Refleksi Pemikiran dan Pengalaman Prof. KH. Imam Suprayo (Tokoh Pendidikan Nasional). Oleh : Prof. Iskandar Nazari (Guru Besar Psikologi Pendidikan UIN Sutha Jambi _ Founder Ruhiologi)
Pendidikan abad 21 di Indonesia sedang mengalami paradoks yang menyakitkan. Di satu sisi, gedung-gedung kampus dan sekolah menjulang megah dengan fasilitas teknologi mutakhir hingga (Smart Tv) masuk kelas terkonek dengan internet. Namun di sisi lain, kita menyaksikan pemandangan batin yang luluh lantak:
-
Epidemi Mental: Tingginya tingkat stres, depresi, hingga kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa dan siswa.
-
Krisis Karakter: Fenomena bullying (perundungan) yang semakin brutal dan hilangnya rasa hormat.
-
Kekosongan Spiritual: Banyaknya mahasiswa yang meninggalkan shalat Subuh karena pola hidup yang tak teratur, serta tingginya angka buta aksara Al-Qur’an di lembaga pendidikan Islam sekalipun.
-
Luruhnya Integritas: Nilai-nilai kenabian Sidiq, Amanah, Tabligh, dan Fathanah mulai luntur, digantikan oleh budaya pragmatisme, kecurangan akademik, dan korupsi terselubung.
Mengapa ini terjadi? Karena pendidikan kita hanya fokus pada transfer of knowledge tapi abai pada transfer of value. Kita sibuk mengasah otak, namun membiarkan God Spot (titik fitrah ketuhanan) di dalam hati manusia tertutup oleh kabut keduniawian.
Ketika God Light (Cahaya Tuhan) padam, manusia kehilangan kompas. Mahasiswa menjadi pintar secara intelektual tetapi limbung secara emosional. Mereka memiliki alat komunikasi canggih, namun kehilangan komunikasi dengan Sang Pencipta.
“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku…'” (QS. Al-Isra’: 85)
Psikologi Ruhani menegaskan bahwa kesehatan mental tidak bisa diraih hanya melalui konseling klinis atau obat-obatan. Kesehatan mental sejati berakar pada hubungan ruhani yang sehat dengan Allah SWT.
Belajar dari pengalaman Prof. Imam Suprayogo selama 35 tahun memimpin perguruan tinggi (khususnya 16 tahun membangun STAIN menjadi UIN Malang), solusi atas keruwetan ini ternyata bukan pada penambahan SKS atau regulasi yang kaku, melainkan pada menghidupkan hati melalui Shalat Berjamaah.
Beliau membuktikan bahwa:
-
Shalat sebagai Transformasi: Menggerakkan shalat berjamaah tepat waktu adalah cara paling efektif untuk menyembuhkan penyakit batin (tamak, hasut, dengki).
-
Melawan Arus: Mengajak shalat di institusi pendidikan Islam ternyata tidak mudah dan sering dibantah. Namun, keistiqomahan pemimpin adalah kunci.
-
Buah Ruhani: Saat masjid dipenuhi warga kampus, atmosfer berubah. Kampus yang semula kecil tumbuh menjadi besar (UIN), suasana menjadi damai, rukun, dan penyimpangan seperti korupsi hilang dengan sendirinya.
Untuk memperbaiki bangsa, lembaga pendidikan harus kembali memegang teguh dua pusaka yang ditinggalkan Rasulullah SAW: Al-Qur’an dan Sunnah.
Strategi “Menyentuh Hati” ini diimplementasikan melalui:
-
Restorasi Shalat Khusyu’ (QS. Al-Baqarah: 45-46): Menjadikan shalat berjamaah sebagai denyut nadi institusi, bukan sekadar pelengkap jadwal.
-
Literasi Wahyu: Memberantas buta aksara Al-Qur’an sebagai syarat mutlak kesehatan ruhani.
-
Keteladanan Pemimpin: Pemimpin harus menjadi orang pertama yang berdiri di shaf terdepan saat adzan berkumandang.
Dunia ini milik Allah. Menyelesaikan problem pendidikan tanpa melibatkan Allah adalah kesia-siaan. Ketika kita memperbaiki hubungan dengan Pemilik Ruh, maka Dia akan memperbaiki kesehatan mental kita, karakter kita, dan kemajuan institusi kita.
“Hati yang hidup melalui shalat adalah mesin penggerak peradaban yang paling dahsyat. Mari hidupkan kembali cahaya itu.”
Salam Samudra Inspirasi Ruhiologi ‘SIR’

