Prof. KH. Imam Suprayogo (Tokoh Pendidikan Nasional)
Tahukah Anda perang apa yang paling dahsyat di muka bumi ini? Bukan agresi Rusia ke Ukraina, bukan pula konflik berkepanjangan di Palestina. Perang terdahsyat itu tidak diliput oleh media internasional, namun dentumannya terjadi setiap detik di dalam dada kita sendiri. Itulah Jihadul Akbar perang besar melawan hawa nafsu dan kekufuran yang bersembunyi di balik jubah keimanan kita.
Selama ini, kita seringkali mengidap penyakit “jari telunjuk”. Ketika mendengar kata Kafir, telunjuk kita dengan cepat mengarah kepada orang lain, kepada kelompok yang berbeda, atau mereka yang tidak sejalan dengan pemahaman kita. Sebaliknya, ketika bicara tentang Mukmin dan keselamatan, kita dengan percaya diri menunjuk dada sendiri seolah surga sudah pasti di tangan.
Gus Dur pernah memberikan tamparan keras bagi ego kita: banyak orang terlalu sibuk mengurusi kekafiran orang lain, tetapi buta terhadap kekafiran yang mendekam di dalam dirinya sendiri. Kita merasa paling suci, sementara orang lain adalah sesat yang harus dihakimi. Padahal, esensi agama bukanlah alat untuk menghakimi sesama, melainkan cermin untuk membedah diri.
Memahami Dualitas di Dalam Diri
Al-Qur’an telah memberikan peta batin yang jelas dalam Surah At-Taghabun ayat 2:
“Dialah yang menciptakan kamu, lalu di antara kamu ada yang kafir dan di antara kamu ada yang mukmin…”
Ayat ini bukan sekadar klasifikasi kelompok manusia secara eksternal, melainkan realitas internal. Dalam diri kita, ada potensi “kekafiran” yakni pengingkaran terhadap kebenaran, ketidakadilan, ketidakjujuran, dan sifat-sifat destruktif lainnya. Di sisi lain, ada potensi “mukmin” cahaya ketaatan, kejujuran, dan kemanusiaan.
Menjadi seorang muslim yang sejati berarti mengakui bahwa medan pertempuran antara “kekafiran” dan “keimanan” itu ada di dalam hati kita sendiri. Saat kita dihadapkan pada pilihan: Apakah saya akan bertindak adil meski merugikan saya? Apakah saya akan jujur saat berbohong jauh lebih menguntungkan? Di situlah perang besar sedang berlangsung.
Rasulullah SAW bersabda setelah pulang dari Perang Badar:
“Kita baru saja kembali dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar (Jihadul Akbar), yaitu jihad melawan hawa nafsu.” (HR. Al-Baihaqi).
Agama memerintahkan kita untuk menyelamatkan keimanan pribadi, bukan menjadi hakim bagi keimanan orang lain. Urusan kita adalah memastikan bahwa “Kafir” di dalam diri kita berupa kesombongan, kedengkian, dan ketidakadilan bisa dikalahkan oleh “Mukmin” yang membawa kedamaian.
Mulailah “Menunduk”, Bukan “Menunjuk”
Mari kita ubah cara pandang kita dalam beragama. Berhenti menjadikan agama sebagai “senjata” untuk menyerang orang lain, dan mulailah menjadikannya “obat” untuk menyembuhkan penyakit hati kita sendiri.
Tugas kita bukan mengislamkan orang yang sudah Islam, atau mengafirkan mereka yang berbeda. Tugas kita adalah mengalahkan kekufuran dalam sifat-sifat kita sehari-hari.
Mari bertanya pada diri sendiri sebelum tidur malam ini: Siapa yang menang di dalam diri saya hari ini? Sang Mukmin yang penuh kasih, atau sang Kafir yang penuh kebencian?
Referensi: Hasil dialog Prof. Iskandar langsung dengan Prof. KH.Imam Suprayogo dan juga disadur dari tulisan pemikiran beliau sebagai bahan renungan bersama bagi pembaca artikel Samudra Inspirasi Ruhiologi.




