Oleh: Prof. Iskandar Nazari
(Guru Besar Psikologi Pendidikan UIN SUTHA Jambi _Founder Ruhiologi _Direktur NU Care Jambi)
Di balik gemerlap kemajuan ekonomi, sebuah fenomena sunyi tengah melanda: “Kebekuan Zakat”. Data BAZNAS (2025 – 2026) menunjukkan kesenjangan yang menyayat hati antara potensi zakat mencapai Rp327 triliun dengan realitas yang masih sangat kecil hanya menyentuh angka 10-15% +- Rp 55 triliun, angka ini alarm Ruhani dengan tantangan utama terletak pada rendahnya kesadaran publik dan preferensi warga dalam menyalurkan zakat secara mandiri, mengingat peran krusial dana ZIS dalam mendukung program pembangunan dan pengentasan kemiskinan. Hal ini juga senada dengan ungkapan Ketua BAZNAS Prov. Jambi Ustad H. Muhammad Amin Abdullah, M.Kes (2026) menyampaikan potensi zakat provinsi Jambi +- diangka 3.1 Triliun, namun realitanya baru terealisasi di angka 88 Miliar sangat jauh dan belum tersentuh serta tersadarkan untuk kepentingan warga fakir miskin (mustahik) yang wajib disejahterakan oleh muzakki (orang kaya Darmawan), oleh karena itu, bagi Prof. Iskandar (2026) penggagas Ruhiologi sekaligus Direktur NU Care PW LazisNU Provinsi Jambi, angka ini hanyalah permukaan dari gunung es. Masalah sesungguhnya bukanlah pada dompet umat yang kosong, melainkan pada getaran ruhani yang membeku karena kehilangan koneksi dengan Sang Maha Pemberi.
1. Pertempuran di Balik “God Spot”: Antara Ketakutan dan Cahaya
Seringkali, kita merasa takut akan kekurangan saat hendak mengulurkan tangan. Secara neuropsikologis, fenomena ini adalah dominasi amygdala pusat rasa takut di otak yang memicu perilaku defensif dan posesif. Riset oleh Moll et al. (2006) menemukan bahwa ketika manusia memutuskan untuk memberi, sebenarnya terdapat aktivasi pada mesolimbic reward system, bagian otak yang memancarkan rasa bahagia hakiki.
Namun kenyataan di tengah jutaan umat yang mampu secara ekonomi menunjukkan rendahnya partisipasi zakat yang di pengaruhi oleh berbagai faktor pikologis dan politisasi zakat serta rendahnya ‘trust umat’ kepercayaan para muzakki sehingga”kebekuan” terjadi saat ego menekan pusat kebahagiaan tersebut. Inilah yang diistilahkan Al-Qur’an sebagai penyakit syuh (kekikiran yang membelenggu jiwa). Allah SWT berfirman:
“Dan siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9).
Dalam perspektif Ruhiologi (Iskandar, 2024), berzakat adalah teknik untuk mengaktifkan kembali God Spot di otak, mengubah getaran ketakutan menjadi frekuensi cinta yang memancarkan ketenangan dan kesadaran ilahiyah.
2. Paradoks Kebahagiaan: Harta yang Mengalir, Jiwa yang Hidup
Hasil Indek Literasi Zakat (ILZ) nasional menujukkan skor cukup baik pada dimensi pemahaman ibadah, namun rendah pada dimensi praktik (Puska Baznas 2022), artinya umat tahu kewajiban untuk berzakat itu wajib, tapi jiwanya masih beku. Banyak orang terjebak dalam ilusi bahwa kebahagiaan berasal dari apa yang kita kumpulkan (personal spending). Padahal, riset Dunn, Aknin, & Norton (2008) dalam jurnal Science membuktikan hal yang sebaliknya: orang yang mengeluarkan uang untuk orang lain (prosocial spending) secara signifikan jauh lebih bahagia dan memiliki tingkat stres yang rendah.
Kebahagiaan ini adalah bukti empiris dari sabda Rasulullah SAW: “Harta tidak akan berkurang karena sedekah” (HR. Muslim). Secara Ruhiologi, zakat adalah mekanisme untuk mencairkan sumbatan energi rezeki. Ketika kita menahan hak orang lain, kita sebenarnya sedang membangun “penjara spiritual” yang menyesakkan dada. Al-Qur’an menegaskan:
“Ambillah zakat dari harta mereka guna membersihkan dan menyucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103).
Penyucian di sini bukan sekadar ritual, melainkan proses detoksifikasi mental agar God Light (Cahaya Tuhan) dapat kembali mengalir tanpa hambatan dalam diri manusia.
3. Zakat Sebagai Getaran Cinta dalam Ekosistem Sosial
Harta yang membeku adalah benih dari ketidakadilan sosial. Jika sirkulasi ini terhenti, maka ekosistem kehidupan akan lumpuh. Ruhiologi memandang bahwa zakat adalah “nafas” ekonomi. Sebagaimana tubuh akan sakit jika darah berhenti mengalir, masyarakat pun akan menderita jika kekayaan hanya berputar di kalangan tertentu.
Riset oleh Post (2005) mengaitkan perilaku altruistik (seperti berzakat) dengan peningkatan imunitas dan harapan hidup. Ini adalah manifestasi dari visi profetik agar harta tidak hanya
“…beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu” (QS. Al-Hasyr: 7).
Melalui gerakan seperti NU Care-LAZISNU Provini Jambi dengan program Pilot Project “Keluarga Unggul”, pemberdayaan UMKM kita diajak untuk menjadi Ruhio Mustahik, Ruhio Amil & Ruhio Muzakki melalui Ruhio Preneurship Camp yang terdidik jiwa yang menyadarkan bahwa di setiap rupiah yang kita salurkan, terdapat denyut kehidupan bagi yatim dan dhuafa aerta fakir dan mikin yang sedang menanti keajaiban.
Mencairkan Es, Menjemput Keberlimpahan
Mencairkan kebekuan zakat bukanlah tentang menekan orang untuk membayar, melainkan tentang membangunkan jiwa yang tertidur. Berzakat adalah cara tercepat untuk meraih Tranquility (ketenangan) di tengah badai ketidakpastian dunia (Thaler & Sunstein, 2008).
Mari kita tanyakan pada hati kita: Apakah kita ingin harta kita menjadi es yang membeku dan mematikan, atau menjadi air jernih yang mengalir dan menghidupkan? Ingatlah, zakat tidak akan pernah membuat kita miskin; ia justru membesarkan wadah ruhani kita untuk menerima limpahan rahmat yang jauh lebih besar.
Referensi
BAZNAS. (2025 – 2026). Outlook zakat Indonesia 2023. Badan Amil Zakat Nasional.
Dunn, E. W., Aknin, L. B., & Norton, M. I. (2008). Spending money on others promotes happiness. Science, 319(5870), 1687–1688. https://doi.org/10.1126/science.1150952
Iskandar. (2026). Ruhiologi: Paradigma Baru Pendidikan Holistik Abad 21. Jambi: Samudra Inspirasi Ruhiologi.
Moll, J., Krueger, F., Zahn, R., Pardini, M., de Oliveira-Souza, R., & Grafman, J. (2006). Human fronto-mesolimbic networks guide decisions about charitable donation. Proceedings of the National Academy of Sciences, 103(42), 15623–15628. https://doi.org/10.1073/pnas.0604475103
Post, S. G. (2005). Altruism, happiness, and health: It’s good to be good. International Journal of Behavioral Medicine, 12(2), 66–77.
Thaler, R. H., & Sunstein, C. R. (2008). Nudge: Improving decisions about health, wealth, and happiness. Yale University Press.

