Prof. Iskandar _Founder Ruhiologi
Pergantian tahun selalu membawa harapan baru. Kalender dibuka, resolusi disusun, target ditetapkan. Namun sejarah peradaban mengingatkan satu hal penting: perubahan waktu tidak otomatis melahirkan perubahan manusia. Banyak krisis terus berulang, bahkan semakin keras, di tengah kemajuan zaman.
Awal 2026 seharusnya tidak hanya dibaca sebagai pergantian angka, tetapi sebagai momentum refleksi nurani apakah cara hidup manusia benar-benar berubah, atau sekadar mengganti kalender tanpa memperbaiki kesadaran.
Alam: Teman Hidup yang Berubah Menjadi Teguran
Tanah, air, api, dan angin adalah sahabat kehidupan manusia. Dari sanalah manusia hidup, membangun, dan berkembang. Namun pada waktu tertentu, unsur-unsur itu berubah menjadi ancaman: banjir, longsor, kebakaran, badai. Pertanyaan pun muncul: apakah ini sekadar hukum alam, atau hukum Tuhan?
Bagi orang beriman, jawabannya jelas: semua berada dalam iradah Allah. Namun pemahaman ini sering disalahpahami seolah-olah Tuhan “tega” membiarkan manusia menderita. Padahal, dalam perspektif keimanan, Allah tidak zalim, tidak merusak, dan tidak berbuat sia-sia. Musibah bukan ekspresi kebencian Tuhan, melainkan peringatan keadilan-Nya agar manusia tidak jatuh pada kerusakan yang lebih besar akibat perbuatannya sendiri.
Al-Qur’an menegaskan dengan jujur dan tegas:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali.” (QS. Ar-Rūm: 41)
Ayat ini menempatkan bencana bukan semata sebagai peristiwa fisik, tetapi sebagai teguran ruhani. Alam sedang berbicara, dan yang ditegur bukan tanah atau air, melainkan nurani manusia.
Krisis Abad 21: Ketika Ibadah Terpisah dari Etika Hidup
Abad ke-21 ditandai oleh kemajuan luar biasa. Teknologi berkembang pesat, kecerdasan buatan melesat, produktivitas meningkat. Namun bersamaan dengan itu, krisis justru menguat: kerusakan lingkungan, ketimpangan sosial, degradasi etika, dan kekosongan makna hidup.
Salah satu problem paling serius adalah retaknya keutuhan beragama. Banyak manusia tekun menjalankan ibadah mahdhah shalat, puasa, haji namun kurang peka terhadap pelanggaran moral dan sosial yang berdampak luas. Agama direduksi menjadi ritual, bukan kesadaran hidup.
Pertanyaannya sederhana namun menohok: bagaimana mungkin seseorang rajin beribadah, tetapi membiarkan bahkan ikut dalam praktik-praktik yang merusak tatanan kehidupan? Ketika pelanggaran dianggap urusan privat, sementara dampaknya bersifat kolektif, maka krisis tidak lagi sekadar sosial, melainkan kosmik alam pun bereaksi.
Tamak dan Nafsu: Penyakit Hati yang Menggerogoti Peradaban
Dalam perspektif Ruhiologi, akar terdalam krisis ini adalah penyakit hati: tamak dan nafsu yang tidak dikendalikan. Tamak bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi orientasi hidup yang kehilangan rasa cukup. Nafsu bukan sekadar dorongan biologis, melainkan kekuatan destruktif ketika dilepaskan dari kendali nilai ilahiyah.
Yang membuatnya berbahaya adalah kenyataan bahwa penyakit ini sering tampil rapi: dilegalkan oleh aturan, dibenarkan oleh statistik, bahkan dirayakan sebagai keberhasilan. Banyak pelaku kerusakan adalah orang terdidik. Banyak pelanggar moral memahami hukum dan norma. Ini menegaskan satu fakta penting: pengetahuan tidak otomatis melahirkan kesadaran.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa pusat terdalam manusia bukan akal, melainkan ruh:
“Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ruh itu termasuk urusan Tuhanku.”
(QS. Al-Isrā’: 85)
Karena itu, krisis batin tidak cukup disembuhkan dengan regulasi, kurikulum, atau hafalan teks suci semata.
Dari Ritual ke Keutuhan Ibadah
Agama tidak dimaksudkan hanya untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga untuk menjaga hubungan manusia dengan sesama dan dengan alam. Inilah makna ibadah yang utuh.
Shalat, misalnya, bukan sekadar kewajiban formal, tetapi mi’raj harian ruang perjumpaan yang menundukkan ego, membersihkan hati, dan menata orientasi hidup.
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabūt: 45)
Jika shalat hidup, nurani terjaga. Jika nurani terjaga, manusia tidak tega merusak alam, menzalimi sesama, atau melampaui batas moral. Dari sinilah etika lingkungan dan tanggung jawab sosial tumbuh secara alami.
Menyambut Tahun Baru dengan Nurani yang Hidup
Awal tahun seharusnya menjadi momen bercermin, bukan sekadar berencana.
Sebelum membangun sistem, bangunlah nurani.
Sebelum mengejar pertumbuhan, pulihkan rasa cukup.
Sebelum menyalahkan alam, periksalah kondisi hati manusia.
Sebab masa depan tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi kita,
melainkan oleh seberapa utuh ketaatan kita kepada Tuhan dalam ibadah dan dalam menjaga kehidupan.
Dan ketika nurani hidup, alam kembali menjadi sahabat, bukan teguran





