Prof. Iskandar, S.Ag., M.Pd., M.S.I., M.H., Ph.D.
Guru Besar Psikologi Pendidikan UIN Sutha Jambi & Founder Ruhiologi
Pernahkah kita menyadari, betapa sering sekolah kini menjadi tempat yang menegangkan, bukan menenangkan?
Murid mudah marah hanya karena gurunya menegur. Guru pun mudah tersulut emosi karena muridnya tidak patuh. Di balik setiap letupan amarah di ruang kelas, ada tanda bahwa pendidikan kita sedang kehilangan ruhnya.
Sekolah tampak sibuk: kegiatan padat, target akademik dikejar, fasilitas lengkap. Namun di balik itu semua, ada kelelahan batin yang tak terlihat baik pada guru maupun siswa. Kita berhasil mencerdaskan kepala, tetapi gagal menenangkan jiwa.
Kecerdasan yang Belum Terpadu
Selama ini pendidikan hanya menekankan pada satu sisi kecerdasan IQ (Intelligence Quotient) yang berpusat pada logika dan kemampuan analitis.
Belakangan muncul kesadaran tentang pentingnya EQ (Emotional Quotient) untuk mengelola emosi dan membangun relasi, serta SQ (Spiritual Quotient) yang memberi makna dan arah moral dalam hidup.
Kita juga memasuki era AI (Artificial Intelligence) kemampuan adaptasi terhadap kecerdasan buatan, berpikir algoritmik, dan digital awareness.
Namun, keempat kecerdasan ini masih berada di wilayah fungsional manusia akal, emosi, sosial, dan teknologi. Belum menyentuh pusat kesadaran terdalam manusia, yaitu ruh.
Di sinilah hadir RQ (Ruhiology Quotient) kecerdasan ruhani yang menjadi pusat kendali dan pemandu bagi seluruh kecerdasan lainnya.
Jika IQ adalah “akal berpikir”, EQ adalah “hati merasa”, SQ adalah “jiwa yang mencari makna”, dan AI-Q adalah “nalar adaptif digital”, maka RQ adalah cahaya ruhani yang mengarahkan semuanya menuju Tuhan.
Teknik Aktivasi Ruhiologi: Dari Iqra’ Bismirabbik Menuju God Light
Pendidikan ber-RQ tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi mengaktifkan kesadaran ruhani dalam diri manusia.
Prosesnya dimulai dengan perintah ilahi pertama dalam sejarah pendidikan manusia:
“Iqra’ bismirabbik alladzi khalaq” (Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan). (QS. Al-‘Alaq: 1)
Ayat ini bukan sekadar ajakan membaca teks, tapi membaca realitas dengan kesadaran ketuhanan.
“Iqra’” berarti aktivasi kesadaran intelektual (IQ).
“Bismirabbik” berarti aktivasi kesadaran ruhani (RQ).
Dari sinilah lahir dua langkah penting dalam aktivasi Ruhiologi:
-
Konsentrasi (Focus) — mengarahkan seluruh potensi akal, emosi, dan perhatian pada satu niat: mencari kebenaran karena Allah.
Konsentrasi mengaktifkan pusat kendali logika dan perhatian di otak depan (prefrontal cortex) yang terkait dengan IQ dan EQ. -
Kontemplasi (Tafakkur & Tadabbur) — proses menyelam ke dalam diri untuk merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap peristiwa.
Kontemplasi mengaktifkan area otak spiritual yang oleh para neuroscientist disebut “God Spot” — bagian yang memunculkan kesadaran akan makna, kedamaian, dan hubungan dengan Yang Ilahi.
Ketika “God Spot” ini aktif, muncullah “God Light” — yaitu pancaran cahaya kesadaran ruhani yang menuntun seseorang dalam berpikir, merasa, dan bertindak.
Inilah yang membuat guru bijak dalam mengambil keputusan, siswa tenang dalam menghadapi ujian, dan sekolah menjadi taman keteduhan.
Ruang Kelas dengan Ruh
Sekolah yang ber-RQ tinggi bukan hanya tempat belajar, tetapi tempat berzikir dalam arti luas mengingat Allah melalui ilmu, perilaku, dan pelayanan.
Guru menjadi murabbi (penyubur ruh), bukan sekadar pengajar.
Siswa menjadi muta’allim (pencari makna), bukan sekadar pencari nilai.
Dalam suasana seperti ini, amarah berubah menjadi sabar, ketegangan menjadi kedamaian, dan belajar menjadi ibadah.
“Cahaya ruh adalah kompas yang menuntun seluruh kecerdasan manusia.
Tanpa cahaya itu, IQ kehilangan arah, EQ kehilangan rasa, SQ kehilangan makna, dan AI-Q kehilangan kemanusiaan.”
Sudah saatnya kita merestorasi ruh pendidikan, agar sekolah tidak hanya mencetak orang pintar, tetapi juga melahirkan manusia berjiwa terang — yang berpikir dengan akal, merasa dengan hati, dan memutuskan dengan cahaya Tuhan.
Tagline & Hashtag
#RestorasiRuhPendidikan #Ruhiologi #PendidikanHolistik #GuruBerRQ #GodSpot #GodLight #IqraBismirabbik






Saatnya menyalakan ruh di ruang kelas