Orasi Pengukuhan Guru Besar:
Prof. Iskandar, S.Ag., M.Pd., M.S.I., M.H., Ph.D
Guru Besar Bidang Psikologi Pendidikan (Founder Ruhiologi)
UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Bismillahirrahmanirrahim.
Yang kami hormati, Gubernur Jambi, Rektor UIN STS Jambi, Ketua Senat Universitas beserta Para Guru Besar dan Anggota Senat, Para Pimpinan UIN STS Jambi beserta Dosen dan Civitas Akademika, Orang Tua beserta Keluarga Besar saya dan seluruh Tamu Undangan hadirin yang kami muliakan.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillāhi Rabbil ‘Ālamīn, segala puji dan syukur yang tak henti kami panjatkan ke hadirat Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā atas limpahan rahmat, nikmat, dan karunia-Nya yang tak terhingga. Hari ini, di hadapan hadirin yang mulia, saya berdiri dalam rasa haru dan penuh kesyukuran, menjalani momen yang mungkin tak pernah saya bayangkan sebelumnya: prosesi pengukuhan sebagai Guru Besar dalam bidang Psikologi Pendidikan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.
Shalawat dan salam yang penuh cinta dan kerinduan, marilah kita hadiahkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, sang pembawa cahaya kebenaran, yang telah membebaskan manusia dari kegelapan menuju cahaya terang benderang. Semoga kita semua kelak memperoleh syafa‘at beliau di yaumil akhir. Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn.
Mukadimah
Kemajuan teknologi di era revolusi industri 4.0 & era society 5.0 telah mengubah lanskap pendidikan secara drastis. Penggunaan internet, kecerdasan buatan, dan platform pembelajaran daring telah mempermudah akses informasi. Namun, di balik kemudahan tersebut tersembunyi pengaruh negatif teknologi informasi, secara praktis dapat menggoyahkan “pola fikir” (think pattern) pada gilirannya dapat merusak “pola hidup” life pattern, akibat lebih jauh dapat menimbulkan gejala “westomania” penyakit jiwa berupa krisis identitas, krisis spritualtias dan krisis lingkungan. Penyalahgunaan teknologi, seperti hoaks, kecanduan gadget, dan plagiarisme serta judi online mengindikasikan bahwa sistem pendidikan saat ini belum mampu membentuk karakter yang kokoh (Nasr, Syed Hossien, 1976; Marzuki Arsyad, 1990).
Praktik Pendidikan Nasional belum secara holistik mengembangkan potensi peserta didik, melainkan lebih dominan dalam mengembangkan fakultas akal dan rasional dalam aspek berpikir, termasuk kognitif, afektif, dan psikomotor melalui pendekatan yang sudah ada berupa paradigma Kecerdasan Intelektual (IQ), Kecerdasan Emosional (EQ), dan Kecerdasan Spiritual (SQ). Akibatnya, hasil pendidikan lebih berorientasi pada pemenuhan formalitas hukum, sementara perilaku peserta didik sering kali menyimpang dari hasil pendidikan yang tidak selaras dengan tujuan utama pendidikan nasional, yaitu peningkatan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia. (Iskandar et.al, 2017; 2019; 2020; 2021; 2023).
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah menetapkan bahwa pendidikan nasional harus menghasilkan manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Namun, pada praktiknya, pendidikan kita masih didominasi oleh pendekatan IQ, EQ, dan SQ yang lebih dominan dimensi material (pisik) yang kurang menyentuh dimensi ruhani. Di tengah derasnya arus globalisasi, saat teknologi melesat menembus batas langit, kita menyaksikan ironi yang memilukan: Manusia semakin cerdas dalam pikiran, tetapi semakin asing dengan suara jiwanya. Prestasi melambung, namun akhlak terpuruk. Dunia dipenuhi kecepatan, tetapi kehilangan kedalaman, oleh karena itu tantangan globalisasi dan revolusi teknologi, kita dihadapkan pada dilema: bagaimana menjamin bahwa kemajuan digital tidak mengikis nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas? Di sinilah penting penerapan pendidikan secara holistik yang menghadirkan Ruhiologi, atau Ruhiology Quotient (RQ) sebagai paradigma baru yang mengintegrasikan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual yang terhubung pada dimensi “ruh” sebagai sumber kecerdasan kehidupan sejati. Meskipun visi pendidikan nasional telah menetapkan tujuan luhur untuk mencetak manusia beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, realitas di lapangan masih jauh dari harapan. Kurikulum yang terlalu berfokus pada aspek kognitif, afektif dan psikomotor mengabaikan pembentukan karakter berbasis ruhani. Oleh karena itu, reformulasi model pendidikan melalui restorasi Ruhiologi sangat mendesak sebagai upaya menjembatani kesenjangan dalam pendidikan kita.
Fenomena perilaku menyimpang di kalangan lulusan pendidikan formal menunjukkan bahwa kecerdasan akademik tidak serta merta menjamin kedalaman spiritualitas (SQ). Banyak individu yang meskipun memiliki IQ tinggi dan Cerdas (EQ) serta menguasai teknologi (AI), tetap menunjukkan kecenderungan moral yang menyimpang. Inilah yang menggarisbawahi mengapa perlunya transintegrasi dimensi esensial manusia melalui Restorasi Ruhiologi Quotient (RQ) dengan Model Pendidikan Holistik Abad 21 sebagai proses memuliakan kemanusian manusia menuju Generasi Emas yang berkesadaran.
