Refleksi Diskusi Santai bersama Prof. KH. Imam Suprayogo (Tokoh Pendidikan Nasional)
Oleh: Prof. Iskandar (Founder Ruhiologi)
Banyak orang saat ini terjebak dalam keriuhan dunia, namun merasa asing dengan dirinya sendiri. Mereka bingung mencari ke mana perginya ketenangan, ke mana arah kedamaian, dan mengapa syukur terasa begitu berat untuk diucap. Dalam sebuah diskusi santai bersama Prof. KH. Imam Suprayogo, sebuah pelajaran sederhana namun mendalam menyeruak: “Jika ingin tenang, jangan tinggalkan rumah.”
Pernyataan ini tentu tidak dimaknai secara harfiah sebagai pembatasan fisik, melainkan sebuah metafora eksistensial. Sebagaimana tubuh kita terdiri atas jasmani dan ruhani, maka “rumah” pun memiliki dua dimensi yang tak terpisahkan.
Dua Rumah, Satu Kesadaran
Agar hati menjadi damai, sejuk, dan mampu bersyukur, kita harus betah tinggal di kedua rumah tersebut: Rumah Jasmani dan Rumah Ruhani.
Rumah Jasmani: Secara fisik, rumah harus ditempati. Jika dibiarkan kosong, ia akan cepat rusak dan lapuk. Begitu pula dengan keberadaan kita secara sosial; mereka yang tidak terikat dengan tanggung jawab domestik dan sosial sering disebut “mbambung” atau gelandangan. Hidup yang liar tanpa pijakan fisik hanya akan melahirkan kegelisahan.
Rumah Ruhani: Inilah inti dari gagasan Ruhiologi. Rumah ruhani kita adalah hubungan kita dengan Sang Pencipta. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an (Ali Imran: 96-97), Baitullah adalah rumah pertama yang dibangun bagi manusia sebagai petunjuk. Menempati rumah ruhani berarti menghadirkan ingatan kita kepada-Nya, setidaknya melalui ibadah sholat.
Kiblat sebagai “Jangkar” Ketenangan
Ketenangan bathin dimulai saat ingatan kita berada di “Kiblat” (Al-Baqarah: 125, 144). Kiblat bukan sekadar arah mata angin, melainkan pusat gravitasi kesadaran. Ketika pikiran dan hati terpaku pada titik pusat ketuhanan, maka penyakit hati seperti dendam, cemas, dan kesombongan akan dicabut oleh Allah (Al-A’raf: 43).
Inilah alasan mengapa sholat menjadi kunci kesehatan hati (Al-Ankabut: 45). Sholat yang dilakukan dengan kesadaran “menempati rumah ruhani” akan mencegah perilaku keji dan mungkar, karena ruhaninya telah merasa “pulang” dan aman dalam dekapan Ilahi.
Resonansi Syukur dalam Ruhiologi
Dalam perspektif Ruhiologi, ketenangan bukan berarti tiadanya masalah, melainkan kemampuan ruh untuk tetap berada di “dalam rumah” meskipun badai dunia sedang menerjang di luar. Jika ingatan selalu berada di rumah ruhani, maka hati otomatis akan menjadi damai, teduh, penuh kasih sayang, dan berlimpah syukur (Sad: 46-47).
Orang-orang yang betah tinggal di rumah ruhaninya adalah mereka yang telah mencapai derajat “ikhlas” orang-orang pilihan yang ruhaninya selalu beresonansi dengan frekuensi kesadaran ketuhanan, meski raganya masih berpijak di bumi.

