Sholat yang “Pulang” ke Rumah-Nya: Membedah Ruhiologi dalam Sujud Kita
(Refleksi Pemikiran Prof. KH. Imam Suprayogo) Tokoh Pendidikan Nasional.
Pernahkah kita bertanya, mengapa bangsa dengan jumlah mushalla dan masjid terbanyak di dunia ini masih bergelut dengan masalah korupsi, dekadensi moral, hingga hilangnya rasa peduli? Kita rajin bersujud, namun perilaku kita setelah salam seolah tidak membawa “bekas” sujud tersebut. Fenomena ini membawa kita pada satu kesimpulan pahit: Sholat kita mungkin belum sampai ke “rumahnya”.
Banyak dari kita menjalankan sholat hanya sebagai gugur kewajiban atau sekadar “senam ruhani” tanpa kehadiran jiwa. Prof. KH. Imam Suprayogo sering menekankan bahwa pendidikan karakter yang paling otentik ada pada sholat. Namun, masalahnya adalah sholat kita tidak berada di tempat sholat.
Kita sholat di atas sajadah, tapi pikiran kita berada di pasar, di kantor, atau di media sosial. Secara fisik kita menghadap Kiblat, namun secara batin, ruh kita sedang “tunawisma” terombang-ambing tanpa sandaran. Inilah mengapa sholat tidak berdampak pada perilaku; karena terjadi diskoneksi antara gerak fisik dan kesadaran ruhani.
Memperbaiki Sholat, Memperbaiki Kehidupan, Di sinilah pentingnya Ruhiologi. Jika kita bicara tentang implementasi ruh, kita harus sadar akan batasan kita. Sebagaimana firman Allah SWT:
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit’.” (QS. Al-Isra’: 85)
Meskipun ruh adalah urusan Allah, tugas kita adalah menyiapkan “wadah” yang layak bagi ruh tersebut untuk berinteraksi dengan Sang Pencipta. Caranya? Melalui perbaikan sholat. Tanpa perbaikan kualitas sholat, kajian tentang spiritualitas (ruhiologi) hanya akan menjadi teori yang gersang.
Menuju Sholat Khusyuk: Bagaimana caranya agar sholat kita tidak sekadar gerak tubuh? Allah memberikan peta jalan dalam Surat Al-Baqarah ayat 45-46:
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”
Khusyuk bukan berarti tidak ingat apa-apa, melainkan kesadaran penuh (mindfulness) bahwa kita sedang berdiri di hadapan Sang Pemilik Alam Semesta. Khusyuk adalah rasa “pulang”.
Sholat di “Tempatnya” yang Hakiki
Refleksi mendalam dari ayat-ayat seperti QS. Al-Baqarah: 125 atau QS. Al-Naml: 91 tentang “Negeri/Rumah yang Aman” (Baitullah) sebenarnya bukan sekadar tentang bangunan fisik di Makkah. Ini adalah simbol tentang di mana hati seharusnya berlabuh.
Sholat yang “berada di tempatnya” adalah sholat yang dilakukan oleh jiwa yang telah menemukan ketenangan di sisi Rabb-nya (QS. Quraisy: 3). Ketika kita sholat di “Rumah Allah” secara maknawi, maka ruh kita tidak lagi liar. Ia tenang, ia tunduk, dan ia malu untuk berbuat maksiat setelah selesai sholat. Itulah sholat yang mencegah keji dan mungkar.
Mari “Pulang” dalam Setiap Takbir
Mari kita jujur pada diri sendiri. Jika hidup kita masih terasa semrawut dan hati masih sering gelisah, mungkin sudah saatnya kita mengaudit sholat kita. Jangan biarkan sholat kita hanya menjadi rutinitas yang kehilangan nyawa.
Jadikan setiap sholat sebagai momen “pulang”. Sebelum bertakbir, sadarilah bahwa kita adalah ruh yang berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Mari kita bangun kembali peradaban ini melalui perbaikan sholat yang khusyuk. Sebab, ketika sholatnya sudah benar dan “berada di tempatnya”, maka karakter bangsa akan tegak dengan sendirinya.
Sumber: Hasil dialog Prof. Iskandar langsung dengan Prof. KH.Imam Suprayogo dan juga disadur dari tulisan pemikiran beliau sebagai bahan renungan bersama bagi pembaca artikel Samudra Inspirasi Ruhiologi.




