Krisis Syukur Abadi: Menyembuhkan Kelalaian Ruhani dengan Ruhiologi

Krisis Umat di Era Kebisingan
Kita hidup di zaman yang disebut sebagian pakar sebagai the age of noise zaman kebisingan. Informasi mengalir deras, teknologi hadir dalam genggaman, tetapi hati manusia semakin gersang. Laporan World Happiness Report (Helliwell et al., 2024) mencatat paradoks dunia modern: banyak negara maju mengalami peningkatan ekonomi, namun di saat yang sama tingkat depresi, kecemasan, dan kesepian terus meningkat. Fenomena loneliness epidemic (epidemi kesepian) di Barat dan meningkatnya angka bunuh diri di Asia menjadi alarm keras bahwa manusia sedang mengalami krisis makna.

Dalam pusaran digital, anak muda lebih mengenali selebritas dunia maya ketimbang nabi dan ulama. Telinga dijejali kebisingan musik instan, mata terpaku pada tontonan tanpa henti, dan hati dipenuhi kegelisahan emosional. Indra yang seharusnya menjadi instrumen untuk mengenal Allah telah berubah fungsi menjadi instrumen pelarian dari Allah.

Al-Qur’an sebenarnya telah mengingatkan: “Kemudian Dia menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Nya, dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati; (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.” (QS. As-Sajdah [32]:9).
Ayat ini mengungkapkan akar masalah manusia sepanjang zaman: krisis syukur abadi. Bukan sekadar tidak mengucapkan “alhamdulillah”, melainkan kelalaian dalam memelihara Ruh dan instrumen spiritual yang Allah anugerahkan.

Ruhiologi: Jalan Keluar dari Krisis Syukur
Konsep Ruhiologi (Iskandar, 2025) menawarkan paradigma baru untuk menjawab krisis modern ini. Ia menekankan pentingnya Kecerdasan Ruhani (RQ) yang memulihkan dimensi ruhani manusia agar seimbang dengan IQ, EQ, dan SQ serta AI-Q. Dalam Ruhiologi, krisis spiritual global saat ini dipahami sebagai akibat langsung dari kegagalan manusia mensyukuri potensi Ruh sebagai tiupan Ilahi.
Syukur bukan sekadar rasa puas, melainkan kesadaran eksistensial yang menghubungkan manusia dengan Sang Pemberi Ruh.

Tiga Dimensi Syukur Ruhani
1. Syukur An-Nafkh: Menjaga Kehormatan Ruh
Syukur ini menuntut kita menyadari bahwa Ruh bukan sekadar energi hidup, melainkan nafkh Ilahi. Ia adalah dimensi paling mulia dalam diri manusia. Namun, banyak orang menjatuhkannya ke dalam hasrat rendah—riya’, hasad, kesombongan, atau pencarian validasi sosial.
• Tindakan Syukur: Tafakkur (kontemplasi). Menjaga Ruh dari pencemaran penyakit hati dengan konsentrasi penuh pada identitas sejati: hamba Allah yang mulia.
• Efek Melawan Krisis: Menghentikan obsesi pada “likes” atau status sosial, lalu kembali pada definisi Ilahi tentang diri manusia.
Seperti ditegaskan oleh Nasr (2007), manusia modern menderita karena kehilangan kesadaran tentang kehormatan spiritualnya. Syukur An-Nafkh adalah jalan untuk mengembalikan kesadaran itu.

2. Syukur Al-A‘mal: Mengkalibrasi Instrumen Spiritual
Allah menganugerahkan telinga, mata, dan hati bukan untuk menjadi alat hiburan, melainkan untuk mengenal tanda-tanda-Nya. Di era digital, tantangan terbesar manusia adalah distraksi tanpa batas.
• Pendengaran: Bersyukur dengan menyaring apa yang didengar—dari perkataan sia-sia menuju firman dan hikmah.
• Penglihatan: Bersyukur dengan menjadikan mata sarana tadabbur, bukan sekadar alat voyeurisme dan tontonan melalaikan.
• Hati: Bersyukur dengan menjadikannya pusat God Spot (Newberg & D’Aquili, 2001)—ruang hening yang siap menerima God Light.
• Efek Melawan Krisis: Indra berfungsi sebagai filter cahaya Ilahi, bukan corong kebisingan dunia.
Riset neuroscientific menemukan bahwa praktik spiritual, seperti tafakkur dan doa, dapat mengaktifkan area otak yang meningkatkan rasa damai dan keterhubungan dengan Tuhan (Newberg, 2001). Inilah hakikat syukur al-a‘mal yang dikembangkan dalam Ruhiologi.

3. Syukur Al-Hidayah: Menghidupkan Iqra’ Bismi Rabbik
Syukur terbesar manusia adalah pada hidayah. Tanpa petunjuk, Ruh dan instrumen hanya menjadi energi yang tersesat.
• Tindakan Syukur: Mengamalkan Iqra’ bismi rabbik (QS. Al-‘Alaq [96]:1). Membaca, memahami, dan menghidupkan petunjuk Ilahi dalam seluruh dimensi hidup.
• Efek Melawan Krisis: RQ (Ruhiology Quotient) mengambil posisi sebagai kompas utama, melampaui IQ yang hanya mengukur nalar, atau EQ yang hanya mengatur emosi.
Dengan syukur ini, manusia tidak lagi bingung di tengah arus tren sekuler. Hidayah menjadi cahaya internal yang menuntun arah hidup.

