JAMBI – Institut Islam Ma’arif (IIM) Jambi secara resmi mengawali tahun ajaran akademik 2025-2026 dengan menggelar Kuliah Umum yang dihadiri seluruh mahasiswa baru dan civitas akademika. Acara ini menjadi momentum penting untuk menanamkan nilai-nilai karakter Islami bagi para mahasiswa yang diharapkan menjadi pelopor perubahan.
Rektor IIM Jambi, Dr. Miftahur Rizik, M.Pd, dalam sambutannya menekankan peran strategis mahasiswa Ma’arif sebagai agen penebar nilai-nilai Islami. “Mahasiswa Ma’arif adalah pelopor dalam menanamkan nilai-nilai karakter Islami. Oleh karena itu, kami menghadirkan narasumber yang sangat relevan dengan kebutuhan umat, terutama bagi civitas akademika kami,” ujar Rektor.
Narasumber utama dalam kuliah umum ini adalah Prof. Iskandar, Profesor Ruhiologi yang juga merupakan dosen saya waktu S3 di Program Doktor di UIN SUTHA Jambi tahun 2016. Kepakaran beliau dalam bidang Ruhiologi dianggap sangat relevan dengan tantangan di era saat ini. Prof. Iskandar dikenal sebagai sosok akademisi yang produktif dalam menulis buku dan artikel, shinta nasional maupun internasional yang terindeks Scopus. Pengalaman beliau yang luas di lingkungan perguruan tinggi dan di luar kampus semakin memperkaya perspektif yang disampaikannya. Selanjutnya Kuliah Umum di Moderatori oleh Ibu Wakil Rektor Idrawati, M.Pd.I yang menyampaikan Curriculum Vitea Prof. Iskandar dan mempersilakan memebri waktu untuk presentasi di hadapam ratusan mahasiswa Institut Islam Ma’arif Jambi.
The Ultimate Upgrade: Mencari Jiwa yang Hilang
Kuliah umum bertajuk “The Ultimate Upgrade: Mencari Jiwa yang Hilang di Era Society 5.0 #RUHIOLOGI 5.0” ini disambut dengan antusias oleh para mahasiswa. Dengan gaya presentasi dan dialog yang interaktif, Prof. Iskandar menyapa mahasiswa baru dengan penuh semangat.
Dalam paparannya, Prof. Iskandar menjelaskan berbagai jenis kecerdasan yang dikenal luas, mulai dari IQ (Intellectual Quotient), EQ (Emotional Quotient), SQ (Spiritual Quotient), hingga AI-R (Artificial Intelligence-Ruhiologi). Ia kemudian memperkenalkan Ruhiologi atau Ruhiyiah Quotient (RQ) sebagai kecerdasan utama yang menjadi perekat bagi seluruh kecerdasan lainnya.
Menurut Prof. Iskandar, Ruhiologi adalah kemampuan untuk menghadirkan energi jiwa dalam setiap pengambilan keputusan, sehingga setiap tindakan dapat bernilai ibadah. “Ruhiologi memungkinkan kita untuk terhubung dengan nilai-nilai ilahiah dalam setiap aktivitas. Ini adalah upgrade tertinggi yang harus dimiliki,” jelasnya.
Ruhiologi sebagai Paradigma Transintegrasi Ilmiah
Dalam presentasi yang menarik, Prof. Iskandar menguraikan lebih dalam mengenai Ruhiologi sebagai cara kerja ilmiah berparadigma transintegrasi. Paradigma ini, jelasnya, menggabungkan antara konsentrasi (ilmu) dan kontemplasi (ibadah).
Metode ini didasarkan pada landasan fundamental “Iqra’ bismirabbik” (Bacalah dengan nama Tuhanmu). Prof. Iskandar menjelaskan bahwa proses ini merupakan suatu siklus yang tak terpisahkan:
1. Konsentrasi: Tahap ini berfokus pada penguasaan ilmu pengetahuan, data, dan fakta yang diperoleh melalui observasi dan penelitian empiris.
2. Kontemplasi: Tahap ini adalah proses perenungan mendalam, di mana data dan fakta yang telah dikumpulkan dihubungkan dengan nilai-nilai spiritual dan ilahiah.
Melalui proses transintegrasi ini, hadir apa yang disebut “Godspot” dan “Godlight”. Godspot merujuk pada kesadaran spiritual yang muncul dalam diri pendidik dan peserta didik, menjadi titik di mana ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keagamaan bertemu. Godlight, di sisi lain, adalah pencerahan atau inspirasi ilahiah yang memandu proses pembelajaran, menjadikan ilmu tidak hanya sebagai informasi, tetapi juga sebagai petunjuk untuk berperilaku luhur.
Sesi dialog pun berlangsung hangat, di mana mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan. Untuk menambah semangat, Prof. Iskandar memberikan kejutan berupa doorprize buku hasil karyanya bagi tiga mahasiswa yang berhasil menjawab pertanyaan yang diberikannya.
Kuliah umum ini berhasil membuat seluruh peserta betah hingga akhir acara. Tidak ada satu pun mahasiswa yang keluar-masuk, menunjukkan tingginya minat dan fokus mereka terhadap materi yang disampaikan. Acara ditutup dengan sesi foto bersama Rektor, dosen, dan seluruh mahasiswa, mengabadikan momen berharga di awal perjalanan akademik mereka.







