Refleksi Pemikiran: Prof. KH. Imam Suprayogo (Tokoh Pendidikan Nasional). Oleh: Prof. Iskandar Nazari (Guru Besar Psikologi Pendidikan UIN Sutha Jambi _Founder Ruhiologi & CEO Samudra Inspirasi Ruhiologi)
Rencana pemerintah Provinsi Jambi melakukan tes psikologi massal bagi ratusan Kepala Sekolah dan guru SMA/SMK pasca-insiden kekerasan di sekolah adalah sebuah upaya diagnosa administratif. Namun, dalam perspektif Ruhiologi, kita harus menyadari bahwa ledakan emosi dan krisis karakter di sekolah bukanlah sekadar masalah mentalitas klinis, melainkan Problem Ruhani.
Sebagaimana sering didialogkan oleh Tokoh Pendidikan Nasional, Prof. KH. Imam Suprayogo, solusi pendidikan tidak boleh mengarang sendiri. Kita harus kembali pada “Psikologi Langit” yang berpijak pada petunjuk Al-Qur’an untuk membenahi hati dan menghidupkan Ruhani pendidikan.
Fondasi Iqra’: Mendidik dengan Nama Tuhan
Segala keruwetan pendidikan kita berawal dari pemisahan antara ilmu dan iman. Ruhiologi menekankan bahwa aktivitas pendidikan harus diawali dengan kesadaran ketuhanan:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia.” (QS. Al-‘Alaq: 1-3).
Jika guru “membaca” (mengajar) tanpa landasan “Bismirabbik” (dengan nama Tuhanmu), maka pendidikan kehilangan ruhnya. Tes psikologi hanya memotret kemampuan “membaca” secara kognitif, namun Ruhiologi memastikan bahwa setiap proses belajar-mengajar adalah bentuk ibadah dan koneksi kepada Sang Pencipta.
Hati dan Ruh: Sinkronisasi Wadah dan Cahaya
Agar mudah dimengerti, manusia adalah sebuah Lampu. Hati (Qalbu) adalah wadah atau kaca lampunya, sedangkan Ruh adalah cahaya murninya. Kekerasan terjadi bukan karena Ruh yang rusak, tapi karena kaca lampunya (Hati) sangat kotor sehingga cahaya Ilahi terhalang. Psikologi Langit memandang bahwa urusan Ruhani adalah otoritas mutlak Sang Pencipta:
“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit’.” (QS. Al-Isra’: 85).
Jalan Keluar Berbasis Petunjuk Al-Qur’an
Untuk mengatasi problem ruhani, Ruhiologi menawarkan jalan keluar yang hasilnya dapat dideteksi, diketahui, dan dirasakan secara nyata:
-
Shalat sebagai Kendali Perilaku:
“Bacalah (Kitab) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar…” (QS. Al-Ankabut: 45).
Shalat yang berkualitas akan memperbaiki karakter guru dan murid secara otomatis.
-
Fokus Hati (Kiblat Pengabdian):
“Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja engkau berada, palingkanlah wajahmu ke arah itu…” (QS. Al-Baqarah: 144).
Guru harus memurnikan niat, bukan sekadar mengejar status, tapi mengharap ridha Allah.
-
Pembersihan Penyakit Hati (Dendam):
“Dan Kami cabut rasa dendam yang ada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai…” (QS. Al-A’raf: 43).
Hanya dengan batin yang bersih dari dendam, hidayah dan kedamaian akan hadir di ruang kelas.
Output: Guru sebagai “Orang-Orang Pilihan”
Jika “Psikologi Langit” ini diterapkan, guru akan bertransformasi menjadi sosok yang damai dan berwibawa:
“Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan (anugerah) sifat yang khusus, yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya di sisi Kami mereka termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” (QS. Sad: 46-47).
Tes psikologi massal mungkin bisa memotret gejala, tetapi Psikologi Langit melalui pendekatan Ruhiologi mampu menyembuhkan akar masalahnya. Pemerintah memiliki otoritas untuk memfasilitasi para guru kembali pada tuntunan Al-Qur’an dimulai dari perintah Iqra’ Bismirabbik.
Secara khusus Pendidikan di Jambi dan secara umum Pendidikan Nasional akan bangkit ketika setiap pendidiknya memiliki hati yang damai dan ruh yang bercahaya, menciptakan generasi yang tidak hanya pintar, tapi berakhlak mulia.






