Refleksi Akhir Tahun 2025
Oleh: Prof. Iskandar _Founder Ruhiologi
Akhir tahun selalu menghadirkan ruang sunyi untuk bertanya: ke mana arah kita berjalan sebagai manusia, sebagai bangsa, dan sebagai peradaban? Pertanyaan ini terasa semakin mendesak ketika dunia bergerak begitu cepat dalam pusaran digitalisasi dan Artificial Intelligence (AI).
Pada Wisuda Sarjana X STAI Mau’izah Tanjung Jabung Barat, 31 Desember 2025, kegelisahan ini menjadi benang merah orasi ilmiah yang saya sampaikan. Bukan sekadar merayakan kelulusan akademik, tetapi mengajak para sarjana baru dan kita semua untuk membaca ulang makna kecerdasan, ilmu, dan masa depan.
Ketika Mesin Semakin Cerdas, Manusia Justru Kehilangan Arah
Untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, mesin tidak hanya membantu kerja manusia, tetapi mulai menyaingi bahkan melampaui kemampuan intelektualnya. Artificial Intelligence mampu menulis, menganalisis, memprediksi, dan mengambil keputusan secara cepat dan presisi.
Namun di saat yang sama, dunia justru dilanda krisis yang tidak dapat dipecahkan oleh algoritma: krisis identitas, krisis akhlak, krisis spiritualitas, krisis empati, krisis kejujuran, hingga krisis lingkungan. Inilah paradoks besar abad ke-21: kecerdasan meningkat, tetapi kebijaksanaan tertinggal.
Tiga dekade lalu, pemikir Muslim terkemuka Prof. Seyyed Hossein Nasr telah mengingatkan bahwa modernitas akan melahirkan tiga krisis besar: krisis identitas, krisis spiritualitas, dan krisis lingkungan. Kini, prediksi itu nyata di hadapan kita. Bahkan data WHO (2024) menunjukkan bahwa satu dari tiga Generasi Z mengalami stres dan gangguan kesehatan mental serius sebuah gejala kekosongan jiwa di tengah limpahan teknologi.
Dari IQ hingga AI: Kecerdasan yang Perlu Ditata
Sejarah pendidikan modern memperkenalkan berbagai konsep kecerdasan. IQ yang diperkenalkan Alfred Binet menekankan kemampuan kognitif. EQ yang dipopulerkan Daniel Goleman menekankan pengelolaan emosi dan relasi sosial. SQ yang dikenalkan Danah Zohar dan Ian Marshall mengajak manusia menemukan makna hidup.
Namun kini, manusia berhadapan dengan kecerdasan buatan AI yang lahir dari gagasan John McCarthy sejak 1956 dan menjadi sangat dominan di abad ke-21. Tantangan pun berubah secara fundamental. Manusia tidak hanya bersaing dengan manusia lain, tetapi dengan mesin yang tidak lelah, tidak emosional, dan tidak memiliki nurani.
Masalah muncul ketika manusia justru meniru cara mesin bekerja: dingin, mekanistik, dan kehilangan dimensi ruhani. Kita melihat orang berilmu tetapi miskin adab, profesional tetapi rapuh integritas, dan cerdas digital tetapi kering empati.
World Economic Forum secara konsisten menegaskan bahwa kegagalan terbesar di era digital bukanlah kekurangan teknologi, melainkan defisit nilai dan etika. Dunia tidak kekurangan orang pintar; dunia kekurangan orang yang pintar sekaligus benar.
Iqra’ Bismi Rabbik: Membaca dengan Kesadaran Ilahiyah
Islam sejatinya telah menawarkan fondasi peradaban ilmu yang utuh. Wahyu pertama tidak dimulai dengan perintah membangun kekuasaan, tetapi dengan perintah membaca: Iqra’.
“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan” (QS. Al-‘Alaq: 1).
Iqra’ tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu terikat dengan bismi rabbik. Inilah pesan mendalam Ruhiologi: membaca tidak boleh terlepas dari kesadaran ilahiyah.
Dalam perspektif Ruhiologi, membaca bukan hanya membaca teks dan data, tetapi juga membaca diri, membaca realitas sosial, membaca perubahan zaman, dan membaca dampak teknologi. Tanpa bismi rabbik, ilmu menjadi kering, teknologi menjadi liar, dan kecerdasan kehilangan arah.
Al-Qur’an bahkan mengingatkan bahaya terbesar manusia modern: merasa cukup dengan dirinya sendiri. Inilah arogansi intelektual dan teknologi yang menjauhkan manusia dari cahaya.
Good Light dan Kecerdasan Ruhiologi (RQ)
Ruhiologi memandang manusia bukan sekadar makhluk rasional, tetapi makhluk ruhani yang memiliki energi jiwa good light. Cahaya batin ini muncul ketika ilmu menyentuh hati, kesadaran diri bertemu dengan kesadaran ilahiyah, dan pengetahuan melahirkan tanggung jawab moral.
Di sinilah Kecerdasan Ruhiologi (Ruhiology Quotient / RQ) menemukan relevansinya. RQ adalah kemampuan mengelola kesadaran ruhani secara sadar, konsisten, dan terintegrasi dalam berpikir, bersikap, dan bertindak.
Jika IQ menjawab bagaimana berpikir benar, EQ menjawab bagaimana mengelola emosi, dan SQ menjawab mengapa hidup bermakna, maka RQ menjawab pertanyaan paling mendasar: untuk apa ilmu, profesi, dan teknologi digunakan?
RQ melahirkan sarjana holistik—cerdas intelektual, matang emosional, sadar spiritual, dan kokoh secara ruhani. Inilah tipe manusia yang tidak dapat digantikan oleh Artificial Intelligence.
Akhlak Karimah sebagai Puncak Peradaban
Rasulullah SAW menegaskan bahwa misi utama risalah Islam adalah penyempurnaan akhlak. Ilmu tanpa akhlak adalah kecerdasan yang berbahaya. Teknologi tanpa nilai adalah kekuatan yang merusak.
Di sinilah pendidikan menemukan puncaknya: melahirkan manusia berilmu yang beradab, profesional yang amanah, dan cerdas yang membawa maslahat.
Penutup: Dari Wisuda ke Peradaban
Wisuda bukan akhir, melainkan awal tanggung jawab. Para sarjana bukan hanya dipanggil menjadi pencari kerja, tetapi pembawa nilai dan penjaga nurani zaman. Artificial Intelligence harus menjadi alat, bukan penentu nilai hidup.

Sebagai penutup rangkaian Wisuda Sarjana X STAI Mau’izah Tanjung Jabung Barat, saya menyerahkan buku Ruhiologi: Paradigma Baru Pendidikan Holistik Abad 21 kepada Ketua STAI Mau’izah Dr. Mohd Ridwan, M.Pd.I, Wakil Bupati Tanjung Jabung Barat Dr. H. Katamso, SE., M.E, serta Sekretaris Kopertais Wilayah XIII Dr. H. Jamrizal, M.Pd. Penyerahan ini bukan sekadar simbol akademik, tetapi ikhtiar kecil untuk menyalakan cahaya good light di tengah gelombang zaman.

Akhir tahun 2025 mengajarkan satu pelajaran penting: masa depan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi oleh arah kecerdasan itu digunakan. Dan di sanalah Ruhiologi menemukan perannya.