Hari ini, pada pengukuhan Guru Besar Bidang Psikologi Pendidikan, saya hadir bukan untuk merayakan kecanggihan, tetapi untuk mengingatkan diri saya dan kita semua: bahwa di balik setiap dimensi kecerdasan, harus ada energi jiwa (GodLight) cahaya ilahi yang menuntun. Maka izinkan saya mempersembahkan sebuah gagasan penting; Sebuah konsep yang saya sebut sebagai: “Ruhiologi Quotient” atau disingkat RQ sebagai pusat dari segala kecerdasan manusia. yang saya Yakini dapat menjadi solusi, melalui membangkitkan dan mengelola energi jiwa (GodLight) untuk menyempurnakan semua dimensi kecerdasan yang dimiliki oleh manusia yang tidak terpisah tapi bisa di pilah.
Landasan Filosofis Ruhiologi dalam Pendidikan Holistik
Sejak awal peradaban, umat manusia telah menyadari bahwa keberadaan “ruh” merupakan inti dari eksistensi. Al-Qur’an menegaskan bahwa penciptaan manusia tidak hanya material, melainkan transendental, sebagaimana tertuang dalam QS. As-Sajadah (32): 9, “Aku sempurnakan kejadian manusia, Aku tiup Ruh ke dalamnya.” Konsep ini menunjukkan bahwa ruh merupakan sumber dari segala kecerdasan yang hakiki. Dalam perspektif Ruhiologi, ruh bukanlah sekadar elemen yang abstrak, melainkan pondasi dari potensi intelektual, emosional, dan spiritual yang harus dikembangkan secara harmonis.
Manusia yang diciptakan oleh Allah SWT adalah satu umat universal yang memiliki nafas Ruh, yang menjadi bagian penting dari keberadaan manusia itu sendiri (Alyona et al., 2016; Wahab & Karia, 2020; Ushuluddin et al., 2021). Menurut Smith JI (1979), istilah Arab “Ruh” berpadanan dengan kata “Roh” dalam bahasa Inggris, yang berarti “prinsip kehidupan”. Ruh ini pertama kali ditiupkan Allah kepada Adam, yang menjadi dasar bagi kejadian manusia, sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an (QS 10:19) yang menyatakan bahwa, “Manusia itu dulunya merupakan umat yang satu, kemudian mereka berselisih.” Dalam kajian psikologis, perkembangan kejadian manusia juga dijelaskan dalam Al-Qur’an (QS. 23:12-14) yang menggambarkan proses penciptaan manusia dari tanah liat hingga menjadi makhluk yang sempurna, dimulai dari setetes sperma yang disimpan dalam rahim, kemudian berkembang menjadi segumpal darah, daging, dan tulang. Allah kemudian menyempurnakan penciptaan ini dengan meniupkan Ruh-Nya ke dalam tubuh manusia, menjadikan manusia sebagai ciptaan yang sempurna.
Konsep Ruh ini selalu menarik untuk dipelajari karena keberadaannya yang nyata dalam diri manusia. Sebaliknya, pandangan materialisme menganggap Ruh tidak ada dan hanya mengakui keberadaan fisik yang tampak (Dalkiliç, 2005). Ruh itu sendiri dapat dideteksi melalui fungsi utamanya sebagai pemberi kehidupan nyata bagi manusia, yang tercermin dalam proses pertumbuhan, perkembangan, atau regenerasi yang terjadi secara alami dalam tubuh manusia (Hakamah, 2015; Minrazavi, 2016; Shahrokhi et al., 2018). Untuk mengenali Ruh, manusia harus menyadari dan memahami sesuatu yang ada dalam dirinya dan di sekelilingnya, termasuk identitas, tujuan, dan tempat mereka berada. Hal ini mendorong manusia untuk mencapai kesadaran Ruh (Ruhiology Quotient), yaitu kemampuan untuk memahami dan merasakan adanya dimensi ruhani dalam diri.
Surah Al-Mulk: 3 mengingatkan manusia untuk menyadari dan memahami segala sesuatu yang ada di sekitarnya yang diciptakan oleh Allah. Proses pemahaman ini berulang hingga manusia benar-benar menyadari keberadaan Ruh dalam dirinya (Ninla Elmawati Falabiba, 2019; Hernawan, 2017). Dalam dimensi spiritual keagamaan, Ruh memiliki kemampuan khusus yang dirasakan oleh setiap manusia, yaitu kemampuan untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, antara kebaikan dan keburukan (Setiawan et al., 2019). Ruh ini merupakan pusat kehadiran Allah dalam diri manusia dan memiliki kecenderungan alami untuk mengungkapkan kebenaran dan kebajikan Allah (Skinner, 2019; Elmawati Falabiba, 2019).
Iskandar et al. (2009) dan Baharuddin & Ismail (2015) menyatakan bahwa pemahaman terhadap dimensi spiritual sangat memengaruhi perilaku manusia. Kepedulian terhadap konsep ini dapat dilihat dari berbagai paradigma, teori dan metodologi yang berkaitan dengan perspektif spiritual dan emosional dalam agama. Selain itu, Spiritual Quotient (SQ) memengaruhi perilaku individu dalam mengekspresikan identitas sosial mereka. Oleh karena itu, pentingnya pengembangan SQ menunjukkan bahwa SQ sangat mempengaruhi spiritualitas keagamaan individu maupun kelompok. Studi ini tidak bertujuan untuk membantah lima dimensi yang dikemukakan oleh Goleman (2004), tetapi berupaya mengintegrasikan teori-teori yang berkembang di Barat dengan perspektif Indonesia.
Pendiri negara Republik Indonesia telah menetapkan tujuan pendidikan nasional didasarkan pada filosofi transendental (Dimyati et al., 2021; Badawi, 2008). Visi ini tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mengutamakan dimensi spiritual yang kuat untuk membentuk generasi penerus dengan iman dan takwa kepada Allah SWT. Pendidikan nasional juga menekankan pengembangan akhlak mulia, yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Namun, kondisi ini tampaknya tidak sesuai dengan realitas sosial Indonesia, yang masih menghadapi berbagai masalah terkait dengan moralitas dan etika dalam masyarakat.
