Oleh: Prof. Iskandar Nazari
Founder Ruhiologi / Guru Besar Psikologi Pendidikan UIN STS Jambi.
Alam tidak pernah sekadar tentang materi yang kasat mata. Ia adalah cermin dari kedalaman atau kedangkalan spiritual manusia yang mendiaminya.
Sejak berabad-abad lalu, sebuah wilayah di hulu Provinsi Jambi dianugerahi julukan yang luar biasa indah: “Sepucuk Jambi Sembilan Lurah, Kerinci Sekepal Tanah Surga yang terdampak di Bumi.” Ungkapan ini bukan hiperbola sastra, melainkan sebuah pengakuan atas harmoni kosmis. Kerinci adalah simfoni sempurna antara megahnya gunung, tenangnya danau, hijaunya hamparan teh, dan sejuknya udara yang meresap hingga ke tulang. Ia diciptakan sebagai representasi “potongan surga” untuk mengingatkan manusia pada Sang Maha Pencipta.
Namun hari ini, jika kita menatap Kerinci dengan mata batin yang jernih, kita akan menangkap getaran yang berbeda. “Sekepal tanah surga” itu kini sedang menangis, terdampak oleh keserakahan di muka bumi. Banjir yang kian sering menyapa, longsor yang memutus urat nadi kehidupan, hingga degradasi hutan yang kian mengkhawatirkan adalah bukti nyata bahwa ada sesuatu yang retak dalam hubungan antara manusia dan alamnya.
Bagaimana Ruhiologi (Ilmu Ruhani/Kesadaran Internal) memandang fenomena ini?
God Spot dan Keunikan Antropologis Kerinci
Dalam kajian neurosains dan psikologi spiritual, manusia dibekali dengan jaringan saraf di otak yang merespons pengalaman transendental, yang sering disebut sebagai God Spot. Ketika God Spot ini terstimulasi oleh keindahan alam dan nilai ketuhanan, ia memancarkan cahaya kesadaran spiritual (God Light).
Masyarakat Kerinci, sebagai salah satu representasi Proto-Melayu (Melayu Tua), secara genetis-kultural memiliki kedekatan instingtif yang sangat kuat dengan alam. Keunikan antropologis mereka sangat langka di dunia: memiliki ratusan desa yang masing-masingnya memiliki ragam dialek bahasa yang berbeda, sebuah kekayaan linguistik unik yang menjadi tanda kebesaran Allah atas keragaman ciptaan-Nya.
Peradaban Melayu Tua di Kerinci mewarisi tatanan sosiologis yang sangat religius. Fondasi kehidupan mereka berpijak pada hukum adat yang luhur:
“Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah. Syarak mengato, adat memakai.”
Falsafah ini menegaskan bahwa setiap gerak sosial, pengelolaan hutan, dan interaksi manusia di Kerinci wajib dipandu oleh wahyu. Ini adalah bentuk konkret dari pengaktifan God Spot kolektif, di mana adat tunduk pada syariat untuk melahirkan harmoni kosmis.
Ayat Kauniyah: Rahasia Kayu Sigi dalam Surat Yasin
Kerinci bukan sekadar bentang alam biasa, ia adalah hamparan Ayat Kauniyah (tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta). Salah satu bukti otentik yang perlu digali dan dilestarikan adalah keberadaan Kayu Sigi / Kayu Hijau di pedalaman hutan Kerinci.
Fenomena teologis-ekologis ini selaras dengan firman Allah SWT dalam Surat Yasin ayat 80:
“Yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu.”
