Mengapa Psikologi Pendidikan Perspektif RUHIOLOGI Penting Hadir di Abad 21?

Prof. Iskandar Nazari – Guru Besar Psikologi Pendidikan, Penggagas Ruhiologi _CEO Samudra Inspirasi Ruhiologi “SIR” _Dosen UIN SUTHA Jambi

Psikologi pendidikan berkembang pesat sejak awal abad ke-19. Pada era Klasik, Alfred Binet dan Theodore Simon (1905) memperkenalkan teori kecerdasan intelektual (IQ) dengan tes IQ untuk mengukur kecerdasan kognitif. Era Behavioristik (1920-1950an) dipelopori John B. Watson dan B.F. Skinner yang menekankan belajar berbasis stimulus–respons. Lalu Jean Piaget dan Lev Vygotsky (1960 -1980-an) menandai era Kognitif dengan fokus pada proses mental dan interaksi sosial. Abraham Maslow dan Carl Rogers (1980 -1990-an) memperkenalkan era Humanistik dengan gagasan aktualisasi diri. Memasuki era Kontemporer, Prof. Daniel Goleman (1990 -sekarang) menghadirkan konsep Emotional Intelligence (EQ), Zohar & Marshall (2000 -sekarang) mengembangkan Spiritual Intelligence (SQ), dan Ary Ginanjar memperkenalkan ESQ, serta Kaplan & Haenlein (2019) mengenalkan AI-Q sebagai kecerdasan adaptasi digital.

Namun, meski semakin kompleks, seluruh pendekatan itu belum menyentuh dimensi terdalam manusia: ruh. Inilah yang membuat abad ke-21 menjadi momentum penting lahirnya Psikologi Pendidikan Perspektif Ruhiologi.

Prof. Iskandar Nazari (2025) memperkenalkan Ruhiologi, dengan Ruhiology Quotient (RQ) sebagai kerangka yang menyatukan IQ, EQ, SQ, dan AI-Q dengan orientasi pada kesadaran ketuhanan, untuk mencetak manusia utuh, berkesadaran, dan menjadi pilar peradaban berkesedaran

Fenomena Abad 21: Mengapa Ruhani Jadi Relevan?

Beberapa fenomena kontemporer membuat dimensi ruhani tak bisa lagi diabaikan:

Krisis makna & moral – Kemajuan teknologi sering tidak sejalan dengan penguatan nilai, sehingga muncul alienasi, purposelessness, dan gangguan kesehatan mental.

Disrupsi teknologi & AI – Media sosial dan kecerdasan buatan menggeser motivasi belajar, membuat atensi pendek dan motivasi dangkal, sementara kedalaman makna semakin menurun.

Bukti neuroscientific – Riset Andrew Newberg dan lainnya menunjukkan praktik spiritual (dzikir, kontemplasi) berpengaruh nyata pada regulasi emosi, empati, dan fokus kognitif.

Ketiga fenomena ini menegaskan: pendidikan tidak cukup berhenti pada kognisi, emosi, atau keterampilan digital. Kita membutuhkan paradigma ruhani.

Ruhiologi: Paradigma Baru Psikologi Pendidikan

Di tengah tantangan itu, saya memperkenalkan Ruhiologi – kajian interdisipliner tentang ruh sebagai pusat kesadaran, orientasi nilai, tujuan hidup, dan regulasi moral. Ruhiologi kemudian melahirkan konsep Ruhiology Quotient (RQ): kapasitas individu untuk mengaktifkan kesadaran ruhani (muraqabah, niat, muhasabah), mengintegrasikan nilai dalam tindakan, dan mentransformasikan motivasi belajar menjadi kontribusi bermakna.

Dengan demikian, Ruhiologi bukan sekadar wacana spiritualitas, tetapi kerangka ilmiah yang dapat diterjemahkan ke dalam teori pembelajaran, strategi pedagogis, instrumen asesmen, dan kebijakan pendidikan.

Dari Retorik ke Operasional

Jika abad ke-20 ditandai dengan pergeseran dari perilaku ke kognisi, emosi, dan spiritualitas, maka abad ke-21 menuntut pergeseran ke kesadaran ruhani. Ruhiologi hadir bukan untuk mengganti IQ, EQ, SQ, atau AI-Q, melainkan untuk menyatukan dan memusatkan orientasi pendidikan pada ruh.

