Menggugat Nurani Pendidikan Kita – Tragedi Guru dan Murid di Jambi

Refleksi Prof. KH. Imam Suprayogo  (Tokoh Pendidikan Nasional) oleh Prof. Iskandar (Guru Besar Psikologi Pendidikan _Founder Ruhiologi _CEO ‘SIR’ Samudra Inspirasi Ruhiologi

Beberapa hari terakhir, jagat media sosial dihebohkan oleh berita yang mengiris hati: seorang guru SMK dikeroyok oleh siswanya sendiri di Jambi. Kejadian ini bukan sekadar berita kriminal biasa, melainkan sebuah anomali yang mengguncang fondasi institusi pendidikan kita. Bagaimana mungkin sekolah, yang seharusnya menjadi kawah candradimuka bagi pembentukan akhlak mulia, justru berubah menjadi medan “perang” antara guru dan murid?

Kejadian di Jambi ini memang terlokalisir secara geografis, namun karena arus informasi yang begitu cepat, ia telah menjadi beban psikologis nasional. Kita semua bertanya-tanya: Di mana letak kesalahannya?

Solusi Komprehensif dan Kearifan Lokal
Menghadapi persoalan manusia yang unik seperti ini, kita tidak bisa menggunakan jawaban tunggal. Kita butuh pendekatan yang Fathonah cerdas sekaligus bijak. Salah satu pintu masuknya adalah melalui Kearifan Lokal.

Setiap masyarakat sebenarnya memiliki mekanisme pertahanan budaya dalam menyelesaikan masalah. Nilai-nilai adat mampu membentuk rasa malu (shame culture) yang positif. Sebagai contoh, di daerah tertentu, anak usia 9 tahun akan merasa malu jika belum dikhitan. Di daerah lain seperti Thus dan Kurazan, anak usia 10 tahun merasa malu jika belum hafal Al-Qur’an. Tekanan sosial yang positif dari lingkungan inilah yang seharusnya mampu memagari perilaku siswa agar tetap berada dalam koridor penghormatan kepada guru.

Prof. Imam Suprayogo menyampaikan bahwa: Kita  harus berani jujur: pendidikan agama kita sedang menghadapi kritik tajam. Banyak lulusan sekolah yang secara formal lulus pelajaran agama, namun secara substansi belum mampu menjalankan ibadah dasar seperti sholat, belum lancar membaca kitab suci, dan perilakunya jauh dari cerminan akhlakul karimah.

Jika pendidikan agama dianggap gagal, maka kita harus memiliki keberanian untuk mengubah formatnya secara mendasar. Selama ini, pembelajaran agama mungkin terlalu terjebak pada kognisi semata menghafal dalil aqidah, fiqh, dan bahasa Arab namun gagal mengantarkan murid untuk mengenali dirinya sendiri, Rasul-Nya, dan Tuhannya.

Dari Neurologi menuju Ruhiologi
Tujuan akhir belajar agama haruslah melahirkan kesadaran eksistensial. Meminjam pemikiran Prof. Iskandar yang belakangan ini menekankan pentingnya pembentukan karakter, kita perlu beralih dari sekadar pendekatan Neurologi (saraf dan otak) menuju pendekatan Ruhiologi.

Pendidikan harus menyentuh wilayah ruhani. Ruhiologi menekankan bahwa karakter tidak bisa dibentuk hanya dengan instruksi logika, melainkan dengan sentuhan spiritual yang mendalam. Ketika seorang siswa mengenal ruhaninya, ia akan mengenal Tuhannya, dan secara otomatis ia akan menghargai sesama manusia terutama gurunya sebagai perwujudan ketaatan kepada Sang Pencipta.

Simpulan Tragedi di Jambi adalah alarm keras bagi kita semua. Penyelesaiannya tidak cukup hanya dengan sanksi hukum, tetapi harus melalui pemulihan budaya lokal dan revolusi pendidikan agama yang berbasis pada kekuatan ruhani (Ruhiologi). Sudah saatnya pendidikan kembali pada tugas aslinya: Memuliakan Kemanusiaan Manusia.

 

  • Admin

    Prof. Iskandar Nazari, penemu dan pengembang teori Ruhiology Quotient (RQ), serta pendiri PT.Samudra Inspirasi Ruhiologi. Situs ini menjadi pusat informasi, riset, dan inspirasi seputar Ruhiology, sebuah pendekatan holistik yang memadukan dimensi ruh, intelektual, dan emosional untuk pengembangan diri dan organisasi. Melalui publikasi ilmiah, program pelatihan, dan berbagai sumber daya edukatif, website ini mengajak Anda menjelajahi kedalaman potensi manusia menuju kehidupan yang bermakna dan berdaya.

    Related Posts

    Kolaborasi LAZISNU-Indomaret dan Spirit Ruhiologi dalam Pemberdayaan UMKM Menjadi Barometer Nasional

    BUNGO – Kabupaten Bungo Provinsi Jambi resmi mencatatkan sejarah sebagai titik awal transformasi pemberdayaan ekonomi umat di Indonesia. Dalam acara peluncuran Program Keluarga Unggul hasil kolaborasi NU Care-LAZISNU dan Indomaret…

    “Smart-Robot Syndrome” Kematian Rasa” Abad 21

    Prof. Iskandar Nazari  (Guru Besar Psikologi Pendidikan _ Founder Ruhiologi) Paradoks Manusia Modern: Pintar Secara Digital, Mati Secara Ruhani Abad 21 telah melahirkan generasi paling cerdas dalam sejarah peradaban manusia.…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Mari Bersama Menyelami Makna Ruhiologi

    Kolaborasi LAZISNU-Indomaret dan Spirit Ruhiologi dalam Pemberdayaan UMKM Menjadi Barometer Nasional

    • By Admin
    • Februari 9, 2026
    • 4 views
    Kolaborasi LAZISNU-Indomaret dan Spirit Ruhiologi dalam Pemberdayaan UMKM Menjadi Barometer Nasional

    “Smart-Robot Syndrome” Kematian Rasa” Abad 21

    • By Admin
    • Februari 8, 2026
    • 7 views
    “Smart-Robot Syndrome” Kematian Rasa” Abad 21

    Menjemput “God Light” di Jalur Tol Langit Sepertiga Malam

    • By Admin
    • Februari 7, 2026
    • 12 views
    Menjemput “God Light” di Jalur Tol Langit Sepertiga Malam

    AI dan “Preman Ruhani”: Menguasai Teknologi dengan Cahaya Ilahi

    • By Admin
    • Februari 6, 2026
    • 19 views
    AI dan “Preman Ruhani”: Menguasai Teknologi dengan Cahaya Ilahi

    Menghidupkan “God Spot” dan “God Light”: Revolusi Ruhani di Tengah Krisis Pendidikan Abad 21

    • By Admin
    • Februari 6, 2026
    • 13 views
    Menghidupkan “God Spot” dan “God Light”: Revolusi Ruhani di Tengah Krisis Pendidikan Abad 21

    Membongkar Genosida Ruhani di Ruang Kelas: Menggugat Pendidikan “Anestesi” yang Mematikan God Spot & God Light Anak Bangsa

    • By Admin
    • Februari 5, 2026
    • 56 views
    Membongkar Genosida Ruhani di Ruang Kelas: Menggugat Pendidikan “Anestesi” yang Mematikan God Spot & God Light Anak Bangsa