Pendidikan nasional bertujuan untuk meningkatkan iman, takwa, dan akhlak mulia, yang menjadi kebutuhan dasar setiap warga negara, setidaknya melalui pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai agama. Meskipun Indonesia bukanlah negara Islam secara formal, mayoritas penduduknya beragama Islam, namun kurikulum pendidikan formal masih terfokus pada pengembangan kecerdasan intelektual (IQ) dan emosional (EQ), serta keterampilan teknis. Sayangnya, pendidikan di Indonesia belum cukup menekankan pada pengembangan Spritualitas (SQ) yang berbasis pada nilai-nilai transendental. Ushuluddin et al. (2021) mendefinisikan pendidikan ruhani sebagai proses pemahaman terhadap Ruh sebagai sumber utama dari kecerdasan yang diberikan Allah kepada setiap manusia. Ruh memengaruhi kesadaran yang terpancar melalui perasaan dan suara hati yang mendorong seseorang untuk mengetahui kebenaran dan mengikuti petunjuk-Nya. Sumber dari kecerdasan yang sejati ini mendorong potensi manusia, yang pada gilirannya memengaruhi keputusan perilaku mereka.
Pendidikan ruhani berbasis transendental memberikan pesan kebaikan dan kebenaran hakiki yang menjadi kekuatan pengarah dalam mencapai tujuan pendidikan nasional yang melibatkan paradigma IQ, EQ, dan SQ (Agustian, 2001; Ushuluddin et al., 2021). Menurut Maxwell Nicolas (2000) dan Shihadeh Ayman (2016), paradigma dualisme tubuh dan pikiran memengaruhi banyak dimensi pengetahuan saat ini. Paradigma berpikir yang terpisah antara tubuh dan pikiran ini terlihat dalam banyak praktik sosial sehari-hari. Salah satu contohnya adalah banyaknya tindakan kejahatan, seperti korupsi, yang dilakukan oleh individu yang berpendidikan tinggi dari universitas ternama (Effendi, 2016; Khamdan, 2014). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun tubuh manusia terbuat dari tanah dan fisik, yang rentan terhadap godaan dan sifat buruk (nafs ammarah), namun dengan adanya Ruh yang diberikan Allah, tubuh tersebut bisa mencapai tingkat kesempurnaan tertinggi (nafs mutmainnah). Oleh karena itu, level Ruh seseorang sangat tergantung pada tindakan tubuhnya. Tubuh yang taat pada perintah Allah akan membawa Ruh kepada kebaikan dan kesucian (Shaari & Matore, 2019).
Formulasi Ruhiologi dalam Pendidikan Abad 21
Formulasi pencapaian tujuan pendidikan nasional dalam praktiknya lebih dominan melatih alam pikiran meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor dengan pendekatan paradigma Intellectual Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ) dan Spiritual Quotient (SQ) (Sutarman et al., 2017), (namum demikian, dalam prakteknya masih kurang melatih domain rohani peserta didik yang berbasis filosofi transedental. Dilihat dari penyimpangan perilaku tersebut, sebagian besar dilakukan oleh orang yang berpendidikan, yang memiliki pengetahuan dan kecerdasan, tetapi perilaku menyimpang tersebut, meskipun seseorang yang menunjukkan ketaatan beribadah, shalatnya rajin, seperti beribadah di tempat ibadah kemudian keluar dari tempat ibadah mereka melakukan perilaku yang tidak terpuji (Imam Suprayogo, 2018).
Berdasarkan kebijakan pendidikan nasional secara antologi dipengaruhi oleh konsep dikotomis pendidikan umum dan Islam, kebijakan pendidikan umum lebih diperangaruhi oleh konsep Pendidikan Barat yang melihat peserta didik sebagai sosok yang merdeka dengan potensi yang dimilikinya, sedangkan konsep Pendidikan Islam (Timur) memandang peserta didik adalah Makhluk Allah dan social yang memiliki potensi sesuai fitrahnya (Mustafa: 2007). Perbedaan utama pandangan Barat memandang manusia dilihat sebagai tubuh, akal, atau otak, sedangkan Islam memandang manusia terdiri dari tubuh, akal dan hati nurani (qalb), sedangkan pandangan Barat dan Islam secara epistimologi juga menunjukan ketidaksamaan. Epistimologi Barat hanya percaya pada panca indra (empirisme) dan akal (rasionalisme), sedangkan konsep pendidikan Timur (Islam) selain fisik, akal dan otak juga meyakini intuisi yang berakar pada ruh (Sri Austi A. Samad, 2015; Harun Nasution: 2002).
Konsep dasar dalam model kecerdasan IQ, EQ, dan SQ dan ESQ masih memanfaatkan dasar kecerdasan material (otak), bukannya didasarkan pada kecerdasan immaterial (ruh). Akibatnya, kita tidak dapat mempertimbangkan istilah ‘roh’ (hasil spiritual) dan ruh (ruhani) sebagai satu dan sama. Tidak seperti ‘roh’, menurut Islam, ruh tidak pernah dan tidak akan pernah bisa dipisahkan dari aspek keilahian (Al-Jauziyah, 2015). Dengan kata lain, ruh harus melibatkan peran Tuhan (Aminrazavi, 2016). Hal ini sangat berbeda dengan istilah ‘spiritual’ dalam konsep SQ, yang tidak terkait erat dengan agama dan keilahian. Dengan demikian, Ruhani Quotient (RQ) melampaui Spiritual Quotient (SQ). Perbedaannya adalah bahwa SQ menggunakan istilah God Spot sebagai pusat kecerdasan, sementara RQ memilih untuk menggunakan istilah God Light sebagai kecerdasan ruh (Ushuluddin et al., 2021).
