RUHIOLOGI Membumikan Jiwa PANCASILA “Dari Krisis Karakter menuju Berkesadaran Ketuhanan”

Momentum memperingati hari kesaktian Pancasila 01 Oktober 2025, di berbagai forum pendidikan, istilah “krisis karakter” sering terdengar. Generasi muda Indonesia dituding semakin jauh dari nilai-nilai moral: meningkatnya intoleransi, perundungan di sekolah, penyalahgunaan teknologi digital, bahkan perilaku hedonistik yang merajalela. Survei Kementerian Pendidikan (2022) menunjukkan bahwa hampir 60% pelajar mengaku pernah menyaksikan kasus perundungan di lingkungan sekolah. Fenomena ini menjadi cermin rapuhnya fondasi karakter bangsa.

Sesungguhnya, Indonesia telah memiliki Pancasila sebagai dasar etika dan moral. Namun, sebagaimana dikemukakan Magnis-Suseno (2011), Pancasila sering berhenti pada simbol dan slogan, belum benar-benar hidup dalam kesadaran generasi. Di titik inilah Ruhiologi—sebuah disiplin yang mengembangkan kecerdasan ruhani (RQ/Ruhiology Quotient)—hadir sebagai jalan untuk menghidupkan kembali jiwa Pancasila dalam diri generasi muda.

Pancasila dan Krisis Karakter

Pancasila lahir sebagai pedoman bangsa untuk menjaga harmoni ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan. Namun, di era digital, nilai-nilai itu sering terpinggirkan oleh arus globalisasi. Misalnya:

Sila pertama (Ketuhanan) terkikis oleh materialisme.

Sila kedua (Kemanusiaan) melemah di tengah budaya individualisme.

Sila ketiga (Persatuan) terancam oleh polarisasi politik dan konflik digital.

Sila keempat (Kerakyatan) kehilangan ruh musyawarah, diganti dengan ujaran kebencian.

Sila kelima (Keadilan Sosial) sulit terwujud di tengah kesenjangan sosial-ekonomi.

Hal ini menunjukkan bahwa krisis karakter bukan sekadar masalah pendidikan formal, tetapi masalah ruhani yang lebih mendalam.

Ruhiologi: Membumikan dan Menghidupkan Jiwa Pancasila

Ruhiologi menawarkan paradigma baru: membangun kesadaran ruhani (RQ) sebagai inti pendidikan karakter. Menurut Prof. Iskandar (2025), kecerdasan ruhani adalah “energi batin yang menuntun manusia untuk menghadirkan Tuhan, kasih sayang, dan kebijaksanaan dalam setiap aspek kehidupan.”

Pada sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa; Ruhiologi menanamkan kesadaran tauhid, bukan sekadar ritual formal, melainkan kesadaran hidup di bawah pengawasan Tuhan (muraqabah).

Pada sila kedua, Kemanusaian yang adil dan beradab; Ruhiologi membangun empati dan cinta kasih, sehingga generasi muda memandang sesama manusia sebagai saudara.

Pada sila ketiga, Persatuan Indonesia; Ruhiologi mengajarkan persaudaraan ruhani lintas agama, suku, dan budaya.

Pada sila keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan; Ruhiologi menumbuhkan spiritual leadership—kepemimpinan yang bijak dan rendah hati.

Pada sila kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indoneisa; Ruhiologi menanamkan rasa tanggung jawab sosial, bahwa keadilan adalah bagian dari amanah ruhani.

Dengan demikian, Ruhiologi bukan sekadar teori psikologi spiritual, melainkan jalan untuk membumikan Pancasila di hati generasi muda.

Pendidikan Ruhani di Era Digital

Ki Hadjar Dewantara (1936) menegaskan bahwa pendidikan sejati adalah “menuntun segala kekuatan kodrat anak, agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.” Dalam konteks hari ini, pendidikan tidak cukup hanya memberi kecerdasan intelektual dan keterampilan digital, tetapi juga harus menguatkan kesadaran ruhani.

Di sinilah urgensi pendidikan berbasis Ruhiologi:

Sekolah menjadi ruang pembinaan hati, bukan sekadar tempat ujian.

Guru berperan sebagai murabbi (pembimbing ruhani), bukan hanya pengajar materi.

Teknologi digital digunakan untuk menebar kebaikan, bukan kebencian.

Jika ini diwujudkan, generasi muda akan tumbuh menjadi insan cerdas intelektual, unggul digital, sekaligus berkesadaran ruhani.