Analisis Ruhiologis
Krisis syukur hari ini tercermin dalam telinga yang dipenuhi kebisingan, mata yang tertutup cahaya Ilahi, dan hati yang keras oleh kelalaian. Ruhiologi hadir sebagai jalan pulang.
Syukur sejati bukan sekadar ucapan, melainkan pemeliharaan Ruh. Syukur An-Nafkh menjaga kehormatan Ruh, Syukur Al-A‘mal mengkalibrasi instrumen spiritual, dan Syukur Al-Hidayah meneguhkan petunjuk sebagai kompas hidup.
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim [14]:7).
Dengan kesadaran ini, manusia tidak lagi menjadi budak kebisingan dunia, tetapi kembali menjadi hamba Allah yang bersyukur, berkesadaran, dan berbahagia.

Prof. Iskandar Nazari _Guru Besar Psikologi Pendidikan UIN Sutha Jambi _Founder Ruhiologi _CEO Samudra Inspirasi Ruhiologi ‘SIR’

Referensi
Al Qur’an Al Karim
Emmons, R. A., & McCullough, M. E. (2003). Counting blessings versus burdens: An experimental investigation of gratitude and subjective well-being in daily life. Journal of Personality and Social Psychology, 84(2), 377–389.
Helliwell, J. F., Layard, R., Sachs, J., & De Neve, J. E. (2024). World Happiness Report 2024. New York: Sustainable Development Solutions Network.
Nasr, S. H. (2007). The Garden of Truth: The Vision and Promise of Sufism, Islam’s Mystical Tradition. HarperOne.
Iskandar . (2025). Ruhiologi sebagai Paradigma Baru Pendidikan Holistik. Muaro Jambi: Samudra Inspirasi Ruhiologi.
Newberg, A., & D’Aquili, E. (2001). Why God Won’t Go Away: Brain Science and the Biology of Belief. Ballantine Books.

Admin

Prof. Iskandar Nazari, penemu dan pengembang teori Ruhiology Quotient (RQ), serta pendiri PT.Samudra Inspirasi Ruhiologi. Situs ini menjadi pusat informasi, riset, dan inspirasi seputar Ruhiology, sebuah pendekatan holistik yang memadukan dimensi ruh, intelektual, dan emosional untuk pengembangan diri dan organisasi. Melalui publikasi ilmiah, program pelatihan, dan berbagai sumber daya edukatif, website ini mengajak Anda menjelajahi kedalaman potensi manusia menuju kehidupan yang bermakna dan berdaya.

Related Posts

Esensi Sholat sebagai Pilar Transformasi Karakter

Sholat yang “Pulang” ke Rumah-Nya: Membedah Ruhiologi dalam Sujud Kita (Refleksi Pemikiran Prof. KH. Imam Suprayogo) Tokoh Pendidikan Nasional. Pernahkah kita bertanya, mengapa bangsa dengan jumlah mushalla dan masjid terbanyak…

“Kafir dan Mukmin: Berhentilah Menunjuk Orang Lain, Lihatlah ke Dalam Diri”

Prof. KH. Imam Suprayogo  (Tokoh Pendidikan Nasional) Tahukah Anda perang apa yang paling dahsyat di muka bumi ini? Bukan agresi Rusia ke Ukraina, bukan pula konflik berkepanjangan di Palestina. Perang…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mari Bersama Menyelami Makna Ruhiologi

Digital Mikraj: Saat Sinyal Wi-Fi Lebih Dicari daripada Sinyal Arasy”

  • By Admin
  • Januari 16, 2026
  • 0 views
Digital Mikraj: Saat Sinyal Wi-Fi Lebih Dicari daripada Sinyal Arasy”

Esensi Sholat sebagai Pilar Transformasi Karakter

  • By Admin
  • Januari 15, 2026
  • 53 views
Esensi Sholat sebagai Pilar Transformasi Karakter

“Kafir dan Mukmin: Berhentilah Menunjuk Orang Lain, Lihatlah ke Dalam Diri”

  • By Admin
  • Januari 15, 2026
  • 5 views
“Kafir dan Mukmin: Berhentilah Menunjuk Orang Lain, Lihatlah ke Dalam Diri”

Tragedi SMK di Jambi: Ketika Teknologi “Melangit” tapi Adab “Melesat” ke Bumi”

  • By Admin
  • Januari 15, 2026
  • 22 views
Tragedi SMK di Jambi: Ketika Teknologi “Melangit” tapi Adab “Melesat” ke Bumi”

Skandal “Ceceran Darah” di Jambi: Saat Guru Menghunus Celurit dan Murid Menjadi Serigala, Masihkah Ada “Ruh” di Sekolah Kita?

  • By Admin
  • Januari 15, 2026
  • 54 views
Skandal “Ceceran Darah” di Jambi: Saat Guru Menghunus Celurit dan Murid Menjadi Serigala, Masihkah Ada “Ruh” di Sekolah Kita?

RUHIOLOGI “Telaah Epistemologis, Qur’ani, dan Tantangan Pendidikan Holistik Abad ke-21

  • By Admin
  • Januari 13, 2026
  • 10 views
RUHIOLOGI “Telaah Epistemologis, Qur’ani, dan Tantangan Pendidikan Holistik Abad ke-21