JAMBI – Sebuah langkah bersejarah menuju transformasi pendidikan nasional dimulai dari Jambi. Samudra Inspirasi Ruhiologi, institusi yang digagas oleh Prof. Iskandar, tengah berkoordinasi intensif dengan Pemerintah Provinsi Jambi. Koordinasi ini dilakukan oleh CEO Samudra Ruhiologi dengan Asisten I Setda Pemprov Jambi (Arif Munandar), menindaklanjuti arahan langsung dari Gubernur Jambi untuk segera memulai Program Piloting Ruhiologi di Pesantren PKP Al Hidayah Pemprov Jambi.
Langkah ini menegaskan bahwa gagasan Ruhiologi bukan sekadar teori di atas kertas. Sebaliknya, ia kini diwujudkan dalam praktik nyata, membuktikan bahwa konsep ini tidak hanya relevan, tetapi juga dapat diimplementasikan untuk menjawab tantangan pendidikan di Abad ke-21.
Menghidupkan Kembali Pendidikan Berkesadaran
Teori Ruhiologi didasarkan pada prinsip transintegrasi konsentrasi dan kontemplasi, sebuah pendekatan mendalam untuk menyatukan ilmu pengetahuan dengan spiritualitas. Menurut Prof. Iskandar, inti dari gerakan ini adalah panggilan Iqra’ bismirabbik (bacalah dengan nama Tuhanmu) yang menggerakkan seluruh aktivitas. Ini adalah upaya nyata untuk menghadirkan kesadaran ilahi dalam setiap proses belajar-mengajar.
Ruhiologi, yang juga disebut RQ, berfungsi sebagai perekat yang menyatukan semua kecerdasan. Tujuannya adalah merekatkan IQ (kecerdasan intelektual), EQ (kecerdasan emosional), SQ (kecerdasan spiritual), dan bahkan AI-Q (kecerdasan buatan) untuk selalu terhubung dengan nilai-nilai ilahiah. Dengan demikian, semua aspek kehidupan dan kecerdasan dapat berjalan seiring, tidak saling terpisah.
Uniknya, teori Ruhiologi ini tidak hanya berdiri sendiri, melainkan juga sangat mendukung percepatan dan sejalan dengan kebijakan pemerintah. Dengan pendekatan yang fokus pada kedalaman batin, Ruhiologi secara alami menguatkan konsep ‘Deep Learning’—memastikan peserta didik tidak hanya menghafal, tetapi memahami esensi ilmu secara mendalam. Lebih dari itu, Ruhiologi juga sejalan dengan inisiatif ‘Kurikulum Cinta’ yang berupaya menumbuhkan kasih sayang dan empati, karena dengan mengaktifkan godspot dan godlight, peserta didik dan guru akan memiliki hati yang bersih dan jiwa yang terhubung.
Melalui metode ini, Ruhiologi bertujuan mengaktifkan godspot—area di otak yang berhubungan dengan pengalaman ketuhanan—pada peserta didik dan guru. Proses ini memungkinkan mereka menyelaraskan frekuensi batin dengan godlight, cahaya ilahi yang mencerahkan jiwa. Dengan demikian, Ruhiologi memastikan bahwa setiap kegiatan, mulai dari belajar di kelas hingga berinteraksi sosial, menjadi sebuah ritual yang mendekatkan diri kepada Tuhan.
Pengakuan dan Dukungan Kuat dari Intelektual
Gagasan ini tidak hanya menarik perhatian pemerintah daerah, tetapi juga mendapat sambutan luar biasa dari dunia akademis. Sebanyak 50 guru besar dari berbagai universitas terkemuka telah memberikan respons positif dan testimoni, menyatakan bahwa Teori Ruhiologi sangat relevan dan layak diangkat untuk diimplementasikan secara luas di dunia pendidikan. Pengakuan ini menegaskan validitas ilmiah dan urgensi teori ini sebagai solusi fundamental atas krisis karakter dan spiritual yang melanda generasi saat ini.
Dengan dimulainya program percontohan di Pesantren PKP Al Hidayah, Jambi menempatkan dirinya sebagai pelopor peradaban pendidikan yang berkesadaran. Ini adalah awal dari sebuah perjalanan panjang yang berpotensi menjadi model bagi seluruh institusi pendidikan di Indonesia, membuktikan bahwa kemajuan intelektual harus selalu berjalan seiring dengan kedalaman spiritual.