Penutup

Krisis karakter generasi muda sejatinya adalah krisis ruhani. Pancasila memberi arah, tetapi Ruhiologi memberi jiwa. Integrasi keduanya akan melahirkan generasi yang tidak hanya “pintar” tetapi juga “benar”; tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memuliakan kemanusiaan.

Sebagaimana ditegaskan Nurcholish Madjid (1992), iman yang benar selalu melahirkan kemanusiaan yang tulus. Maka, iman—diperkuat dengan Ruhiologi—akan menghidupkan kembali Pancasila di dalam jiwa generasi muda Indonesia.

Referensi:

Dewantara, K. H. (1936). Pendidikan. Yogyakarta: Taman Siswa.

Iskandar, I. (2025). Ruhiologi sebagai Paradigma Baru Pendidikan Holistik. Jambi: 0rasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar UIN Sutha Jambi 14 Mei 3025.

Madjid, N. (1992). Islam: Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadina.

Magnis-Suseno, F. (2011). Etika Politik: Prinsip-prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern. Jakarta: Gramedia.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Survei Nasional Perilaku Perundungan di Sekolah. Jakarta: Kemendikbudristek.

Admin

Prof. Iskandar Nazari, penemu dan pengembang teori Ruhiology Quotient (RQ), serta pendiri PT.Samudra Inspirasi Ruhiologi. Situs ini menjadi pusat informasi, riset, dan inspirasi seputar Ruhiology, sebuah pendekatan holistik yang memadukan dimensi ruh, intelektual, dan emosional untuk pengembangan diri dan organisasi. Melalui publikasi ilmiah, program pelatihan, dan berbagai sumber daya edukatif, website ini mengajak Anda menjelajahi kedalaman potensi manusia menuju kehidupan yang bermakna dan berdaya.

Related Posts

Esensi Sholat sebagai Pilar Transformasi Karakter

Sholat yang “Pulang” ke Rumah-Nya: Membedah Ruhiologi dalam Sujud Kita (Refleksi Pemikiran Prof. KH. Imam Suprayogo) Tokoh Pendidikan Nasional. Pernahkah kita bertanya, mengapa bangsa dengan jumlah mushalla dan masjid terbanyak…

“Kafir dan Mukmin: Berhentilah Menunjuk Orang Lain, Lihatlah ke Dalam Diri”

Prof. KH. Imam Suprayogo  (Tokoh Pendidikan Nasional) Tahukah Anda perang apa yang paling dahsyat di muka bumi ini? Bukan agresi Rusia ke Ukraina, bukan pula konflik berkepanjangan di Palestina. Perang…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mari Bersama Menyelami Makna Ruhiologi

Digital Mikraj: Saat Sinyal Wi-Fi Lebih Dicari daripada Sinyal Arasy”

  • By Admin
  • Januari 16, 2026
  • 0 views
Digital Mikraj: Saat Sinyal Wi-Fi Lebih Dicari daripada Sinyal Arasy”

Esensi Sholat sebagai Pilar Transformasi Karakter

  • By Admin
  • Januari 15, 2026
  • 53 views
Esensi Sholat sebagai Pilar Transformasi Karakter

“Kafir dan Mukmin: Berhentilah Menunjuk Orang Lain, Lihatlah ke Dalam Diri”

  • By Admin
  • Januari 15, 2026
  • 5 views
“Kafir dan Mukmin: Berhentilah Menunjuk Orang Lain, Lihatlah ke Dalam Diri”

Tragedi SMK di Jambi: Ketika Teknologi “Melangit” tapi Adab “Melesat” ke Bumi”

  • By Admin
  • Januari 15, 2026
  • 22 views
Tragedi SMK di Jambi: Ketika Teknologi “Melangit” tapi Adab “Melesat” ke Bumi”

Skandal “Ceceran Darah” di Jambi: Saat Guru Menghunus Celurit dan Murid Menjadi Serigala, Masihkah Ada “Ruh” di Sekolah Kita?

  • By Admin
  • Januari 15, 2026
  • 54 views
Skandal “Ceceran Darah” di Jambi: Saat Guru Menghunus Celurit dan Murid Menjadi Serigala, Masihkah Ada “Ruh” di Sekolah Kita?

RUHIOLOGI “Telaah Epistemologis, Qur’ani, dan Tantangan Pendidikan Holistik Abad ke-21

  • By Admin
  • Januari 13, 2026
  • 10 views
RUHIOLOGI “Telaah Epistemologis, Qur’ani, dan Tantangan Pendidikan Holistik Abad ke-21