Prof. Iskandar Nazari
(Guru Besar Psikologi Pendidikan UIN STS Jambi & Founder Ruhiologi)
Di tengah disrupsi teknologi dan kebisingan informasi yang kian menderu, manusia modern kerap mengalami “kekeringan eksistensial”. Kita berlari mengejar produktivitas, namun seringkali kehilangan arah batin. Di titik inilah, “Ruhiologi” hadir bukan sekadar sebagai teori akademik, melainkan sebagai sebuah gerakan intelektual berkesadaran Ketuhanan yang mengajak kita kembali ke titik nol: sepertiga malam.
“Iqra Bismirabbik”: Fondasi Literasi Ruhani
Pilar utama Ruhiologi berpijak pada perintah fundamental: Iqra Bismirabbik. Membaca semesta, sains, dan teknologi tanpa menyertakan “Nama Tuhan” hanya akan melahirkan intelektualitas yang congkak dan hampa berkah.
Dalam perspektif Ruhiologi, intelektualitas sejati harus diawali dengan literasi ruhani. Membaca dengan nama Tuhan berarti melibatkan kesadaran transenden dalam setiap proses kognitif. Di sini, ilmu pengetahuan tidak lagi berdiri sendiri sebagai benda mati, melainkan menjadi wasilah (perantara) untuk menyingkap keagungan Sang Pencipta.
Konsentrasi, Kontemplasi, dan Aktivasi “God Spot”
Ruhiologi menekankan pentingnya manajemen ruhaniah melalui dua instrumen utama: “Konsentrasi” dan “Kontemplasi”. Perintah untuk membangun kekuatan di waktu malam ini secara tegas tertuang dalam Al-Qur’an:
“Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud (sebagai ibadah) tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra: 79)
Ayat ini adalah mandat bagi setiap insan Ruhiologi untuk menjemput “posisi terpuji” melalui jalur langit. Sepertiga malam hingga fajar bukan sekadar waktu biologis untuk beristirahat, melainkan momentum emas aktivasi “God Spot” sebuah ruang fitrah dalam otak manusia yang didesain untuk terhubung dengan frekuensi Ilahi.
Melalui “konsentrasi” total (khusyuk) di atas sajadah, kita memutus distraksi duniawi. Sebagaimana firman-Nya: “Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa) dan (bacaan pada waktu itu) lebih berkesan.” (QS. Al-Muzzammil: 6). Inilah dasar mengapa konsentrasi dan kontemplasi di waktu malam memiliki dampak kognitif dan spiritual yang jauh lebih dahsyat.
Menjemput “God Light” via Jalur Tol Langit
Puncak dari praktik Ruhiologi adalah transmisi “God Light” (Cahaya Ketuhanan). Melalui momentum “Sajadah Jalur Tol Langit” di waktu Subuh, seorang hamba melakukan sinkronisasi energi. Cahaya ini bukanlah metafora belaka, melainkan energi ruhani yang mencerahkan akal budi (*brightening the mind*) dan menenangkan jiwa (calming the soul).
Ketika seseorang bekerja dengan siraman “God Light”, maka pengambilan keputusannya akan terbimbing, kreativitasnya akan mengalir, dan integritasnya akan terjaga. Ia tidak lagi sekadar bekerja mencari materi, tetapi bergerak dalam frekuensi ketuhanan. Jalur langit inilah yang memudahkan segala urusan yang tampak mustahil di jalur bumi.
Refleksi Ruhiologis: Sains dan Taqwa dalam Satu Tarikan Napas
Gerakan Ruhiologi menawarkan paradigma baru: menjadikan sains dan teknologi sebagai sajadah. Kita ingin mencetak generasi yang mampu menguasai kecerdasan buatan hingga sains tingkat tinggi, namun tetap membasahi sajadahnya di sepertiga malam.
Dengan menjadikan takwa sebagai tarikan napas, maka setiap aktivitas profesional kita adalah kelanjutan dari sujud-sujud kita. Inilah manusia Ruhiologi: pribadi yang tangguh secara mental, cerdas secara intelektual, dan bercahaya secara spiritual. Mari kita jemput fajar, nyalakan “God Light”, dan lalui hari di atas jalur langit.
Salam Samudra Inspirasi Ruhiologi ‘SIR’