Dalam tafsir kontekstual, termasuk pandangan Prof. KH. Muhammad Yunus, ayat ini tidak sekadar bermakna harafiah tentang kayu bakar. Ini adalah perumpamaan energi, daya hidup, dan keseimbangan alamiah yang disimpan Allah di dalam kepekatan vegetasi hijau. Kayu Sigi di Kerinci adalah manifestasi nyata dari ayat ini sebuah pohon yang menyimpan potensi energi sekaligus menjaga keseimbangan hidrologis dan iklim tanah surga tersebut. Ketika pohon-pohon hijau ini ditebang secara liar, manusia sedang memadamkan “daya hidup” yang telah dirancang Allah untuk menjaga bumi mereka.
Eksploitasi Alam: Ketika SQ Absen dari Jiwa
Dalam perspektif Ruhiologi, kerusakan ekologis yang melanda Kerinci hari ini terjadi karena Kecerdasan Ruhani (Ruhiology Quotient / RQ) absen dalam naskah kehidupan modern. IQ (Kecerdasan Intelektual) dan EQ (Kecerdasan Emosional) manusia digunakan untuk merekayasa teknologi dan mengeruk keuntungan ekonomi, tetapi fungsi spiritualnya lumpuh.
Ketika fungsi Prefrontal Cortex manusia hanya didorong oleh hormon stres, kompetisi pasar, dan ketamakan materi, ketenangan (internal clarity) hilang. Manusia melupakan perintah pertama: Iqra’ bismi Rabbik Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu.
Membaca alam Kerinci haruslah dengan menyebut nama Tuhan, bukan dengan menyebut angka-angka nominal rupiah atau dolar hasil pembalakan liar. Ketika kalimat ketuhanan dan kesadaran spiritual (God Light) meredup dalam jiwa para pengambil kebijakan dan pelaku ekonomi, manusia mengalami dehumanisasi ekologis. Mereka tega merusak hulu, mengabaikan penderitaan masyarakat di hilir, dan menghancurkan warisan budaya Melayu Tua demi kepuasan ego jangka pendek yang semu.
Memulihkan “Tanah Surga” Melalui Gerakan Deep Learning
Menyelamatkan Kerinci tidak bisa lagi dilakukan dengan pendekatan kosmetik atau seremonial biasa. Kita harus melakukan restorasi batiniah secara total. Pendekatan Transintegratif dalam Ruhiologi menuntut para profesional, pemangku adat, dan pemerintah untuk mengintegrasikan penguasaan teknologi-manajemen dengan ketajaman nurani.
Kita harus menggalakkan kurikulum berbasis Deep Learning untuk generasi muda Kerinci:
-
Iqra’ Kauniyah: Mengajarkan anak-anak muda untuk membaca rahasia alam, mengkaji potensi lokal seperti Kayu Sigi, dan memahami bahwa menjaga hutan adalah bagian dari ibadah murni kepada Allah.
-
Re-actualization Adat-Syarak: Menghidupkan kembali roh “syarak mengato, adat memakai” dalam regulasi hukum daerah, sehingga perlindungan terhadap hutan adat memiliki sanksi moral dan spiritual yang ditakuti.
-
Internal Clarity: Melatih kesadaran internal melalui keheningan (Diksi Hening), agar ego manusia selesai, sehingga yang lahir dari tangannya adalah kebijakan-kebijakan yang merawat alam dan memanusiakan manusia.
Kembali ke Hening, Mengembalikan Cahaya Tuhan
Satu kepal tanah surga itu dititipkan di bumi Kerinci bukan untuk dieksploitasi hingga binasa oleh tangan-tangan yang lalai. Ia adalah laboratorium spiritual dunia, tempat bertemunya ratusan bahasa yang unik, peradaban proto-melayu yang tangguh, dan kekayaan ayat kauniyah yang terhampar nyata.
Mari kita jemput kembali keheningan batin kita. Mari kita hidupkan kembali God Spot dalam dada kita agar memancarkan God Light yang menerangi setiap kebijakan dan langkah kaki kita. Mundur satu langkah untuk merenung dalam keheningan, adalah lompatan besar untuk menyelamatkan masa depan Kerinci, masa depan peradaban kita.
Jambi, 14 Mei 2026