Pemahaman tentang kecerdasan manusia yang berkembang dalam konsep Intellectual Quotient, Emotional Quotient, dan Spiritual Quotient masih berakar pada paradigma pengetahuan dan pemikiran yang berbasis ilmiah. Pemahaman seperti itu belum tentu tepat, karena ketiadaan ruh akan mengakibatkan manusia menjadi tidak mampu merasakan atau merasakan apapun termasuk kecerdasan, emosi, dan spiritualitas. Ruh adalah jawaban atas “apa”, “siapa”, atau “diri” yang dimaksud karena ada dan hadir dalam diri setiap manusia yang hidup. Meski sifatnya immaterial, ruh merupakan jawaban atas tempat dan sumber segala potensi kecerdasan yang ada dalam diri manusia (Ninla Elmawati Falabiba, 2019)
Berdasarkan penjelasan di atas menunjukkan adanya unsur indevenden yang berada di dalam jasad manusia yaitu sisi dalam manusia yang dinamakan ruh. Ruh inilah yang melakukan penerimaan untuk proses transfer nilai-nilai holistik dari Tuhan. Nilai-nilai luhur yang diterima oleh ruh adalah nilai-nilai holistik yang berasal atau bersumber dari dimensi keilahian (Tasmara, 2001). Ini sekaligus menunjukkan bahwa kecerdasan yang dibangun melalui ruh adalah kecerdasan yang tidak bebas nilai. Ia adalah kecerdasan yang holistik bersumber dari unsur-unsur ilahi. Melalui kecerdasan holistik yang diterima oleh ruh maka ruh semakin memperlihatkan eksistensinya sebagai dimensi spritual yang aktif. Di sini, istilah kecerdasan ruhiologi tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Ia menempati posisi strategis di antara kecerdasan-kecerdasan yang lain. Artinya, tanpa kecerdasana ruhiologi maka kecerdasan-kecerdasan yang lain akan terasa hampa, bahkan bebas nilai yang pada akhirnya menjauhkan manusia dari asal kejadiannya (Sugiarto, 2019).
Dalam perspektif Islam, ruh ditiupkan oleh Allah SWT untuk menyempurnakan proses penciptaan manusia. Akal atau perasaan adalah potensi dasar ruh sebagai nikmat Ilahi dari Allah SWT. Dengan demikian, hakikat ruh adalah kebenaran karena berasal dari Allah SWT dan bersemayam di dalam hati (al-qalb) yang memancarkan akal/perasaan ke seluruh indera termasuk akal manusia. Ruh yang bersemayam di hati (al-qalb) selalu cenderung menyuarakan kejujuran/kebenaran (shiddiq), bertanggung jawab (amanah), menyampaikan kabar gembira (tabligh), dan memiliki kecerdasan (fathanah) (Baharuddin & Ismail, 2015).
Dengan perasaan sebagai nikmat ilahi yang ada dalam ruh, manusia mampu berpikir menggunakan akal/akal (al-aql) dari otak. Hal ini selanjutnya mendorong akal/akal untuk berpikir melalui berbagai imajinasi yang pada akhirnya menghasilkan pemahaman. Pikiran yang berkembang melalui imajinasi menghasilkan pemahaman, akibatnya menghasilkan pengetahuan jasmani.
Berbeda dengan Intellectual Quotient, Emotional Quotient, atau Spiritual Quotient, Ruhani Quotient didasarkan pada ruh, dimana ruh berfungsi sebagai sumber dari semua kecerdasan manusia karena memiliki kemampuan untuk merasakan (Iskandar et al., 2019). Indera/persepsi itu sendiri adalah pengetahuan yang selanjutnya mengarah pada Ruhiologi. Ruhiologi menempatkan ruh sebagai pengetahuan luas yang menghasilkan beberapa pengetahuan jasmani. Dengan demikian, Ruhiologi tidak hanya membahas pengetahuan jasmani, tetapi merupakan pengetahuan yang luas tentang kebijaksanaan dan kecerdasan. Pengetahuan jasmani dan pengetahuan luas menjadi dua entitas berbeda yang ditemukan dalam diri manusia. Pengetahuan yang luas (kebijaksanaan dan kecerdasan) mengacu pada nikmat indera/persepsi yang melekat di dalam ruh, sedangkan pengetahuan jasmani mengacu pada hasil yang dibawa oleh nikmat indera/persepsi tersebut yang ditemukan di dalam ruh.
Pembentukan spritualitas yang baik dan benar sangat diperhatikan oleh agama, Rasulallah saw sangat memerhatikan pembinaan ruhani untuk memperdalam keimanan dan ketakwaan. Tidak disangkal lagi bahwa hal itu merupakan fase penting dalam mempersiapkan mental kaum muslimin sehingga mereka pun berada dalam kesiapan total untuk mengubah perilaku, kebiasaan, pikiran, dan sistem hidup secara total (Najati, Muhammad Utsman, 2005). Shalat lah satu-satunya cara menyembah Allah swt dan dalam al-Qur’an disebutkan bahwa tujuan shalat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. “Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar”. (al-Ankabut:45)
Inilah pendidikan ruhani yang berimplikasi pada perubahan tingkah laku. Dengan kata lain, terdapat hubungan yang erat antara ibadah yang telah Allah swt. tetapkan dengan implikasinya dalam kehidupan sosial. Paradigma kecedasan yang lazim digunakan selama ini, yaitu IQ, EQ, SQ belum mampu menjawab tujuan Pendidikan secara komprehensip terutama yang terkait dengan membangun dimensi iman, taqwa dan ahlak mulia, untuk itu perlu penerapan paradigma pendidikan ruhani untuk memberi pesan kebaikan dan kebenaran yang hakiki yang menjadi kekuatan membimbing paradigma kecerdasan IQ, EQ dan SQ dalam membangun pendidikan holistic untuk pencapaian tujuan pendidikan nasional (Iskandar et al., 2019) (Gebre et al., 2015).
