Oleh: Prof. Iskandar Nazari (Guru Besar Psikologi Pendidikan UIN Sutha Jambi_Founder Ruhiologi & CEO Samudra Inspirasi Ruhiologi)
Dunia kepemimpinan dan pengembangan sumber daya manusia saat ini tengah berada di persimpangan jalan. Selama puluhan tahun, kita telah akrab dengan model motivasi konvensional: pelatihan yang riuh dengan permainan fisik, yel-yel yang membakar adrenalin, hingga simulasi kelompok yang dirancang untuk memicu keceriaan sesaat. Namun, mari kita bertanya dengan jujur: sejauh mana semua keriuhan itu mampu mengubah karakter dan integritas batin di meja kerja?
Realitas menunjukkan bahwa model motivasi seperti itu sering kali hanyalah kamuflase. Ia tampak hebat di permukaan, namun gagal menyentuh titik hening di kedalaman jiwa. Begitu euforia pelatihan usai, manusia kembali pada rutinitas yang kering, kelelahan mental, dan hilangnya makna dalam bekerja.
Motivasi konvensional bekerja dengan prinsip “dorongan” (pushing) dari luar baik melalui penghargaan maupun sanksi. Dalam kacamata Ruhiologi, model ini sudah usang. Manusia bukanlah mesin yang bisa terus-menerus dipompa. Manusia adalah makhluk berkesadaran yang memikul amanah ketuhanan dalam dirinya. Sudah saatnya paradigma kepemimpinan berubah dari sekadar menggerakkan raga melalui instruksi, menjadi menghidupkan kesadaran melalui resonansi batin.
Dalam Surat Ali Imran ayat 159, Allah SWT membocorkan rahasia terbesar kepemimpinan:
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu…”
Ayat ini menegaskan bahwa kekuatan sejati seorang pemimpin bukan terletak pada kekakuan instruksi atau riuhnya seremoni, melainkan pada Rahmat Allah yang terpancar melalui kelembutan hati. Kelembutan inilah “teknologi” spiritual tertinggi yang mampu melunakkan ego dan membangkitkan kesadaran tim secara sukarela.
Untuk meninggalkan era kamuflase, seorang pemimpin tidak lagi mencari inspirasi dari luar, melainkan menghidupkan kembali empat getaran sifat kenabian yang sejatinya telah melekat dalam batin setiap insan:
Shiddiq (Getaran Otentisitas): Menyelaraskan getaran batin dengan laku nyata. Saat pemimpin menghidupkan Shiddiq, ia berhenti bersandiwara. Kebijakan yang lahir dari kejujuran nurani akan memancarkan frekuensi yang mampu menembus keraguan tim tanpa perlu retorika berlebihan.
Amanah (Getaran Stabilitas): Menyadari bahwa setiap jiwa yang dipimpin adalah titipan suci. Ketika hati nurani pemimpin bergetar dalam frekuensi Amanah, ia menciptakan “ruang batin” yang tenang, sehingga tim bekerja bukan karena diawasi, tapi karena merasa dijaga.
Tabligh (Getaran Resonansi): Mengubah komunikasi dari sekadar instruksi menjadi aliran cahaya. Pesan pemimpin tidak lagi berhenti di telinga, tapi meresap ke dalam aliran darah dan denyut nadi kesadaran pengikutnya.
Fathanah (Getaran Hikmah): Kecerdasan spiritual untuk membaca tanda-tanda zaman melampaui data. Fathanah yang dihidupkan melalui kedekatan dengan Sang Khalik memungkinkan pemimpin memberikan solusi yang menyejukkan di tengah kebuntuan birokrasi.
Kepemimpinan masa depan tidak lagi membutuhkan panggung yang bising untuk ditaati. Pemimpin yang berkesadaran akan menjadi “magnet” bagi sekitarnya. Saat batin sang pemimpin bening dan penuh cahaya ilahi, maka orang-orang di sekelilingnya akan tergerak secara alami untuk memberikan yang terbaik.
Mari kita tinggalkan permainan permukaan. Mari masuk ke dalam Samudra Inspirasi Ruhiologi, di mana setiap kebijakan adalah ibadah, dan setiap interaksi adalah upaya memuliakan fitrah kemanusiaan.
Salam Samudra Inspirasi Ruhiologi🙏






