Prof. Iskandar Nazari (Guru Besar Psikologi Pendidikan UIN Sutha Jambi _Founder Ruhiologi)
Pendahuluan
Krisis ekologi global semakin mengkhawatirkan: perubahan iklim, banjir, kebakaran hutan, hingga polusi plastik. Generasi muda seringkali terjebak dalam gaya hidup konsumtif yang memperparah kerusakan bumi. Menteri Agama RI, Prof. KH. Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa pendidikan agama tidak boleh terlepas dari persoalan ekologis. Beliau menggagas Ekoteologi dan mendorong penerapan Kurikulum Cinta di lembaga pendidikan keagamaan sebagai jawaban atas krisis ini (Kemenag, 2025a).
Ekoteologi mengajarkan bahwa alam adalah bagian dari ayat-ayat Tuhan yang harus dihormati, bukan sekadar sumber daya ekonomi. Sementara Kurikulum Cinta meneguhkan bahwa pendidikan agama harus melahirkan generasi yang penuh kasih—kepada Allah, sesama manusia, dan seluruh makhluk. Agar pesan ini tidak berhenti pada ranah kognitif, ia perlu dihidupkan dengan pendekatan Ruhiologi.
Ekoteologi dan Kurikulum Cinta
Ekoteologi sebagai kebijakan pendidikan tidak bisa berjalan sendiri. Ia harus ditopang dengan paradigma pendidikan berbasis cinta. Menag menyebut, “agama sejatinya adalah jalan cinta; bila cinta hilang, agama kehilangan ruhnya” (Umar, 2025). Dari sini lahir gagasan Kurikulum Cinta: membangun peserta didik yang mencintai Tuhan, guru, sesama, lingkungan, dan ilmu pengetahuan.
Jika kurikulum cinta menjadi landasan sikap, maka ekoteologi menjadi praksis nyata dari cinta itu: menjaga bumi sebagai wujud kasih kepada ciptaan. Dengan demikian, pendidikan agama berfungsi ganda: menanamkan etika ekologis dan menumbuhkan kesadaran spiritual.
RQ: Pusat Kecerdasan Ruhani
Di era Society 5.0, manusia memiliki banyak jenis kecerdasan: IQ (logika), EQ (emosi), SQ (spiritual), hingga AI-Q (Artificial Intelligence Quotient). Namun, tanpa kendali ruhani, semua kecerdasan itu berpotensi liar dan merusak. Di sinilah Ruhiology Quotient (RQ) berperan sebagai pusat kecerdasan yang membathinkan, mengendalikan, dan mengarahkan IQ, EQ, SQ, bahkan AI-Q agar tunduk pada kesadaran ketuhanan (Iskandar, 2025).
Dalam konteks ekoteologi, RQ menjadi jiwa yang menghidupkan kurikulum cinta. RQ menuntun manusia untuk tidak hanya memahami pentingnya menjaga bumi, tetapi juga merasakannya sebagai panggilan ruhani. Merusak alam berarti mengkhianati cinta Ilahi; menjaga alam berarti menyinari hati dengan nur-Nya.
Ruhiologi: Iqra’, Konsentrasi, dan Kontemplasi
Al-Qur’an memulai wahyu dengan ayat “Iqra’ bismirabbik” (QS. Al-‘Alaq: 1), mengajarkan membaca alam dengan kesadaran ketuhanan. Ruhiologi mengajarkan praktik konsentrasi (fokus pada kehadiran Allah) dan kontemplasi (merenungi ayat-ayat kauniyah) untuk mengaktifkan God Spot (pusat kesadaran Ilahi dalam otak) dan menghadirkan God Light (cahaya ruhani yang menuntun perilaku).
Metode ini menjadikan pendidikan ekoteologi lebih mendalam: generasi muda tidak hanya tahu kewajiban menjaga lingkungan, tetapi juga merasakan kedekatan spiritual dengan bumi sebagai bagian dari cinta kepada Tuhan.
Generasi Hijau Berkesadaran Ilahi
Integrasi ekoteologi, kurikulum cinta, dan Ruhiologi membuka jalan lahirnya generasi hijau berkesadaran Ilahi: generasi yang tidak hanya cerdas intelektual, emosional, dan teknologi, tetapi juga memiliki RQ yang memandu semua kecerdasannya pada Allah. Inilah generasi khalifah fil-ardh yang mampu menyeimbangkan kemajuan digital dengan kelestarian alam.
Seperti ditegaskan Menteri Agama, “kita ingin menggunakan bahasa agama untuk merawat planet ini” (Kemenag, 2025b). Dengan dukungan Ruhiologi, bahasa agama itu bukan sekadar narasi moral, tetapi energi spiritual yang menggerakkan cinta ekologis.
Penutup
Ekoteologi adalah kebijakan strategis menghadapi krisis ekologi. Kurikulum cinta adalah landasan sikapnya. Ruhiologi adalah ruh yang menghidupkannya. Ketiganya bersinergi untuk melahirkan paradigma pendidikan holistik: membaca alam dengan Iqra’ bismirabbik, merawat bumi dengan cinta, dan menumbuhkan generasi hijau berkesadaran Ilahi.
Referensi
Al-Qur’an. (QS. Al-‘Alaq: 1–5).
Iskandar, I. (2025). Kecerdasan Ruhiologi sebagai Paradigma Pendidikan Holistik. Jambi: Samudra Inspirasi Ruhiologi.
Kemenag RI. (2025a). Menag minta ekoteologi dan pelestarian alam masuk kurikulum pendidikan agama. Diakses dari https://kemenag.go.id
Kemenag RI. (2025b). Menag tekankan pentingnya ekoteologi dalam menjaga lingkungan. Surabaya Kemenag. Diakses dari https://surabaya.kemenag.go.id
Umar, N. (2025). Pidato Asta Protas Kementerian Agama 2025–2029. Jakarta: Kementerian Agama RI.