Pendidikan ruhani merupakan proses manusia memahami ruh sebagai sumber kecerdasan yang tertinggi yang diberikan langsung oleh Allah kepada setiap manusia yang dapat mempengaruhi kesadaran melalui nikmat/rasa yang terpancar dalam suara hati kebenaran yang merupakan sumber dari kecerdasan hakiki yang menggerakan potensi kecerdasan yang dimiliki oleh manusia yang mempengaruhi diri dalam mengambil keputusan atau melakukan pilihan dalam berperilaku. Merujuk pada pendapat Ushuluddin et al., (2021) , tentang ruh yang ada dalam diri setiap manusia sebagai sumber kecerdasan yang dijelaskan dalam konsep Spiritual Quotient (SQ) sebelum ini belum menawarkan pengetahuan penting yang mampu menjelaskan asal usul kecerdasan kita. Ruh sebagai sumber kecerdasan spiritual dalam perspektif Islam, Ruhani Quotient yang mengacu pada nash (kitab suci), yang terutama diperoleh dari ayat-ayat Al-Qur’an suci atau tafsir ulama mengenai konsep ruh yang ditulis. dalam berbagai buku klasik. Informasi yang diperoleh dari berbagai referensi ini kemudian dikategorikan ke dalam konsep yang relevan dan disajikan secara deskriptif-interpretatif.
Dimensi ruhani dalam diri manusia adalah inti dari anatomi spritual yang melakukan pendakian atau perjalanan mi’raj dalam rangka berdialog dengan Allah swt, sebuah proses transendensi berpindahnya jiwa menuju Allah swt. Melalui shalat manusia bisa berdialog dan berkomunikasi dengan Allah swt. Shalat adalah kontak langsung antara hamba dengan Allah swt. siapa yang shalat dengan khusyu’ maka tiada hijab antara Allah swt. dengan hambanya terjadi komunikasi bathin seperti saat dalam posisi sujud dengan menyadari diri sebagai seorang hamba Allah yang merasa tidak ada apa-apanya dan merasa hina serta kecil di hadapan-Nya. Sehingga, sifat sombogn dan anggkuh yang ada pada kita bisa tekan dan sebaliknya bersifat tawadhu’ (rendah hati) (Akmansyah, 2016; Muhammad Suwardi: 1991).
Proses transendensi atau relasi vertikal tersebut meniscayakan ruh untuk patuh dan taat dalam menerima perintah yang datang dari wujud yang disembahnya. Di sini, terjadi proses pendidikan holistik yang dilakukan oleh ruh dalam nuansa kerohanian yang menjadi cikal bakal kecerdasan ruh itu sendiri, yaitu kecerdasan ruhiologi (RQ). Kecerdasan ruhiologi (RQ) adalah kecerdasan yang berasal dari sisi dalam manusia yaitu “ruh”. Kecerdasan ini merupakan kecerdasan awal yang dimiliki oleh manusia yang merupakan sumber dari ketiga kecerdsan IQ, EQ, dan SQ. Kecerdasan ruhiologi (RQ) adalah kecerdasan yang berasal dari hubungan vertikal (manusia-ruh-Tuhan) melalui pengetahuan agama yang bersifat nonfisik material. Hal ini tentu berbeda dengan banyak kecerdasan lainnya seperti IQ, EQ, dan SQ yang seringkali bebas nilai sehingga membuat manusia kehilangan ketenangan dalam hidupnya (Iskandar et al., 2019; Baharuddin & Ismail, 2015).
Padahal dalam Islam manusia perlu mengenal dan memahami hakekat dirinya sendiri agar mampu mewujudkan eksistensi dirinya. Pengenalan dan pemahaman ini akan mengantar manusia kepada kesediaan mencari makna dan arti kehidupan, sehingga hidupnya tidak menjadi sia-sia. Dalam pengertian ini dimaksud makna dan arti sebagai hamba Allah, dalam rangka menjalankan hak dan kewajiban mencari ridha-Nya (Muhammad Syamsuddin: 1997, hal. 75).
Formulasi kecerdasan ruhiologi sebagai solusi bagi pendidikan nasional di Indonesia dimana dimensi kajian ruhiologi (Iskandar et al., 2019; Ushuluddin et al., 2021) dari nilai ajaran agama islam yaitu dimulai dari mengenal diri – ibadah- dan puncaknya adalah perubahan tingkah laku/watak atau akhlak dengan cara melenyapkan penyakit hati. Akhlak menurut pendapat Al-Jurjani adalah istilah sifat yang tertanam kuat dalam diri, yang darinya terlahir perbuatan-perbuatan dengan mudah dan ringan, tanpa perlu berpikir dan merenung.
Berdasarkan pemikiran Absar Ahmad, (2003) menyatakan bahwa pemahaman yang keliru tentang esensi jiwa manusia akan membawa petaka bagi manusia itu sendiri. Hal ini dikarenakan dalam pandangan agama manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, sifat fitrah ini pada akhirnya menuntut manusia untuk selalu berusaha mencari ketenangan. Tetapi sifat fitrah pada diri manusia sering kali tertutup oleh kabut ide yang membuat spritual manusia menjadi kering, gersang, gelisah, pada akhirnya manusia akan mengalami krisis spritual (Iskandar et al., 2019) (Iskandar, 2009). Ruhiologi berupaya menjawab keterbatasan model kecerdasan konvensional yang hanya mengukur aspek fisik dan mental. Sementara IQ, EQ, dan SQ telah berperan penting, mereka cenderung mengabaikan dimensi spiritual yang berasal dari ruh. RQ mengajak kita untuk menyadari bahwa tanpa penguatan “God Light” yang terpancar melalui ruh, segala hasil pendidikan dapat terasa hampa. Dengan demikian, RQ menawarkan pendekatan holistik yang menyeimbangkan kemajuan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai ketuhanan dan moral.
