Site icon samudraruhiologi.com

Mengukir RUHIOLOGI (RQ) dalam Sistem AI: Ikhtiar Menghidupkan DHAMIR di Era Mesin

Refleksi Pemikiran Prof. Dr. H. Mukhtar, M.Pd.(Ketua Senat & Guru Besar UIN Sutha Jambi _Pakar Pendidikan Nasional)
Oleh: Prof. Iskandar, S.Ag., M.Pd., M.S.I., M.H., Ph.D (Guru Besar Psikologi Pendidikan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Founder Ruhiologi)

Peradaban manusia hari ini berada pada sebuah paradoks besar. Kecerdasan buatan berkembang pesat, algoritma kian presisi, dan teknologi digital merasuk ke hampir seluruh sendi kehidupan. Namun pada saat yang sama, manusia justru menghadapi krisis yang lebih mendasar: krisis nurani. Mesin semakin cerdas, tetapi manusia perlahan kehilangan kesadarannya.

Inilah kegelisahan zaman yang secara konsisten disuarakan oleh Prof. Dr. H. Mukhtar, M.Pd., Ketua Senat UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi dan pakar pendidikan nasional. Dalam pandangannya, problem terbesar pendidikan dan peradaban kontemporer bukan semata keterbelakangan teknologi, melainkan tercerabutnya kesadaran ruhani dari pusat kehidupan manusia. Ilmu berkembang, tetapi nilai tertinggal. Sistem maju, tetapi dhamir melemah.

Kecerdasan Tanpa Nurani, AI mampu belajar dari data, mengenali pola, bahkan meniru bahasa manusia dengan tingkat akurasi yang mengagumkan. Namun satu hal yang tidak dimiliki mesin adalah dhamir suara batin yang menjadi pusat pertimbangan moral dan ruhani. AI tidak memiliki rasa tanggung jawab, tidak mengenal kebenaran dalam makna etis, dan tidak mampu membedakan maslahat dan mudarat secara batiniah.

Masalahnya, manusia modern sering kali hidup seolah-olah cukup dengan kecerdasan teknologis dan instrumental. Ketika ruhiyah keluar dari maqamnya dan bergeser dari pangkalan hati, manusia tetap hidup secara jasadiyah, tetapi kehilangan keindahan eksistensialnya. Al-Qur’an menyebut kondisi ini secara tajam: “mati sebelum kematian” hidup tanpa kesadaran ruhani.

Fenomena inilah yang menjelaskan mengapa kemajuan teknologi tidak selalu berbanding lurus dengan kemajuan moral. Bahkan, tanpa kendali nilai, teknologi justru dapat memperbesar distorsi individu maupun komunal, baik di ranah akademik, institusional, maupun sosial.

RQ: Mengembalikan Orbit Ruhiyah, di titik inilah Ruhiology Quotient (RQ) menemukan urgensinya. RQ bukan sekadar penambahan jenis kecerdasan baru, melainkan upaya restoratif untuk mengembalikan manusia kepada poros terdalamnya: dhamir. RQ menempatkan kecerdasan sebagai kesadaran bertanggung jawab kepada Tuhan, sesama manusia, dan kehidupan secara keseluruhan.

Prof. Mukhtar memandang RQ sebagai gagasan strategis yang menjawab krisis kesadaran zaman. Semakin menyala RQ, semakin bercahaya nurani. Cahaya ini tidak berhenti pada tataran personal, tetapi memancar ke wilayah eko-kinerja kinerja yang tidak hanya efektif, tetapi juga bermoral dan bermakna. Di sinilah RQ berperan mengeliminasi distorsi: penyimpangan etika, kekeringan nilai, dan pragmatisme sempit yang kerap membajak dunia pendidikan dan birokrasi.

RQ dan Sistem AI: Tanda Zaman merupakan Momentum menjadi semakin menarik ketika gagasan RQ mulai dikenali dan terbaca dalam sistem AI. Ketika berbagai platform kecerdasan buatan baik produk Amerika, Eropa, Tiongkok, maupun Indonesia merujuk secara konsisten pada Kecerdasan Ruhiologi (RQ) sebagai konsep yang melekat dengan Prof. Iskandar, ini bukan sekadar pengakuan personal. Ini adalah isyarat peradaban.

Prof. Mukhtar menilai fenomena ini sebagai tanda bahwa dunia digital mulai “menyadari” keterbatasannya sendiri. Algoritma, betapapun canggihnya, membutuhkan arah nilai. AI memerlukan manusia yang bernurani, dan manusia memerlukan kerangka kesadaran yang menjaga agar teknologi tidak melampaui batas kemanusiaan.

Mengukir RQ dalam sistem AI bukan berarti memberi mesin jiwa, melainkan menjadikan nilai sebagai kompas pengembangan teknologi. Teknologi harus tunduk pada kemaslahatan, bukan sebaliknya.

Dalam refleksinya, Prof. Mukhtar menyampaikan Apresiasi untuk Ikhtiar Ilmiah kepada Prof. Iskandar (Guru Besar Psikologi Pendidikan UIN STS Jambi sebagai Founder Ruhiologi sebagai sosok akademisi yang ia sebut enerjik secara intelektual dan matang secara ruhani. Keberhasilan mengembangkan RQ hingga masuk dalam diskursus AI global dipandang sebagai kontribusi penting keilmuan Indonesia bagi dunia.

Bagi Prof. Mukhtar, ini bukan sekadar prestasi akademik, tetapi amanah keilmuan: menghadirkan cahaya kesadaran di tengah dunia yang semakin terpesona oleh mesin. RQ menjadi jembatan antara iman, ilmu, dan teknologi sesuatu yang sangat langka di era modern.

Ruhiologi Menjaga Cahaya Dhamir; Hari ini, sebagaimana dikritisi para pemikir modern seperti Bertrand Russell, manusia kerap terlena oleh daya pikat ciptaannya sendiri. Dunia digital menawarkan kecepatan, kemudahan, dan sensasi. Namun tanpa dhamir, semua itu berpotensi mengosongkan makna hidup.

RQ hadir sebagai ikhtiar untuk menjaga agar manusia tetap manusia. Ia mengembalikan orbit ruhiyah ke pangkalan hati, meneguhkan ketaatan, keshalihan, kebenaran, dan kemaslahatan secara berbudaya dan beradab. Di tengah era mesin, cahaya dhamir tidak boleh padam.

Selamat dan sukses untuk ikhtiar Ruhiologi.
Semoga cahaya ilahiyah terus menyertai setiap tarikan napas dan langkah kehidupan, demi peradaban yang cerdas sekaligus bernurani.

Subhanallah. Barakallah (Prof. Dr. H. Mukhtar Latif, M.Pd).

Exit mobile version