Prof. Iskandar _Founder Ruhiologi
Abad ke-21 sering dirayakan sebagai puncak kemajuan peradaban manusia. Teknologi berkembang pesat, kecerdasan buatan melampaui banyak kemampuan manusia, dan akses informasi semakin tak terbatas. Namun di balik semua itu, manusia modern justru menghadapi kegelisahan yang semakin dalam. Di tengah kemajuan, muncul pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh algoritma: siapa kita sebenarnya, ke mana arah hidup ini, dan apa makna semua kemajuan ini jika jiwa manusia justru rapuh?
Pemikir Muslim kontemporer terkemuka, Prof. Seyyed Hossein Nasr, sejak dekade 1990-an telah mengingatkan bahwa peradaban modern akan menghadapi tiga krisis besar yang saling berkaitan: krisis identitas, krisis spiritualitas, dan krisis lingkungan. Tiga krisis ini kini nyata dan terasa kuat di abad 21, termasuk di Indonesia. Dalam perspektif Ruhiologi, ketiganya bukanlah krisis terpisah, melainkan krisis kesadaran manusia modern yang kehilangan pusat ruhaniahnya.
Krisis Identitas: Ketika Manusia Kehilangan Diri di Tengah Kemajuan
Krisis identitas pada abad 21 bukan sekadar kebingungan peran sosial atau profesi. Ia adalah krisis eksistensial yang lebih dalam: manusia tidak lagi memahami dirinya sebagai makhluk yang memiliki tujuan ruhani. Identitas dibangun dari citra, prestasi, dan pengakuan eksternal, bukan dari kesadaran batin.
Modernitas, sebagaimana dikritik Nasr, telah memisahkan manusia dari akar metafisiknya. Manusia dipahami terutama sebagai makhluk ekonomi dan rasional, bukan sebagai makhluk ruhani yang memikul amanah ilahiyah. Akibatnya, lahirlah generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara batin.
Di era digital, krisis ini semakin tajam. Media sosial melahirkan identitas artifisial; seseorang dapat tampil “utuh” di ruang digital, namun merasa kosong dalam kehidupan nyata. Banyak orang muda mengalami kebingungan makna, meskipun memiliki pendidikan dan akses teknologi yang luas. Inilah yang dalam Ruhiologi disebut sebagai kekosongan jiwa akibat keterputusan antara kesadaran diri dan kesadaran ilahiyah.
Krisis Spiritualitas: Hidup yang Kehilangan Arah Makna
Krisis identitas berkelindan erat dengan krisis spiritualitas. Nasr melihat bahwa modernitas dibangun di atas sekularisasi ilmu pengetahuan: Tuhan disingkirkan dari pusat makna, dan realitas dipersempit hanya pada apa yang bisa diukur secara empiris. Akibatnya, manusia kehilangan pengalaman akan Yang Sakral.
Di abad 21, krisis spiritualitas tampak dalam berbagai bentuk: meningkatnya stres, kecemasan, depresi, dan perasaan hampa, terutama di kalangan generasi muda. Laporan kesehatan mental global menunjukkan bahwa kemajuan material tidak otomatis menghadirkan ketenangan batin. Banyak manusia hidup serba cukup, tetapi kehilangan rasa cukup dalam jiwanya.
Dalam perspektif Ruhiologi, spiritualitas bukan sekadar ritual formal, melainkan kesadaran hidup yang terhubung dengan Tuhan dalam setiap aktivitas. Ketika spiritualitas terlepas dari ilmu, pekerjaan, dan teknologi, maka hidup menjadi mekanistik bergerak, tetapi tanpa arah makna.
Krisis Lingkungan: Kerusakan Alam sebagai Cermin Rusaknya Nurani Manusia
Krisis ketiga dan paling kasat mata adalah krisis lingkungan. Dalam pandangan ekoteologi Islam yang juga ditegaskan oleh Nasr, krisis lingkungan bukan sekadar persoalan teknis, tetapi krisis spiritual yang menjelma menjadi kerusakan ekologis. Alam rusak karena manusia tidak lagi memandangnya sebagai ciptaan Tuhan, melainkan sebagai objek eksploitasi.
Al-Qur’an telah mengingatkan secara tegas:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali.”
(QS. Ar-Rūm: 41)
Ayat ini menegaskan bahwa kerusakan lingkungan adalah akibat langsung dari keserakahan manusia dan hilangnya kesadaran ilahiyah.
Indonesia: Potret Nyata Krisis Ekologi Ulah Manusia Rakus
Indonesia memberikan contoh nyata bagaimana krisis lingkungan bukan takdir alam, melainkan hasil dari tindakan manusia yang rakus dan tidak amanah.
Deforestasi besar-besaran, alih fungsi hutan tanpa kendali, dan eksploitasi sumber daya alam demi keuntungan jangka pendek telah menyebabkan banjir tahunan, longsor, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Aktivitas pertambangan yang mengabaikan etika lingkungan meninggalkan lubang-lubang kematian, mencemari air dan tanah, serta merusak ruang hidup masyarakat.
Sungai-sungai berubah menjadi saluran limbah, laut menjadi tempat pembuangan, dan udara tercemar oleh aktivitas industri yang tidak berkeadaban. Semua ini menunjukkan satu hal: hubungan manusia dengan alam telah kehilangan dimensi sakralnya.
Dalam ekoteologi Ruhiologi, alam adalah amanah. Merusaknya berarti mengkhianati mandat sebagai khalifah. Ketika manusia memutus hubungan spiritual dengan alam, maka pembangunan berubah menjadi perusakan yang dilegalkan oleh angka-angka ekonomi.
Mengikat Tiga Krisis dalam Satu Akar Masalah: Krisis Kesadaran
Krisis identitas, spiritualitas, dan lingkungan sejatinya memiliki satu akar yang sama: krisis kesadaran manusia modern. Ilmu dipisahkan dari nilai, teknologi dilepaskan dari etika, dan manusia dijauhkan dari Tuhan. Inilah yang oleh Ruhiologi disebut sebagai kehidupan tanpa good light cahaya batin yang menuntun arah hidup.
Prof. Iskandar_Founder Ruhiologi menawarkan jalan pemulihan melalui penguatan Kecerdasan Ruhiologi (RQ), yaitu kemampuan mengelola kesadaran ruhani secara sadar, konsisten, dan terintegrasi dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. RQ membuat manusia tidak hanya bertanya bagaimana dan mengapa, tetapi juga untuk apa.
Manusia dengan RQ yang matang akan:
mengenal dirinya sebagai makhluk bermakna,
menjaga hubungannya dengan Tuhan secara sadar,
dan memperlakukan alam sebagai amanah, bukan objek eksploitasi.
Refleksi Akhir Tahun 2025
Di penghujung 2025, pertanyaan paling penting bukanlah seberapa canggih teknologi kita, tetapi apakah kita masih memiliki nurani. Krisis tiga dimensi ini adalah peringatan agar manusia berhenti sejenak, merenung, dan kembali pada pusat dirinya.
Tanpa pemulihan kesadaran ruhani, kemajuan hanya akan melahirkan peradaban yang cepat, tetapi rapuh. Ruhiologi mengajak manusia untuk kembali membaca hidup dengan Iqra’ bismi rabbik membaca diri, alam, dan zaman dengan kesadaran ilahiyah.
Dari sanalah masa depan yang benar-benar cemerlang bisa dibangun: bukan hanya maju secara teknologi, tetapi juga matang secara moral, spiritual, dan ekologis





