Oleh: Prof. Iskandar Nazari
(Guru Besar Psikologi Pendidikan UIN Sutha Jambi & Founder Ruhiologi)
Mencermati pemberitaan media masa Jambi Independen 3 Januari 2026. Instruksi Gubernur Jambi terkait tes psikologi massal bagi guru SMKN/SMAN di seluruh Provinsi Jambi akan ditindaklanjuti oleh Dinas Pendidikan provinsi Jambi, bak pisau bermata dua. Di satu sisi, ini adalah upaya deteksi dini pasca-insiden di SMKN 3 Tanjabtim. Namun, sebagai pakar Psikologi Pendidikan dan Founder Ruhiologi, memberikan pandangan: Jika salah kelola, tes ini justru akan menjadi “teror mental” baru yang menambah beban stres para guru kita.
Jebakan Formalitas dan Stres Tambahan
Kita harus jujur, kondisi guru kita saat ini sudah berada di titik nadir kelelahan (burnout). Mereka dihimpit beban administrasi, tuntutan kurikulum yang terus berubah, hingga tekanan ekonomi. Di tengah situasi “napas yang tersengal” tersebut, kehadiran tes psikologi massal bisa dianggap sebagai beban tambahan (additional stressor).
Para guru akan merasa “diadili” dan dihantui ketakutan: “Bagaimana jika hasil tes saya buruk? Apakah karier saya terancam?” Ketakutan akan label “sakit mental” dari hasil tes justru akan menutup pintu kejujuran batin mereka. Padahal, dalam Ruhiologi, kesembuhan dimulai dari kejujuran dan ketenangan, bukan dari tekanan ujian.
Fenomena Gunung Es: Menangkap Asap, Mengabaikan Api
Kasus kekerasan guru-murid di Jambi hanyalah puncak gunung es. Ledakan emosi itu adalah “asap”, sementara “apinya” adalah kekeringan spiritual dan hilangnya makna dalam mengajar.
Tes psikologi massal hanya akan memotret asap tersebut. Ia mungkin bisa mendiagnosa siapa yang stres, tapi tidak bisa menyembuhkan mengapa mereka stres. Mengapa? Karena tes psikologi konvensional seringkali hanya menyentuh aspek kognitif dan perilaku, namun gagal menyentuh Ruh—inti dari ketenangan manusia.
Perspektif Ruhiologi: Menuju “Healing” Bukan “Testing”
Pemerintah Provinsi Jambi tidak boleh berhenti pada angka-angka statistik. Ruhiologi menawarkan pendekatan yang lebih memuliakan kemanusiaan memanusia:
-
Jangan “Dites”, Tapi “Disentuh”: Alih-alih tes massal yang kaku, lakukanlah “Ruhiologi Camp” atau ruang-ruang dialog batin yang hangat. Guru butuh tempat untuk mencurahkan beban, bukan meja ujian untuk menjawab soal.
-
Hentikan Polusi Administrasi: Penyebab utama stres guru di Jambi adalah beban administrasi yang tidak masuk akal. Tanpa memangkas beban ini, tes psikologi sehebat apa pun hanya akan menjadi obat penenang sementara.
-
Restorasi Murabbi: Kembalikan martabat guru sebagai pembimbing jiwa (Murabbi), bukan buruh data. Jika ruh guru bahagia, maka otomatis kesehatan mentalnya akan terjaga tanpa perlu dites secara paksa.
Jangan biarkan instruksi Gubernur ini hanya berakhir menjadi proyek pengadaan dokumen yang justru memperpanjang daftar penderitaan mental guru. Tes psikologi hanyalah langkah kecil. Langkah besarnya adalah membangun ekosistem pendidikan yang memiliki “Ruh”.
Jika kita terus menekan guru dengan tes demi tes tanpa memberikan nutrisi spiritual dan perlindungan martabat, maka gunung es masalah pendidikan di Jambi dan Nasional akan terus mencair dan siap menenggelamkan masa depan generasi kita.