Inilah yang membedakan: pendidikan tidak hanya mencetak manusia pekerja, tetapi manusia berkesadaran – utuh secara intelektual, emosional, digital, dan ruhani. Pendidikan yang demikianlah yang akan melahirkan peradaban beradab.

Kesimpulan:
Psikologi pendidikan perspektif Ruhiologi penting hadir di abad ke-21 karena ia menjawab krisis moral, disrupsi identitas, dan tantangan digital dengan menjadikan ruh sebagai pusat kesadaran ilmiah dan pedagogis. Dengan Ruhiology Quotient (RQ), pendidikan bergerak dari sekadar transfer ilmu menuju pembentukan manusia paripurna – cerdas, berkesadaran, dan siap membangun peradaban berkesadaran ketuhanan.

Admin

Prof. Iskandar Nazari, penemu dan pengembang teori Ruhiology Quotient (RQ), serta pendiri PT.Samudra Inspirasi Ruhiologi. Situs ini menjadi pusat informasi, riset, dan inspirasi seputar Ruhiology, sebuah pendekatan holistik yang memadukan dimensi ruh, intelektual, dan emosional untuk pengembangan diri dan organisasi. Melalui publikasi ilmiah, program pelatihan, dan berbagai sumber daya edukatif, website ini mengajak Anda menjelajahi kedalaman potensi manusia menuju kehidupan yang bermakna dan berdaya.

Related Posts

Esensi Sholat sebagai Pilar Transformasi Karakter

Sholat yang “Pulang” ke Rumah-Nya: Membedah Ruhiologi dalam Sujud Kita (Refleksi Pemikiran Prof. KH. Imam Suprayogo) Tokoh Pendidikan Nasional. Pernahkah kita bertanya, mengapa bangsa dengan jumlah mushalla dan masjid terbanyak…

“Kafir dan Mukmin: Berhentilah Menunjuk Orang Lain, Lihatlah ke Dalam Diri”

Prof. KH. Imam Suprayogo  (Tokoh Pendidikan Nasional) Tahukah Anda perang apa yang paling dahsyat di muka bumi ini? Bukan agresi Rusia ke Ukraina, bukan pula konflik berkepanjangan di Palestina. Perang…

One thought on “Mengapa Psikologi Pendidikan Perspektif RUHIOLOGI Penting Hadir di Abad 21?

  1. Wow, fantastic weblog layout! How long have you ever been blogging
    for? you made running a blog look easy. The overall
    glance of your web site is fantastic, as well as the content!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mari Bersama Menyelami Makna Ruhiologi

Digital Mikraj: Saat Sinyal Wi-Fi Lebih Dicari daripada Sinyal Arasy”

  • By Admin
  • Januari 16, 2026
  • 0 views
Digital Mikraj: Saat Sinyal Wi-Fi Lebih Dicari daripada Sinyal Arasy”

Esensi Sholat sebagai Pilar Transformasi Karakter

  • By Admin
  • Januari 15, 2026
  • 53 views
Esensi Sholat sebagai Pilar Transformasi Karakter

“Kafir dan Mukmin: Berhentilah Menunjuk Orang Lain, Lihatlah ke Dalam Diri”

  • By Admin
  • Januari 15, 2026
  • 5 views
“Kafir dan Mukmin: Berhentilah Menunjuk Orang Lain, Lihatlah ke Dalam Diri”

Tragedi SMK di Jambi: Ketika Teknologi “Melangit” tapi Adab “Melesat” ke Bumi”

  • By Admin
  • Januari 15, 2026
  • 22 views
Tragedi SMK di Jambi: Ketika Teknologi “Melangit” tapi Adab “Melesat” ke Bumi”

Skandal “Ceceran Darah” di Jambi: Saat Guru Menghunus Celurit dan Murid Menjadi Serigala, Masihkah Ada “Ruh” di Sekolah Kita?

  • By Admin
  • Januari 15, 2026
  • 54 views
Skandal “Ceceran Darah” di Jambi: Saat Guru Menghunus Celurit dan Murid Menjadi Serigala, Masihkah Ada “Ruh” di Sekolah Kita?

RUHIOLOGI “Telaah Epistemologis, Qur’ani, dan Tantangan Pendidikan Holistik Abad ke-21

  • By Admin
  • Januari 13, 2026
  • 10 views
RUHIOLOGI “Telaah Epistemologis, Qur’ani, dan Tantangan Pendidikan Holistik Abad ke-21