Tawaran Konsep Kecerdasan dalam Pendidikan Holistik Abad 21
Mengapa Kecerdasan Ruhiologi (RQ) dalam Pendidikan Holistik di Abad 21 penting untuk dihadirkan dalam menghadapi tantangan zaman modern?, Dunia modern dgn kemajuan teknologi saat ini dibutuhkan orang yg mampu mengimbangi kejutan masa depan (Future Shock) yg dapat memunculkan hambatan mental health (stress, depretion) pada fenomena dunia sekarang yang sedang berlari (Running World) yg mengalami perubahan secara secara cepat dengan lompatan-lompatan (Jumping the Future) bukan lagi secara linear. Realitas kehidupan Modern, kecerdasan formalitas IQ, EQ, SQ, & AI lebih dominan digunakan secara terpisah, sebagai sumber anomali penyimpangan perilaku manusia modern. Ruhiologi (RQ) sebagai pondasi secara transintegratif Holistik (tidak bisa dipisah dan tapi bisa dipilah) dalam pengambilan keputusan berperilaku secara berkesadaran dengan frekwensi yang selalu terkoneksitas sebagai energi godlight (cahaya ilahi) setiap tindakan kecerdasan. (Hasil diskusi dengan Kiyai H. Marzuki Arsyad; 13 Maret 2025).
Konsep kecerdasan ruhiologi belum secara eksplisit diajarkan di dunia Pendidikan. Ruhiologi merupakan suatu konsep yang inspriratif dari koneksitas diri dan ilahi melalui substansi Ruhiyah. Mengusai ruhiologi dapat menghadirkan pengenalan diri, kesadaran diri, kesadaran ilahiyah yang dapat mengingatkan jalan kembali atau mengembalikan manusia ke tujuan hidup yang bermakna dan bernilai ibadah. Ruhiologi Quoitient (RQ) secara holistic (tidak terpisah dan dapat dipilah) harus sebagai pusat kecerdasan yang mengerakan dan mensinergikan serta menyempurnakan IQ,EQ,SQ,& AI yang saya yakini dapat menjadi solusi megatasi problem perilaku menyimpang dunia pendidikan merupakan suatu keniscayaan.
Membangiktkan dan Mengelola Ruhiologi (RQ) melalui membangun Ekosistem Pendidikan Holistik dipastikan akan meningkatkan kecerdasan IQ menjadi tajam, EQ, SQ, AI, melalui RQ menjadi kunci untuk menghadapi dunia yang terus berubah. Kecerdasan Ruhiologi (RQ), sebagai konsep baru yang diperkenalkan oleh Prof. Iskandar Nazari, menekankan bahwa semua aspek kecerdasan ini harus bekerja dalam harmoni—bukan hanya untuk keberhasilan duniawi, tetapi juga untuk mencapai kedamaian batin dan kebijaksanaan spiritualitas yang berkesadaran melalui frekwensi yang terkoneksi dengan dimensi cahaya ilahi (GodLight), sebagaimana di gambar berikut:.
Gambar 1: Model Kecerdasan Ruhiologi (RQ) sebagai Pondasi Pendidikan Holistik Abad 21
Di era modern, manusia tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelektual, tetapi juga kemampuan untuk mengelola emosi, spiritualitas, dan beradaptasi dengan teknologi. Model kecerdasan holistik (yang tidak terpisah tapi bisa dipilah) ini mentrainsintegrasikan lima jenis kecerdasan, sebagai berikut:
- Kecerdasan Intelektual (Intelligence Quotient) IQ merupakan kemampuan seseorang untuk berpikir secara rasional, analitis, kritis, dan kreatif untuk memecahkan masalah logika dan strategis. Ini melibatkan pemahaman terhadap konsep-konsep yang kompleks, kemampuan untuk memecahkan masalah, serta membuat keputusan berdasarkan analisis dan bukti yang ada ini sering diukur dengan tes IQ dan mengacu pada kemampuan untuk menguasai informasi, belajar hal baru, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pada awal abad 20 IQ pernah menjadi isu besar dengan penggagasnya: Alferd Binet, Psikolog Prancis (1905); Howard Gardner (1983) adalah seorang psikolog yang mempopulerkan teori Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences), yang memperkenalkan berbagai jenis kecerdasan, termasuk kecerdasan logis-matematis yang terkait dengan intelektual. Selain itu, pemikir-pemikir psikolog seperti Jean Piaget dan Lev Vygotsky juga memberikan kontribusi besar dalam memahami perkembangan kecerdasan intelektual manusia.
- Kecerdasan Emosional (Emotional Quotient), EQ adalah kemampuan untuk mengenali, memahami, mengelola, dan mengungkapkan emosi dengan cara yang positif dan produktif. Kecerdasan emosional mencakup kemampuan untuk mengelola diri sendiri, berempati, serta membangun hubungan yang sehat dengan orang lain. Ini berhubungan dengan kesadaran diri, pengelolaan stres, dan kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain secara efektif. Pada pertengahan tahun 1990-an sebagai penggagas dan yang mempopulernya Prof. Daniel Goleman sebagai tokoh utama yang memperkenalkan dan mengembangkan konsep Kecerdasan Emosional pada melalui berbagai hasil risetnya. Goleman menyatakan kemampuan mengelola EQ menjadi persyaratan dasar untuk menggunakan IQ secara efektif dan dalam praktek profesi kecerdasan emosional lebih besar kontribusinya daripada kecerdasan intelektual untuk mengantar dan mengwawal kesuksesan dalam kehidupan pribadi dan profesional.
