan kecerdasan kognitif, emosional, spiritual, dan kemampuan bekerja bersama AI (AI-Q) sehingga ilmu memberi manfaat dunia-akhirat.
Integrasi Kecerdasan Modern dengan Ruhiologi (RQ)
| Jenis Kecerdasan | Fokus Utama | Keterbatasan jika Berdiri Sendiri | Integrasi dengan Ruhiologi (RQ) | Hasil yang Diharapkan |
| IQ (Intelligence Quotient) | Kemampuan berpikir logis, analitis, pemecahan masalah | Cenderung kering makna; bisa menghasilkan “cerdas tetapi tidak bijak” | RQ memberi orientasi ketuhanan pada kecerdasan kognitif, sehingga ilmu tidak sekadar data, tetapi jalan menuju hikmah | Intelektual yang cerdas sekaligus arif, menimbang dampak ilmu bagi dunia-akhirat |
| EQ (Emotional Quotient) | Pengelolaan emosi, empati, relasi sosial | Bisa menjadi manipulatif atau sekadar keterampilan sosial | RQ menanamkan keikhlasan & niat lillah, sehingga empati dan pengelolaan emosi bernilai ibadah | Pribadi yang tulus, mampu menghubungkan emosi dengan kasih sayang Ilahi |
| SQ (Spiritual Quotient) | Makna, tujuan, nilai hidup | Berpotensi berhenti pada spiritualitas universal tanpa arah wahyu | RQ memberi landasan wahyu (Iqra’ bismi rabbik), memastikan spiritualitas terhubung dengan Tuhan yang transenden | Spiritualitas yang bukan sekadar pencarian makna, tetapi penghambaan sejati |
| AI-Q (Artificial Intelligence Quotient) | Kemampuan adaptasi dan kolaborasi dengan kecerdasan buatan | Berisiko menjadikan manusia tergantung teknologi, kehilangan arah moral | RQ menjadi kompas moral, mengarahkan pemanfaatan AI untuk maslahat, bukan kerusakan | Manusia yang kreatif dengan AI tetapi tetap bermartabat, berorientasi pada nilai ilahiah |
Dari tabel di atas, terlihat jelas bahwa Ruhiologi (RQ) bukan pengganti kecerdasan lain, melainkan poros nilai dan kesadaran ketuhanan yang melengkapi IQ, EQ, SQ, dan AI-Q. RQ memastikan setiap bentuk kecerdasan tidak terjebak pada kebanggaan duniawi semata, melainkan menjadi cahaya ilmu yang menuntun manusia pada keselamatan dunia dan akhirat.
Implementasi Praktis: Perbaikan Shalat dan Pendidikan Karakter
Sebagai pintu masuk praktik, Ruhiologi menyorot pentingnya perbaikan shalat—menghadirkan hati (khusyu’) agar praktik ibadah menjadi agen transformasi moral (QS Al-Baqarah 2:45 menegaskan pentingnya sabar dan shalat sebagai pertolongan bagi hamba yang khusyu’. Tanpa pembinaan spiritual yang rutin dan mendalam, pengetahuan cenderung menjadi teknis dan tidak transformatif. Integrasi Ruhiologi dalam kurikulum guru, modul kepemimpinan, dan pelatihan profesional dapat mengubah orientasi pendidikan: dari sekadar transfer informasi menuju pembentukan insan yang “cerdas—berhati—berketuhanan.”
Perlu ditekankan: Ruhiologi tidak mengklaim menjawab semua misteri ruh. Ia mengakui keterbatasan ilmiah terhadap masalah ruh (QS Al-Isrā’ 17:85) dan mendorong sikap tawadhu’—keterbukaan terhadap temuan ilmiah sambil menjaga landasan etis-teologis. Di ranah neurosains, temuan tentang pengalaman religius menggugah, tetapi tidak boleh disederhanakan menjadi reduksionisme materialis.
