Site icon samudraruhiologi.com

Menjemput Daulat Pangan di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah: Sebuah Tinjauan Ruhiologi

Prof. Iskandar Nazari | Guru Besar Psikologi Pendidikan UIN STS Jambi | Founder Ruhiologi

Pelaksanaan Musyawarah Daerah (MUSDA) serta Pelantikan DPD & DPC HKTI se-Provinsi Jambi pada 20–21 April 2026 bukan sekadar agenda seremonial organisasi. Kehadiran Wakil Menteri Pertanian RI, Dr. Sudaryono, B. Eng., M.M, MBA, selalu Ketua Umum DPN HKTI Indonesia serta kepemimpinan Dr. Ir. H. Sutan Adil Hendra, MM, (Ketua DPD HKTI Provinsi Jambi membawa angin segar bagi visi “Tani Makmur, Indonesia Sejahtera”.

Namun, di balik angka produksi dan inovasi teknologi, ada satu dimensi yang sering terlupakan dalam diskursus ketahanan pangan dengan nilai filosofis spritualitas  Ruhiologi.

Apa Itu Ruhiologi dalam Pertanian?

Secara sederhana, Ruhiologi adalah ilmu yang mempelajari kaitan antara dimensi inti spiritualitas (ruh) dengan realitas fisik secara universal. Dalam konteks pertanian, gagasan ini memandang tanah, air, dan tanaman bukan sekadar objek komoditas, melainkan entitas hidup yang memiliki koneksi spiritual dengan manusia.

“Petani bukan hanya operator mesin atau penyebar pupuk; mereka adalah perawat kehidupan yang menghubungkan energi langit dengan kesuburan bumi.”

1. Pertanian sebagai Manifes Penghambaan

Dalam pandangan Ruhiologi, ketahanan pangan dimulai dari ketulusan niat. Ketika HKTI Jambi mendorong kemandirian pangan, hal ini selaras dengan prinsip menjaga amanah Allah di muka bumi. Mengolah lahan di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah adalah bentuk ibadah sosial. Jika “ruh” dari kepengurusan baru ini adalah amanah, maka setiap kebijakan akan berorientasi pada kemaslahatan akar rumput, bukan sekadar statistik pertumbuhan.

2. Sinergi Alam dan Inovasi Mental

Tema “Tani Makmur, Indonesia Sejahtera” menuntut adanya keseimbangan. Ruhiologi mengajarkan bahwa kerusakan alam seringkali berawal dari  nafsu yang tamak. Oleh karena itu, inovasi yang dibawa oleh HKTI diharapkan tidak hanya menyentuh aspek teknis (mekanisasi), tetapi juga penguatan mentalitas petani agar menjadi “tuan rumah di negeri sendiri”.

Petani yang berdaulat secara ruhani tidak akan mudah menyerah pada fluktuasi harga atau ketergantungan impor, karena mereka memiliki kebanggaan atas martabat profesinya.

3. Jambi sebagai Lokomotif Ketahanan Pangan

Provinsi Jambi memiliki kekayaan biodiversitas yang luar biasa. Dengan pendekatan Ruhiologi, pembangunan pertanian di Jambi harus berbasis kearifan lokal. Menghormati tanah Jambi berarti mengelolanya dengan kasih sayang, meminimalkan zat kimia berbahaya, dan memastikan keberlanjutan bagi generasi mendatang. Inilah esensi dari ketahanan pangan yang sesungguhnya: pangan yang berkah karena didapat dari cara-cara yang baik (thayyib).

Harapan Baru dari Jambi

Selamat ber-MUSDA dan mengemban amanah baru bagi para pengurus HKTI Jambi. Semoga momentum ini melahirkan kepemimpinan yang memiliki “ruh” pengabdian yang kuat. Sebagaimana gagasan yang sering didiskusikan oleh para cendekiawan seperti Prof. Iskandar Nazari, bahwa ilmu tanpa sentuhan spiritualitas akan kehilangan arah.

Mari kita jadikan Jambi bukan hanya lumbung pangan fisik, tapi juga lumbung inspirasi bagi kedaulatan pangan nasional yang beretika dan bermartabat.

Tani Makmur, Indonesia Sejahtera!


Exit mobile version