Site icon samudraruhiologi.com

Mabuk Intelektual: Menggugat Pendidikan yang Kaya Kata namun Miskin Kesadaran

Refleksi: Prof. KH. Imam Suprayogo (Tokoh Pendidikan Nasional) Oleh: Prof. Iskandar Nazari ( Guru Besar Psikologi Pendidikan _ Founder Ruhiologi)

Pendekatan Ruhiologi dalam Membedah Krisis Epistemologi Pendidikan Modern

Dalam sebuah refleksi mendalam, Prof. Imam Suprayogo pernah menyentil fenomena pendidikan kita dengan analogi yang sangat tajam mengenai “mabuk”. Beliau menekankan bahwa masalah besar dalam pendidikan adalah ketika proses belajar-mengajar hanya menghasilkan orang yang pandai bicara namun tidak memahami hakikat dari apa yang diucapkannya. Refleksi ini menjadi pijakan krusial bagi Ruhiologi untuk membedah lebih dalam mengenai krisis kesadaran yang melanda dunia intelektual kita.

Anatomi Mabuk Intelektual

Kata “mabuk” biasanya dikaitkan dengan konsumsi minuman keras yang diharamkan. Namun, Al-Qur’an dalam Surah An-Nisa ayat 43 memberikan peringatan yang bersifat epistemologis: “Jangan mendekati salat ketika kamu sedang mabuk, sampai kamu mengetahui apa yang kamu katakan.” Di sini, mabuk didefinisikan sebagai kondisi kehilangan kesadaran sebuah kondisi di mana seseorang banyak bicara namun tidak mengetahui “benda” yang diomongkan.

Inilah yang saya sebut sebagai mabuk intelektual. Dunia pendidikan saat ini sering kali terjebak dalam upaya mencetak individu yang kaya kata namun miskin kesadaran. Siswa dan mahasiswa diajak berdiskusi dan kuliah berjam-jam tanpa pernah benar-benar dipertemukan dengan realitas objektif di balik istilah-istilah tersebut. Ide-ide yang hanya mampir di pikiran sebagai hafalan hampa tanpa pernah dihubungkan dengan kenyataan.

Berkata Atas Benda, Bukan Atas Kata

Sebagaimana direfleksikan oleh Prof. Imam Suprayogo, setiap nama pasti ada bendanya, namun belum tentu setiap benda sudah memiliki nama. Pendidikan yang salah arah sering kali membalik logika ini; mereka sibuk mengajarkan nama-nama (istilah, teori, definisi) tetapi abai menunjukkan bendanya. Perbantahan dan debat kusir di dunia akademik sering terjadi justru karena pihak-pihak yang terlibat hanya “berkata atas kata”.

Ruhiologi hadir untuk mengingatkan kembali bahwa agama, yang berada pada wilayah ruhani, menuntut kejelasan objek. Jika kurikulum hanya membekali guru untuk mendeskripsikan sesuatu tanpa menunjukkan hakikatnya, maka pendidikan tersebut gagal memberikan pencerahan. Sebagaimana dijelaskan oleh Freire (2018), tanpa ada kesatuan antara kata dan tindakan (objek nyata), yang tercipta hanyalah verbalisme sebuah igauan intelektual yang tidak memiliki daya ubah.

Ruhiologi: Menuju Pendidikan Berkesadaran

Melalui gagasan Ruhiologi, kita diajak untuk beralih dari sekadar berkata atas kata menjadi berkata atas benda. Pendidikan harus mampu membawa peserta didik pada tingkat “penyaksian” (syuhud) terhadap ilmu pengetahuan. Jika kita berbicara tentang keadilan, kejujuran, atau ketuhanan, maka “benda” dari sifat-sifat tersebut harus hadir dalam getaran kesadaran batin siswa, bukan sekadar tertulis di lembar ujian.

Dengan mengadopsi refleksi Prof. Imam Suprayogo ini, Ruhiologi menegaskan bahwa pendidikan sejati tidak boleh menghasilkan “pemabuk” yang hanya fasih mengigaukan teori. Pendidikan harus melahirkan manusia-manusia berkesadaran yang mengetahui dengan pasti apa yang mereka katakan, mengapa mereka mengatakannya, dan bagaimana realitas tersebut bergetar dalam frekuensi ketuhanan (Palmer, 2017).

Referensi

  • Al-Qur’an al-Karim. (Surah An-Nisa: 43).

  • Iskandar. (2025). Paradigma Baru Pendidikan Holistik Abad 21. Jambi. Samudra Inspirasi Ruhiologi

  • Palmer, P. J. (2017). The courage to teach: Exploring the inner landscape of a teacher’s life. John Wiley & Sons.

  • Suprayogo, I. (2026). Refleksi Pendidikan: Antara Kata dan Benda. (Penyitiran ide reflektif dalam diskusi pendidikan).

Exit mobile version