Kesimpulan: Ruhiologi sebagai Jiwa Ilmu
Ruhiologi menawarkan ijtihad intelektual yang menggabungkan wahyu (Iqra’), praktik konsentrasi-kontemplasi (modalitas spiritual yang didukung neurosains), dan pengakuan atas kecerdasan multiplatform (IQ, EQ, SQ, AI-Q). Tujuannya sederhana namun radikal: menjadikan ilmu sebagai jalan pulang—bukan hanya untuk menguasai dunia, tetapi untuk memperkaya jiwa dan menyiapkan bekal akhirat. Dalam kata lain: ilmu yang tidak mencerahkan ruh bukanlah ilmu yang lengkap.
Referensi
Al Qur’an. Surah Al-‘Alaq (96); Surah Al-Baqarah (2:45-46); Surah Al-Isra’ (17:85). Retrieved from https://quran.com/
Iskandar, Rohaty Mohd. Majzub, & Zuria Mahmud. (2009). Kecerdasan Emosi dan Komitmen Pekerjaan dalam Kalangan Pensyarah Universiti di Indonesia. Jurnal Pendidikan Malaysia, 34(1), 173–186.
Iskandar. (2018). the Dimensions of Behavior of Religious Spirituality Study on Genealogy and Kerinci Menjadi Dynamics. International Journal of Advanced Research, 6(1), 464–468. https://doi.org/10.21474/ijar01/6243
Iskandar, I., Aletmi, A., & Sastradika, D. (2019). Pendidikan Holistik Berbasis Kecerdasan Ruhiologi di Era Revolusi Industri 4.0. Tarbawi: Jurnal Ilmu Pendidikan, 15(2), 223–231. https://doi.org/10.32939/tarbawi.v15i02.467
Iskandar. (2021). Kecerdasan Ruhiologi dalam Dimensi Perilaku Spritual Keberagamaan (Studi terhadap Geneologi dan Kontinuitas Eksistensi Jami’yyatul Islamiah Kerinci).
Iskandar, I. (2021). Psikologi Pendidikan Menghadapi Pembelajaran Abad 21.
Iskandar, I. (2022). Pendidikan Ruhani Berbasis Kecerdasan Ruhiologi. El-Ghiroh: Jurnal Studi Keislaman, 20(01), 1-13.
Iskandar & Aletmi, S. (2023). “PSIKOLOGI SALAT” MENGELOLA STRES PENDIDIKAN ABAD 21 (Perspektif Pendidikan Ruhani berbasis Kecerdasan Ruhiologi). LPP Balai Insan Cendekia.
Iskandar. (2025). Ruhioloig: Paradigma Baru Pendidikan Holistik Abad 21.
Ganesan, S., et al. (2022). Focused attention meditation in healthy adults: A systematic review and meta-analysis of functional MRI studies. Neuroscience & Biobehavioral Reviews. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36067965/
Ganuthula, V. R. R., & Balaraman, K. K. (2025). Artificial Intelligence Quotient (AIQ): A novel framework for measuring human-AI collaborative intelligence [Preprint]. arXiv. https://arxiv.org/abs/2503.16438
Goleman, D. (1995). Emotional intelligence: Why it can matter more than IQ for character, health and lifelong achievement. Bantam Books.
James, W. (1902). The varieties of religious experience: A study in human nature. Longmans, Green, and Co.
Newberg, A., & d’Aquili, E. (2001). Why God won’t go away: Brain science and the biology of belief. Ballantine Books.
Qin, X. (2024). Artificial Intelligence Quotient (AIQ) [SSRN preprint]. https://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=4787320
Terman / Binet (historical overview). (n.d.). In K. VerywellMind (Ed.), History of intelligence testing. Retrieved from https://www.verywellmind.com/history-of-intelligence-testing-2795581
Ushuluddin, Achmad; Majid Abd; Masruri, S. S. I. (2021).
Understanding Ruh as Source of Human Intelligence in Islam. The Internasional Journal of Religion and Spr\ituality in Society, 11(2).
Ushuluddin, A., Madjid, A., Masruri, S., & Affan, M. (2021). Shifting paradigm: From Intellectual Quotient, Emotional Quotient, and Spiritual Quotient toward Ruhani Quotient in ruhiology perspectives. Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies, 11(1), https://doi.org/10.18326/IJIMS.V11I1.139-162 139–162.
Zohar, D., & Marshall, I. (2000). Spiritual intelligence: The ultimate intelligence. Bloomsbury.