- Kecerdasan Spiritual (Spiritual Qoutient) SQ merupakan kemampuan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai dengan mengakses dan mengembangkan potensi diri untuk menilai bahwa tindakan berperilaku yang bermakna tujuan eksistensial, pencarian makna yang lebih tinggi dalam hidup. Ini berkaitan dengan kapasitas untuk mencari tujuan hidup yang lebih dalam dan berorientasi pada nilai-nilai spiritualitas. SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfunsikan IQ secara efektif dan EQ secara mendalam. Pada akhir abad 20 Penggagasnya Danah Zohar dan Ian Marshall (2000) adalah tokoh yang memperkenalkan dan mengembangkan konsep Kecerdasan Spiritual dalam bukunya “Spiritual Intelligence: The Ultimate Intelligence” pada tahun 2000 & Ari Ginanjar dengan ESQ (2005); mereka menyatakan bahwa kecerdasan spiritual adalah kunci untuk mengatasi tantangan hidup dan menjalani kehidupan dengan lebih bermakna.
- Kecerdasan Buatan (Artificial Intellegence) AI merupakan teknologi yang memiliki kemampuan pemecahan masalah layaknya manusia. AI dalam tindakannya tampak seperti menirukan kecerdasan manusia—teknologi ini dapat mengenali gambar, menulis puisi, dan membuat prediksi berbasis data, berusaha untuk menciptakan mesin yang memiliki kemampuan untuk berpikir, belajar, dan beradaptasi dengan lingkungan mereka tanpa perlu diprogram secara eksplisit untuk setiap situasi. Penggagas/Pengaruh: Alan Turing, seorang matematikawan dan ilmuwan komputer Inggris, adalah salah satu tokoh yang mempelopori pengembangan AI dengan mengemukakan konsep “Turing Test” pada tahun 1950 sebagai cara untuk mengukur kemampuan mesin dalam meniru kecerdasan manusia. Selain itu, John McCarthy, yang pertama kali menciptakan istilah “Artificial Intelligence” pada tahun 1956, dianggap sebagai salah satu pelopor dalam bidang ini, pada abad 21 ini AI menjadi kecerdasan buatan yang membantu IQ, EQ & SQ sehingga mempengaruhi manusia dalam berpikir, bertindak dan berperilaku mempermudah akses informasi kebutuhan hidup manusia modern melalui teknologi. Penggunaan AI saat ini perlu dikendalikan melalui kecerdasan secara holistik di abad 21 terlihat jelas dari kebutuhan untuk menyeimbangkan berbagai aspek kecerdasan manusia dalam menghadapi tantangan zaman modern. Konsep Kecerdasan Ruhiologi (RQ) yang diperkenalkan oleh Prof. Iskandar Nazari menekankan pentingnya integrasi antara kecerdasan intelektual (IQ), emosional (EQ), spiritual (SQ), dan kecerdasan buatan (AI) dalam suatu harmoni yang tidak hanya adaptif dan produktif, tetapi juga bernilai ibadah dan mendalam secara spiritual. Kecerdasan ini memungkinkan individu untuk mengarahkan kehidupan mereka dengan penuh makna, kedamaian, dan kesadaran yang lebih tinggi.
- Kecerdasan Ruhiologi (Ruhiology Quotient) RQ Kecerdasan Ruhiologi merupakan kemampuan menghadirkan energi jiwa yang dapat mempengaruhi diri dalam mengambil keputusan berperilaku yang bersumber dari suara hati berupa nikmat/ rasa (cahaya Ilahi – God Light) yang dapat menggerakkan, membimbing dan mensinerjikan kecerdasan IQ, EQ, SQ dan AI secara holistic (tidak terpisah tapi bisa dipilah) yang adaptif, adaptatif dan produktif yang bernilai ibadah. Kecerdasan Ruhiologi merupakan kecerdasan yang tertinggi yang dimiliki oleh manusia yang merupakan sumber energi kecerdasan yang ada. Ruhiologi merupakan kecerdasan kelima yang menjadi pusat pengerak kecerdasan manusia yang menjadi pilihan penting untuk dibangkitkan dan dikelola oleh manusia modern abad 21 ini. Penggagas: Prof. Iskandar Nazari (2024) seorang Profesor Psikologi Pendidikan Dosen UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi Indonesia sedang mempopulerkan konsep Ruhiologi yang dihasilkan dari riset yang sudah dituangkan kedalam tulisan Jurnal Ilmiah nasional dan Internasional serta buku popoler. Secara filosofis yang menjadi dasar lahir gagasan Ruhiologi bersumber dari Al Qur’an, Hadis dan sejarah pemikiran ilmuan dan ulama serta tokoh-tokoh dalam filsafat dan tasawuf Islam, psikolog seperti Imam Al-Ghazali, Ibnu Arabi, Ibnu Qayyim, Housien Nashar, Mulla Sadra, Daniel Golomen, Danah Zohar-IAN Marshal, Ary Ginanjar, Ushuluddin, Marzuki Arsyad dan banyak lagi pemikiran tokoh-tokoh lainnya berdasarkan hasil riset.
Hadirin yang Mulia;
Kesimpulan:
Restorasi Ruhiologi sebagai pondasi Pendidikan holistik tidak bisa ditunda lagi. Di tengah kemajuan teknologi dan tantangan global yang semakin kompleks. Melalui Ruhiologi, kita menyadari bahwa ruh adalah sumber awal kecerdasan yang harus terus bangkitkan dan dikelola agar setiap insan mampu menghadapi perubahan zaman dengan berakhal mulia.
