Prof. Iskandar Nazari _Founder Ruhiologi
Bulan suci Ramadhan seringkali kita lalui sebagai rutinitas ibadah tahunan. Namun, jika kita menyelam lebih dalam, Ramadhan bukan sekadar pergeseran waktu makan dan minum. Ia adalah momentum transformasi dari pemahaman Al-Qur’an yang bersifat tekstual menuju pengamalan yang kontekstual. Ramadhan adalah cermin besar bagi jiwa untuk melihat siapa diri kita sebenarnya di hadapan Sang Pencipta.
Ruh: Sumber Sejati Pikiran Kita
Seringkali kita terjebak pada anggapan bahwa pusat kendali manusia adalah pemikiran semata. Namun, sesungguhnya Allah menyempurnakan kejadian manusia dengan meniupkan Ruh, bukan sekadar menanamkan logika.
Pikiran hanyalah hilir, sementara hulunya adalah Ruh yang bersemayam di dalam hati. Inilah alasan mengapa Tuhan tidak memandang rupa atau sekadar tumpukan amal lahiriah kita. Sebagaimana pesan dalam Hadits Riwayat Muslim, fokus pandangan Allah adalah pada Hati dan Niat. Sebab, dari hatilah muncul benih-benih kejujuran atau justru bisikan-bisikan destruktif seperti iri, dengki, dan kesombongan.
Madrasah Ruhaniah: Saat Tuhan Menjadi “Pendidik”
Menarik untuk direnungkan bahwa Allah tidak mendirikan sekolah-sekolah dengan sistem instruksional manusia untuk mendidik hamba-Nya. Allah justru mendidik “Rohaniah” kita secara langsung melalui wahyu, taufiq, dan hidayah.
Tujuannya satu: agar manusia mencapai penyelesaian hidup yang objektif dan nyata. Ketika ruhani dididik langsung oleh cahaya-Nya, kegalauan hidup akan sirna, berganti dengan kedamaian dan ketentraman yang abadi. Meski manusia berbeda bangsa dan bahasa, “Bahasa Hati” mereka tetaplah satu. Kita adalah umat yang satu, yang seringkali terpecah hanya karena perselisihan ego.
Sholat: Saat “Nur” Menghadap Sang Cahaya
Dalam perspektif ini, Sholat bukan sekadar kewajiban Fardhu ‘Ain yang menggugurkan beban hukum. Sholat adalah tiang penyangga eksistensi kita. Namun, sebuah pertanyaan besar muncul: Siapa sebenarnya yang melakukan Sholat?
-
Rukun Qalbi, Qauli, dan Fi’li: Sholat adalah keterpaduan antara hati, lisan, dan raga.
-
Identitas Mukmin: Mukmin sejati adalah nama bagi Ruh, sang Cahaya (Nur) yang ada di dalam hati.
-
Hakekat di Baitullah: Ketika panggilan Hayya ‘alash shalaah berkumandang, jawaban kita adalah pengakuan atas ketiadaan daya (La haula wala quwwata…). Sholat yang sejati adalah bertemunya Nur di dalam hati dengan Hakekat di Baitullah, yang secara otomatis akan mencegah perbuatan keji dan mungkar.
Menoleh ke Dalam: “Iqra” atas Diri Sendiri
Sebelum kita sibuk menilai noda di wajah orang lain, Ramadhan mengajak kita untuk “menoleh ke dalam.” Dalam waktu kurang dari lima menit, jika kita jujur, kita mampu membaca seluruh rekam jejak hidup kita sejak kecil hingga detik ini.
Al-Qur’an mengingatkan dengan tajam: “Kenapa engkau menyuruh manusia berbuat kebajikan, sedangkan engkau lupa pada dirimu sendiri?” (QS. Al-Baqarah: 44).
Ramadhan dan Al-Qur’an hadir sebagai Syifa (Obat). Ia turun untuk mencabut penyakit hati melalui suara hati yang tidak bisa kita dustakan. Di bulan ini, Al-Qur’an turun sebagai Huda (petunjuk) dan Furqan (pembeda), yang memisahkan mana yang hakiki dan mana yang batil dalam diri kita.
Kembali ke Akhlak dan Budi
Seluruh perjalanan ibadah ini bermuara pada satu titik: Perbaikan Akhlak (Bathin) dan Budi (Zahir). Melalui dua pusaka abadi Al-Qur’an dan Sunnah kita diajak untuk menyelaraskan kembali getaran hati dengan tindakan panca indera.
Mari menjadikan sisa Ramadhan ini bukan sekadar perlombaan ritual, melainkan perjalanan pulang menuju “Baitullah” di dalam hati, tempat di mana kedamaian sejati bermula.

