(Refleksi Pemikiran Prof. KH. Imam Suprayogo _Tokoh Pendidikan Nasional) oleh: Prof. Iskandar _Founder Ruhiologi _CEO “SIR” Samudra Inspirasi Ruhiologi
Di tengah hiruk-pikuk dunia yang kian terfragmentasi, sebuah pertanyaan mendasar muncul dalam dialog bersama Prof. KH. Imam Suprayogo: Mengapa umat yang bersujud menghadap titik yang sama, seringkali gagal berdiri tegak dalam barisan yang sama di luar shalat?
Secara fisik, kita adalah umat yang paling seragam di dunia. Lima kali sehari, jutaan tubuh membungkuk dan bersujud ke arah Ka’bah. Namun, ironinya, keseragaman fisik ini seringkali hanyalah “kamuflase” dari batin yang bercerai-berai. Di sinilah letak kegelisahan spiritual kita: kita telah menemukan Kiblat secara geografis, namun kehilangan “Kiblat” secara substansial. Kita menghadap ke arah yang sama, tapi tujuan batin kita saling membelakangi.
Salah satu pesan mendalam dari Prof. Imam Suprayogo yang patut kita renungkan adalah fenomena “berkata di atas kata”. Beliau melihat bahwa akar perpecahan seringkali bukan terletak pada sumber agamanya, melainkan pada ego manusia yang lebih mencintai teks tafsir ketimbang esensi kebenaran yang dimaksud oleh teks tersebut.
Kita terjebak dalam “politik bahasa”sibuk berdebat tentang definisi, namun abai pada hakikat. Beliau berpesan: “Berkacalah atas benda, jangan sekadar berkata atas kata.” Dalam perspektif Ruhiologi, ketika semua mata sudah mampu melihat “benda” yang sama yakni Cahaya Kebenaran Ilahi maka perdebatan tentang bagaimana cara mendeskripsikannya akan luruh dengan sendirinya. Persatuan tidak butuh ribuan volume kitab tafsir baru; ia butuh satu kejujuran untuk melihat hakikat.
Persatuan Tanpa Instruksi
Seringkali kita menganggap persatuan umat adalah proyek organisasi atau politik yang harus diatur lewat nota kesepahaman (MoU) dan jabat tangan formal. Namun, Prof. Imam menawarkan pendekatan yang jauh lebih radikal dan organik: Sinkronisasi Ruhani.
Kuncinya terletak pada Ingatan. Jika saat shalat ruhani kita benar-benar “hadir” di Baitullah, maka frekuensi hati umat akan selaras secara alami. Bayangkan jika jutaan orang tidak hanya menghadapkan wajahnya ke Ka’bah, tetapi juga memusatkan seluruh ingatan, harapan, dan cintanya ke titik gravitasi yang sama. Persatuan akan lahir sebagai “produk sampingan” dari kualitas ibadah kita. Kita akan bersatu bukan karena instruksi pimpinan, melainkan karena kita berada di dalam “ruang rasa” yang sama.
Kembali ke Rumah yang Aman; Al-Qur’an telah mengingatkan kita dalam; Surah Al-Baqarah ayat 125 bahwa Baitullah dijadikan sebagai matsabatan lin-nasi wa amna tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Keamanan ini bukan sekadar fisik dari serangan musuh, melainkan keamanan jiwa dari penyakit hasad, egoisme, dan keinginan untuk memecah belah.
Menghadap Ka’bah seharusnya menjadi proses “pulang” setiap hari. Jika setiap kali Takbiratul Ihram kita benar-benar pulang ke sisi Tuhan Pemilik Rumah ini (QS. Quraisy: 3), maka saat mengucapkan salam di akhir shalat, kita akan menoleh ke kanan dan ke kiri dengan pandangan kasih sayang kepada sesama, bukan dengan batin yang penuh kecurigaan dan penghakiman.
Sebuah Undangan Berpikir tentang
Persatuan umat yang kita impikan tidak akan ditemukan di meja-meja perundingan selama hati kita masih saling membelakangi di atas sajadah. Mari kita jujur pada diri sendiri saat shalat nanti: Ke mana ingatan kita melompat saat dahi menyentuh lantai dan tubuh menghadap Ka’bah?
Sudah saatnya kita berhenti memperuncing perbedaan tafsir dan mulai mencari titik temu pada hakikat kebenaran yang nyata. Sebab, tanpa sinkronisasi ruhani, kita hanya akan menjadi barisan tubuh yang rapi namun memiliki batin yang saling asing. Hanya dengan kesamaan “ingatan” dan “tujuan”, umat ini dapat kembali berdiri kokoh sebagai satu tubuh yang bernyawa.
Kita sering terjebak dalam ‘politik sajadah’ bersaf dalam barisan yang rapat, namun memendam rasa asing satu sama lain. Padahal, jika frekuensi ingatan kita sama-sama tertuju pada Sang Pemilik Ka’bah, maka persatuan bukanlah sesuatu yang harus diperjuangkan dengan lelah; ia adalah konsekuensi logis dari hati yang telah tersinkronisasi.