Marilah kita bersama-sama membangun ekosistem Pendidikan Holistik berbasis Ruhiologi. Kami meyakini jika ruhiologi dapat dipahami dan bangkitkan melalui energi jiwa GodLight Cahaya Illahi sebagai sumber energi kecerdasan maka dapat dipastikan kecerdasan IQ, EQ, SQ dan AI yang digunakan peserta didik dan pendidik akan meningkat dan melahirkan proses, output dan outcome akhlak mulia peserta didik dan pendidik dengan didukung ekosistem Pendidikan Holistik.
Semoga pengukuhan Guru Besar ini menjadi momentum bersejarah untuk mendorong restorasi pendidikan yang holistik, dengan Pendekatan Transintegratif IPTEK & IMTAQ yang memiliki frekwensi dengan konesitas memancarkan energi godlight sebagai eksosistem yang saling terhubung pendidik, peserta didik, pengelolaan dan orang tua serta stakeholder yang memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa setiap generasi yang lahir dari sistem pendidikan holistic akan menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan mampu bersinergi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri.
Kita telah lama mengukur tinggi badan, skor ujian, dan kecerdasan logika.
Namun kita lupa mengukur kualitas jiwa. Kini saatnya RQ hadir sebagai cahaya—untuk membimbing kecerdasan yang ada menjadi kemuliaan. Mari kita bangun pendidikan yang mencerdaskan dan menyucikan. Mari kita lahirkan manusia yang bukan hanya hebat di meja kerja, tetapi juga khusyuk dalam sujudnya. Karena sesungguhnya, puncak pendidikan adalah takwa, dan buah dari kecerdasan adalah akhlak yang mulia.
Hadirin yang berbahagia,
Sebagai Guru Besar, saya memaknai posisi ini bukan sekadar pencapaian personal, tetapi amanah intelektual untuk terus menanamkan nilai-nilai kebaikan dan memperjuangkan transformasi pendidikan yang berakar pada nilai-nilai ruhani. Mari bersama-sama membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya cerdas secara akal, tetapi juga bening dalam hati dan luhur dalam amal perbuatan.
Ungkapan terima kasih yang mendalam saya sampaikan kepada kedua orang tua saya, mertua tercinta, istri yang setia mendampingi dalam suka dan duka, anak-anak kami yang menjadi cahaya hati, serta seluruh keluarga besar yang telah menjadi tiang kekuatan di setiap langkah. Terima kasih pula kepada sahabat, guru, kolega, dan seluruh pihak yang telah memberikan dukungan moral, spiritual, dan intelektual dalam perjalanan panjang ini.
Sebagai manusia biasa, saya menyadari sepenuhnya bahwa capaian ini bukan semata hasil usaha pribadi, tetapi pancaran kasih sayang Allah yang diwujudkan melalui doa, cinta, dan dukungan banyak pihak. MasyaAllah, semoga Allah SWT melimpahkan keberkahan atas amanah ini, membimbing hati dan langkah saya agar senantiasa istiqamah menebar manfaat bagi umat, mencerdaskan kehidupan, dan menghadirkan maslahat bagi generasi penerus bangsa.
Mohon doa, InsyaAllah Lembaga Pendidikan Diniyyah Al Azhar Jambi-Indonesia yang merupakan Lembaga Pendidikan Islam Modern yang terlengkap di Indonesia menyatakan kesiapan untuk menjadikan laboratorium untuk implementasi internaslisasi konsep ruhiologi quotient (RQ) melalui model Pendidikan Holistic. Kami berkayakinan akan lahir generasi emas yang memiliki IQ yang tajam, EQ yang lembut, SQ yang dalam, AI sebagai alat bantu dengan RQ sebagai Energi (cahaya ilahiah) yang mengerakan dan menyatupadu menjadi satu kesatuan yang tidak terpisah, namun bisa dipilah.
Akhir kata, saya persembahkan penghargaan ini kepada guru-guru saya, orang tua, keluarga, dan seluruh civitas akademika yang telah membentuk perjalanan saya hingga hari ini. Semoga langkah ini menjadi bagian dari jihad ilmiah untuk mencetak generasi emas rahmatan lil ‘alamin.
Mengakhiri Orasi Ilmiah ini, izinkan kami menyampaikan Quotes Ruhiologi dan beberapa pantun, berikut:
“Ruhiologi adalah kunci untuk membuka potensi terdalam yang dimiliki manusia yang terabaikan. Restorasi kecerdasan Ruhiologi membawa pendidikan dari sekadar transfer pengetahuan menjadi transformasi enerji jiwa berkesadaran melalui (GodLight) Cahaya Ilahi.”
“Melalui lensa Ruhiologi kita melihat bahwa setiap interaksi adalah tarian jiwa. Tinggalkan jejak kebaikan, bukan sekedar jejak tindakan yang terekam di jejak digital, bukan kata yang terucap dan bukan pula perbuatan yang terlihat melainkan getaran jiwa “ GodLight” yang dirasakan, itulah warisan yang teragung yang bisa kita berikan untuk kemaslahan dan kemanfaatan ummat”
Angin pagi menari di taman, Burung berkicau saling menyapa.
Tanpa ruh, ilmu bisa menyimpang, Dengan ruh, kecerdasan jadi amanah yang nyata.
Jika pendidikan hanya mengejar angka, Maka kosonglah makna manusia.
Ruhiologi ajak kita bersama, Mendidik jiwa, membangun Generasi Emas berahlak Mulia
Layar terkembang menjemput harapan, Angin berhembus membawa cahaya.
Ruhiologi lahir dari keprihatinan, Menjawab krisis makna di dunia maya.
Mari bangun generasi yang luhur, Cerdas pikir dan bening nurani.
Pendidikan holistik jadi jalan jujur, Menuju Generasi Emas Indonesiayang hakiki
Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq;
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.





