Oleh: Prof. Iskandar Nazari
(Guru Besar Psikologi Pendidikan UIN Sutha Jambi & Founder Ruhiologi)
Dunia pendidikan kita kembali berdarah. Kabar pilu dari Nusa Tenggara Timur (NTT) tentang seorang murid yang memilih mengakhiri napasnya sendiri hanya karena tak mampu membeli buku dan pena adalah sebuah tamparan bagi kemanusiaan, padahal sebelumnya dua fenomena kasus guru dan murid di Jambi belum usai dalam pembicaraan di dunia pendidikan kita. Di tengah gegap gempita digitalisasi (smart tv) masuk ke sekolah dan transformasi kurikulum, ternyata harga sebuah nyawa bisa menjadi lebih murah dibanding secercik alat tulis.
Namun, sebagai pakar psikologi pendidikan Founder Ruhiologi, saya melihat tragedi ini bukan sekadar masalah kemiskinan ekonomi. Ini adalah puncak gunung es dari sebuah kejahatan sistemik yang tak terlihat: Genosida Ruhani. Kita sedang membesarkan generasi yang cerdas otaknya, namun “mati rasa” jiwanya.
Pendidikan “Anestesi” dan Kelumpuhan Eksistensial
Selama ini, sistem pendidikan kita bertindak layaknya “anestesi” atau obat bius. Kurikulum kita meninabobokan anak dengan standar angka, tumpukan tugas, dan kompetisi ego yang melelahkan. Kita sibuk mencetak “Intelektual Robot” anak-anak yang dijejali data, namun asing dengan jati dirinya sendiri.
Kesibukan luar biasa di sekolah menjadi bius yang membuat siswa lupa bertanya: “Siapa saya? Untuk apa saya hidup?” Akibatnya, saraf God Spot sirkuit saraf di otak yang secara biologis berfungsi sebagai jangkar makna dan ketenangan transenden mengalami atrofi atau penyusutan fungsi karena tidak pernah diaktivasi.
Ketika “obat bius” itu hilang akibat benturan realitas entah itu himpitan ekonomi, perundungan (bullying), atau kegagalan rasa sakit eksistensial itu muncul secara mendadak. Karena saraf ruhaninya sudah lumpuh, mereka tidak memiliki imunitas untuk menahan beban tersebut. Akhirnya, ketiadaan pena bukan lagi masalah teknis, melainkan “kiamat” identitas.
Padamnya God Light di Tengah Kegelapan
Tragedi ini juga membongkar adanya Bullying Eksistensial. Sistem pendidikan kita memaksa anak untuk “seragam” secara materi dan nilai. Anak yang tidak mampu memenuhi standar formal sekolah secara otomatis merasa “dibuang” dari frekuensi sosial.
Di sinilah seharusnya God Light (Cahaya Ketuhanan) hadir sebagai navigasi. Namun malangnya, cahaya itu sengaja dipadamkan dari ruang kelas atas nama sekularisme sains. Padahal, tanpa cahaya kesadaran ini, siswa tidak mampu melihat masa depan melampaui masalah hari ini. Mereka kehilangan kemampuan untuk menjadi Saksi (The Witness) atas pikirannya sendiri; mereka menyangka bahwa kemiskinan mereka adalah identitas mutlak, padahal itu hanyalah keadaan sementara.
Tawaran Solusi: Intelektual Berkesadaran Ketuhanan
Kita tidak butuh sekadar revisi teknis kurikulum. Kita butuh Revolusi Ruhiologi. Pendidikan nasional harus segera bertransformasi menuju pembentukan Intelektual Berkesadaran Ketuhanan melalui tiga langkah radikal:
-
Aktivasi God Spot melalui Deep Learning: Pembelajaran tidak boleh lagi hanya menyentuh kulit luar kognitif. Kita harus melatih siswa mengakses ketenangan batin agar memiliki harga diri yang tak tergoyahkan oleh benda materi.
-
Menyalakan God Light: Ilmu pengetahuan harus diajarkan sebagai jalan mengenal Tuhan dan kemanusiaan, sehingga setiap siswa merasa memiliki “cahaya navigasi” saat menghadapi kegelapan hidup.
-
Transmisi Energi Guru Ruhio: Kita butuh guru yang bukan sekadar “mandor kurikulum”, melainkan “Arsitek Frekuensi”. Guru yang mampu mendeteksi getaran keputusasaan siswa di barisan belakang tanpa perlu si siswa mengucap kata.
Kasus di NTT adalah alarm keras bagi kita semua. Genosida Ruhani terjadi ketika seorang anak lebih takut pada ketiadaan buku & pena daripada kehilangan harapan pada Sang Pencipta. Tugas pendidikan bukan hanya membuat otak cerdas, tapi memastikan pelita di hati mereka tidak pernah padam.
Jangan biarkan pena yang tak terbeli menjadi saksi bisu kegagalan kita memanusiakan manusia. Saatnya mengembalikan “Ruh” ke dalam ruang kelas kita, sebelum lebih banyak lagi nyawa yang dikurbankan di atas altar pendidikan yang kering.





