“Prof. Iskandar _Founder Ruhiologi”
Awal tahun selalu datang dengan harapan baru. Kalender berganti, resolusi disusun, target ditetapkan. Namun sejarah peradaban mengajarkan satu pelajaran penting: perubahan waktu tidak otomatis melahirkan perubahan manusia. Yang menentukan arah masa depan bukan pergantian angka, melainkan keberanian untuk berhijrah secara batin.
Abad ke-21 telah menunjukkan paradoks yang mencolok. Di satu sisi, teknologi melaju luar biasa cepat. Kecerdasan buatan berkembang, produksi meningkat, dan eksploitasi sumber daya berjalan masif. Di sisi lain, krisis justru menumpuk: lingkungan rusak, kesenjangan melebar, konflik kepentingan mengeras, dan manusia semakin kehilangan rasa cukup.
Pertanyaannya bukan lagi apa yang salah dengan alam, melainkan apa yang sedang rusak di dalam diri manusia.
Hijrah yang Terlupakan: Dari Sistem ke Kesadaran
Selama ini, krisis lingkungan sering dijawab dengan pendekatan teknis: regulasi diperketat, kurikulum disusun, teknologi hijau dikembangkan. Semua itu penting. Namun pengalaman menunjukkan bahwa kerusakan tetap berulang. Mengapa?
Karena masalah utamanya bukan ketiadaan sistem, melainkan kegagalan hijrah batin. Manusia modern belum sungguh-sungguh berpindah dari orientasi tamak menuju kesadaran amanah. Alam masih dipandang sebagai objek ekonomi, bukan titipan ilahiyah. Pembangunan masih dimaknai sebagai pertumbuhan angka, bukan kematangan nurani.
Inilah yang oleh banyak pemikir, termasuk Seyyed Hossein Nasr, disebut sebagai krisis spiritual yang menjelma menjadi krisis ekologis. Ketika dimensi sakral disingkirkan dari kehidupan, alam kehilangan makna, dan eksploitasi menjadi sah secara moral maupun administratif.
Tamak: Musuh Peradaban yang Tidak Pernah Disadari
Dalam perspektif Ruhiologi, akar terdalam krisis ini adalah tamak yang akut. Tamak bukan sekadar sifat buruk individual, melainkan pola kesadaran kolektif. Ia hadir ketika manusia tidak lagi mengenal batas, tidak memiliki rasa cukup, dan menjadikan akumulasi sebagai ukuran keberhasilan hidup.
Yang membuat tamak berbahaya adalah kenyataan bahwa ia sering tampil rapi: dibungkus legalitas, dibenarkan statistik ekonomi, bahkan dipuji sebagai prestasi. Padahal, tamak adalah penyakit hati. Dan penyakit hati tidak bisa disembuhkan hanya dengan pengetahuan.
Banyak perusak lingkungan adalah orang-orang berpendidikan. Banyak pelaku korupsi memahami hukum dengan baik. Ini menegaskan satu hal: masalahnya bukan pada kurangnya tahu, tetapi pada lemahnya sadar.
Hijrah Ruhiologis: Dari Mengetahui ke Menyadari
Di sinilah makna hijrah perlu dibaca ulang. Hijrah bukan sekadar perpindahan ruang atau simbol religius, melainkan perpindahan kesadaran: dari hidup yang digerakkan oleh nafsu menuju hidup yang dituntun nurani.
Ruhiologi menawarkan jalan ini melalui penguatan Kecerdasan Ruhiologi (RQ), yaitu kemampuan manusia mengelola kesadaran ruhani secara sadar, konsisten, dan terintegrasi dalam berpikir, bersikap, dan bertindak.
Hijrah ruhiologis dimulai dari penyadaran:
bahwa tamak adalah penyakit,
bahwa alam adalah amanah,
bahwa hidup bukan soal seberapa banyak yang dikuasai, tetapi seberapa bertanggung jawab yang dijalani.
Setelah sadar, manusia diajak untuk terus bertemu Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Shalat, dalam perspektif ini, bukan ritual kosong, tetapi mi’raj harian—ruang pemulihan hati, penundukan ego, dan penataan ulang orientasi hidup. Dari sinilah akhlak tumbuh, dan dari akhlak itulah tanggung jawab ekologis lahir secara alami.
Indonesia dan Tantangan Hijrah Peradaban
Indonesia sedang berdiri di persimpangan penting. Kekayaan alam luar biasa bisa menjadi sumber keberkahan atau sumber kehancuran. Semua bergantung pada kualitas kesadaran manusianya.
Deforestasi, tambang rakus, pencemaran sungai, dan bencana berulang bukan semata kegagalan kebijakan, tetapi tanda bahwa hijrah batin belum terjadi secara kolektif. Tanpa hijrah kesadaran, pembangunan akan terus melukai masa depan.
Hijrah peradaban menuntut perubahan orientasi:
dari eksploitasi ke penjagaan,
dari akumulasi ke keberlanjutan,
dari tamak ke amanah.
Menyambut 2026: Memulai dari Dalam
Awal 2026 seharusnya menjadi momentum untuk berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur: ke mana sebenarnya kita sedang melangkah? Tanpa pemulihan nurani, kemajuan hanya akan mempercepat kerusakan. Tanpa hijrah kesadaran, peradaban akan terus berlari tanpa arah.
Ruhiologi mengajak kita kembali pada makna terdalam Iqra’ bismi rabbik membaca alam, ilmu, dan zaman dengan kesadaran ilahiyah. Dari sanalah lahir manusia yang tahu batas, menjaga amanah, dan mampu hidup berdampingan dengan alam secara bermartabat.
Hijrah sejati tidak selalu terlihat. Ia berlangsung sunyi, di dalam hati. Tetapi dari hijrah batin itulah masa depan yang lebih adil, lestari, dan manusiawi bisa dibangun.
Selamat datang 2026.
Saatnya berhijrah bukan sekadar ke tahun baru, tetapi ke kesadaran yang baru.





