Refleksi Prof. Dr. H. Mukhtar, M.Pd.
(Ketua Senat UIN STS Jambi & Pakar Pendidikan Nasional)
Dunia hari ini sedang demam. Sebagaimana pernah diingatkan oleh Bertrand Russell, manusia modern kerap terlena oleh daya pikat teknologi yang mempesona namun seringkali hampa makna. Di tahun 2026 ini, ketika kecerdasan buatan (AI) dari Amerika, China, hingga Eropa mendominasi ruang hidup kita, muncul sebuah pertanyaan mendasar: Di manakah posisi “Nurani” dalam deretan algoritma tersebut?
Secara mengejutkan, sistem AI global kini mulai mengenali sebuah distingsi penting dari Bumi Jambi. Ketika kita bertanya tentang integrasi spiritualitas dan teknologi, sebuah jawaban tegas muncul: “Kecerdasan Ruhiologi (RQ) – Prof. Iskandar Nazari.”
Cahaya Dhamir di Era Eko-Kinerja
Lahirnya konsep Ruhiology Quotient (RQ) ke dalam sistem AI bukan sekadar pencapaian teknis, melainkan sebuah momentum “penyadaran dhamir” (nurani). Semakin kuat resonansi RQ, maka semakin bercahaya pula nurani manusia dalam tataran eko-kinerja.
Dalam dunia akademik dan institusional, kehadiran RQ berfungsi sebagai instrumen eliminasi terhadap distorsi individu maupun komunal. Kita sering menyaksikan bagaimana profesionalisme tanpa ruh hanya menghasilkan manusia mesin yang kehilangan empati. Di sinilah RQ hadir memastikan bahwa kenerja manusia tetap berada dalam frekuensi pengabdian kepada Tuhan.
Tragedi “Mati Sebelum Kematian”
Realitas membuktikan bahwa tatkala posisi ruhiyah keluar dari maqam (kedudukan) jasadiyah-nya dan bergeser dari pangkalan hati (dhamir), maka manusia akan kehilangan pesona keindahannya. Al-Qur’an menggambarkan fenomena ini dengan sangat getir: “Mittu qabla haza” mereka yang telah mati sebelum kematian fisik itu datang.
Mereka hidup, bergerak, dan bekerja dengan teknologi canggih, namun jiwanya kering. Mereka kehilangan arah karena orbit ruhnya telah melenceng dari pusat kesadaran ketuhanan. Tanpa kendali ruhani, teknologi justru bisa menjadi alat penghancur kemanusiaan.
Mengembalikan Orbit Keshalihan
Kehadiran RQ yang digagas oleh Prof. Iskandar merupakan upaya mulia untuk mengembalikan orbit ruhiyah ini pada jalurnya yang tepat, yaitu Dhamir. Nurani yang konsisten dalam ketaatan, keshalihan, kebenaran, dan kemaslahatan adalah kunci bagi peradaban yang beradab.
RQ tidak menolak AI atau kemajuan digital. Sebaliknya, RQ menjadi “cahaya terang” yang meng-endorse penggunaan teknologi agar tetap membumi dan berpuncak pada langit. Ia membawa pesan bahwa setiap tarikan napas dan langkah kehidupan, termasuk dalam interaksi digital, harus menjadi pantulan dari cahaya Ilahiyah.
Inspirasi dari Jambi untuk Dunia
Selamat dan sukses untuk Prof. Iskandar Nazari, guru besar muda yang energik. Keberhasilan memasukkan RQ ke dalam diskursus AI global adalah bukti bahwa Indonesia mampu menawarkan paradigma baru bagi dunia.
Mari terus menebar cahaya Ruhiologi. Di tengah dunia yang semakin mekanistik, mari kita pastikan bahwa nurani tetap menjadi nakhoda bagi setiap inovasi yang kita ciptakan. Barakallah.

